Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Saat Anakku Harus Menunggu

DeynaKamis yang lalu, hari kedua anakku, Deyna masuk sekolah, seminggu libur lebaran. Tidak ada pelajaran, waktu yang ada dipakai untuk acara perlombaan, memperingati Agustusan. Setelah mengantar, aku bertanya pada salah seorang guru, pulangnya nanti sekitar jam berapa? “Jam 11-an, berlaku untuk semua kelas, termasuk untuk kelas 1 dan 2”, beliau menegaskan.  Aku pun mantap meninggalkan Deyna di sekolah, dan berjanji menjemputnya sebelum jam pulang.

Rencananya aku akan ke Toko Material, karena agendaku hari ini rapiin keramik yang pecah-pecah. Sayang tak ada satupun toko material buka, mungkin masih pada di kampong pegawainya. Karena masih punya cukup waktu, sesampainya dirumah kugunakan untuk kemballi menulis. Apalagi istriku menyarankan untuk menjemputnya jam 10-an lewat saja. Sekalian sama-sama, karena ia berniat membawa putri kembarku ke salon, merapikan rambutnya. Akupun setuju.

Baca lebih lanjut

Iklan

November 1, 2013 Posted by | Kekasihku | | Tinggalkan komentar

Belajar dari Ikan Mas

teknik-memancing-ikan-masGagal dengan budidaya lobster, yang tersisa hanya puluhan ikan mas. Semula ikan-ikan itu hanya kumanfaatkan sebagai pemakan jentik nyamuk di bak pembesaran lobster. Tak mungkin kubuang, apalagi ikan-ikan itu ternyata tumbuh, menyenangkan untuk dilihat. Kuputuskan untuk kupindah ke bak yang lebih besar, bak semen bersama beberapa lobster yang masih hidup. Agar gampang merawatnya, karena semua sudah jadi satu. Tak ada lagi bak-bak plastic yang berjajar dengan ukuran lobter yang berbeda-beda. Gemericik aliran air tak lagi terdengar di masing-masing bak tersebut. Aku telah bangkrut, namun ikan-ikan mas yang ada, menghibur juga untuk terus kupelihara.

 

Baca lebih lanjut

Agustus 22, 2013 Posted by | Renungan | 2 Komentar

Nenekku tidak Buta Huruf

 

nenekSewaktu aku masih kecil, aku pernah tinggal dengan nenekku di Solo beberapa bulan. Karena bapakku harus kembali bertugas sebagai tenaga honorer, akhirnya nenek kami bawa ke Sumatera Utara untuk tinggal bersama kami. Dalam banyak hal nenekku termasuk cerewet, tetapi aku suka denngan cerita-ceritanya, terutama pengalamannya selama hidup di tiga jaman; Belanda, Jepang, dan juga masa Indonesia Merdeka.

Karena bukan orang politik, banyak hal jujur yang selama ini tak kuperoleh dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Ini semua kusimpan dalam alam pengetahuanku, memperkaya hidupku. Membuat aku tak terlalu cepat menjatuhkan ‘vonis’ pada suatu keadaan hanya berdasarkan kata orang dan kurikulum pendidikan. Termasuk pada satu hal yang pada saat hidupnya disandang oleh nenekku. Predikat yang dilekatkan oleh para penyensus, pada nenekku, yaitu Buta Huruf.

Baca lebih lanjut

Juni 4, 2013 Posted by | Opini, Renungan | Tinggalkan komentar

Belajar dari pertanyaan putriku

deynaPutri sulungku sudah mulai bisa membaca. Dimanapun ia berusaha untuk mengeja apapun.  Banyak kosa kata baru ia temukan. Ini baik bagi perkembangan pengetahuannya. Ketika ia menemukan hal yang tidak ia mengerti, ia selalu bertanya padaku atau mamanya. Dari sekian banyak hal yang berhasil ia baca, sebagian besar diantaranya adalah apa yang dia tidak mengerti. Karena nyaris selalu ada pertanyaan setelahnya, …itu artinya apa? Begitu biasanya putriku bertanya. Dimataku dia semakin cerewet saja, dan selalu ingin tahu.

Ada yang bisa kami jelaskan, namun ternyata ada juga banyak hal yang kami mengerti, tetapi sulit sekali bagi kami untuk menjelaskan. Meski yang putriku tanyakan adalah hal—hal yang sangat sederhana . Kadang juga meskipun kami bisa menjelaskan, putriku memahaminya berbeda. Seperti pada saat kami pulang beberapa waktu yang lalu, dia berhasil mengeja kata ‘anti rayap’ pada sebuah tiang listrik yang kami lewati. Kemudian dia bertanya ; rayap itu apa? Istriku menjelaskan; rayap itu binatang yang suka memakan kayu. Mendengar itu anakku pun terdiam. Tak ada lagi pertanyaan lanjutan.

Baca lebih lanjut

Juni 3, 2013 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Mengembalikan gairah menulis

menulisSetahun lebih blog ini tak ter-up date, rasanya baru beberapa hari yang lalu aku tidak isi, tetapi ternyata rasanya tidak sama dengan kenyataannya. Setahun, bukan waktu yang singkat. Aku sendiri tak tahu apa yang sudah kuperbuat sehingga begitu lama tak menyempatkan diri untuk barang tiga alinea mengisi blog ini. Sementara, setelah tersadar, seperti biasa tak mudah membangkitkan gairah.

Sebagai pengisi kekosongan, ku-up load beberapa tulisan lama ke FB, hasilnya lumayan, banyak respon di sana. Seperti tersentuh, perlahan, gairah menulis itu terdongkrak, naik meski belum ke performa seperti biasa. Tetapi cukup lumayanlah untuk memulai. SEpulang kerja, beberapa tulisan singkat berhasil kubuat, mungkin nanti juga akan ku up-load untuk blog ini.

Menemukan gairah, ternyata banyak cara, salah satunya seperti apa yang kulakukan. Semoga ini bisa kembali menjadi awal, dan mudah-mudahan menjadi awal yang jauh lebih baik dari masa-masa sebelumnya. Meski hingga hari ini, masalah terbesarku pada persoalan tulis menulis adalah ; konsistensi. Siapa yang bisa membantu?

Mei 20, 2013 Posted by | Pencerahan | , , , | 1 Komentar

Tawa Istriku

Saat sedang mandi, aku mendengar istriku tertawa lepas. Ia begitu menikmati tawanya, entah sedang bahagia atau sedang membuat dirinya bahagia, aku tak terlalu tahu.  Yang aku tahu dia memang sedang nonton lawakan di TV. Tawa lepasnya membuat tubuhku dialiri oleh kesadaran baru, kesadaran akan kehidupan kami saat ini.

Tawa lepas istriku, sederhana, tetapi kali ini tawa itu berarti bagiku. Aku tidak sedang ingin sentimental. Tetapi sungguh sore ini, Jumat 8 Maret 2012 tawa istriku membenamkan aku pada sebuah keinginan. Aku ingin terus mendengar tawa itu, lepas dan merdeka. Tak ada beban yang mengganjal kerongkongannya. Tak ada nafas yang membuatnya tersengal. Ketulusannya tertawa menggugah aku pun menikmati kebahagiaan yang sama. Kelucuan yang ia tonton, tak benar-benar membuat tawanya merdeka. Tetapi jiwanya yang merdeka, itulah yang membuatnya bisa melakukannya.

Baca lebih lanjut

Maret 9, 2012 Posted by | Kekasihku | 3 Komentar

BERPUTAR PADA SUMBU

Sebenarnya saya sudah agak lama ingin menuliskan hal ini, tetapi setiap kali akan memulai, saya bingung dari mana memulainya. Sebab ini adalah hal abstrak, dan saya mesti menjabarkannya ke dalam kalimat yang saya sendiripun pada akhirnya mengerti pokok pikiran utamanya. Beberapa kali saya gagal menterjemahkan apa yang bergelayut dalam kepala itu menjadi rangkaian kalimat yang mudah dipahami. Kali ini, meski saya tak yakin berhasil, tetapi perlahan saya kembali coba.

Baca lebih lanjut

Februari 23, 2012 Posted by | Uncategorized | 4 Komentar

Terima Kasih Papa !

Sudah menjadi kebiasaan Delia salah satu dari putri kembarku saat sakit, cengeng dan selalu merengek, bahkan untuk makan sulit sekali. Memang selalu ada yang diminta untuk dimakan, tetapi tak ada yang benar-benar ia makan. Seperti halnya kali ini, karena berbagai pertimbangan, aku bolos ngajar dan memilih nunngguin anak-anakku, yang kali ini ketiga-tiganya sakit. Sedari pagi memang aku sudah melayani mereka dengan memenuhi berbagai permintaan, tetapi tetap saja ada yang kurang dimata-anak-anakku. Apalagi saat-saat seperti ini, mereka berebut mendapat perhatian dariku, dan tidak bersedia dengan orang lain. Namun dari ketiganya, Delia memang yang paling rewel. Ketika saudaranya sudah bersedia untuk makan, dia terus saja minta ini dan itu, dan aku juga tahu ujung-ujungnya tak ada yang ia makan.

Baca lebih lanjut

Februari 9, 2012 Posted by | Uncategorized | 2 Komentar

Resolusi 2012

Saya sudah lama ingin keluar dari rutinitas, dan menginginkan memiliki banyak waktu bagi keluarga, diri sendiri dan kegiatan social.  Itu semua dapat tercapai ketika dalam banyak hal, saya sudah bisa memilih, dan melakukan aktifitas apapun sebagai pilihan. Sebab sepertinya hal itu memiliki nilai ‘kenikmatan’ tersendiri, misalnya menjadi guru adalah pilihan, dan bukan itu adalah satu-satunya profesi yang harus saya jalani, dan oleh karena keberadaannya saya bisa makan. Sehingga bagi saya menjadi guru bukanlah pilihan tetapi sesuatu yang harus saya jalani. Walaupun dalam banyak hal ini memang pilihan dari karier professional saya. Mungkin ini agak sulit untuk dipahami, tetapi ada satu penjelasan saya yang sederhana begini ; rasanya akan beda ketika saya memilih untuk naik sepeda, meski sesungguhnya saya bisa memilih naik motor atau mobil, daripada naik sepeda adalah satu-satunya kendaraan yang bisa saya naiki karena hanya itu yang saya punya. Artinya naik sepeda bukanlah pilihan tetapi adalah keharusan.

Baca lebih lanjut

Februari 2, 2012 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

Pesona Cinta

Cinta itu tentang perasaan, bukan logika, ekonomi ataupun matematika. Sebab keberadaannya sulit diterima akal, dihitung untung rugi atau menggambarkan keadaan yang serba pasti, meski hitung-hitunggannya harusnya pasti. Namun yang pasti, memiliki perasaan cinta kita tak akan pernah rugi, walau jadi patah hati dan rasanya mau mati.

Pesona Cinta mampu melambungkan kita pada banyak mimpi, namun paradoknya membuat kita juga dalam waktu yang bersamaan menjadi memiliki banyak kekuatiran. Serba tidak pasti, sehingga membuat kita berada pada motivasi tertinggi. Pekerjaan berat menjadi ringan, karena factor X yang sangat sulit dimengerti. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya hanya kala mendengar nama seseorang disebutkan, jika dideteksi jelas ini bukan karena darah tinggi. Ada pesona yang tidak biasa, saat tanpa sengaja kita menatapnya. Larut dan ingin terus berlama-lama dalam kubangan rasa yang tak biasa itu.

Baca lebih lanjut

Oktober 21, 2011 Posted by | Kekasihku, Pencerahan, Renungan | , | 1 Komentar