Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Evaluasi Akhir Tahun 2016

akhir-2015-2016Menjelang akhir tahun, pertanyaannya sederhana, apa pencapaian gemilang tahun ini? Dan apa resolusi di tahun yang akan datang?

Aku masih belum menerbitkan buku, masih belum menjadi orang yang merdeka secara financial, belum memiliki quality time yang baik bagi keluarga, apalagi terhadap Tuhan. Antara Mimpi ideologis, financial dan spiritual belum berbanding lurus dengan realitas. Pertanyaannya, mengapa? Apakah aku masih tidak focus, kurang tekun atau apa?

Padahal kemampuan menulisku, secara pribadi  harus kuakui, sudah jauh lebih baik. Untuk menuliskan topik-topik terterntu hingga selesai, tidak lagi memerlukan waktu  beberapa hari. Duduk di depan laptop, tulisan yang kuinginkan mengalir begitu saja. Ini terjadi karena proses latihan dari kedisiplinanku menyelesaikan tulisan dalam tiga paragraph.  Ternyata modal itu belum cukup membuatku menghasilkan tulisan yang dapat kubukukan. Usaha sudah kumulai, satu kumpulan tulisan sudah kuedit dan kukompile menjadi satu buku, meski belum  layak untuk diterbitkan, itu kata penerbit. Tetapi aku masih terhibur, kompasiana puluhan kali menjadikan tulisanku sebagai artikel pilihan, bahkan beberapa diantaranya head line. Target Kompasiana-ku juga terlampaui, setiap tulisanku kini dikunjungi oleh lebih dari seratus orang.

Baca lebih lanjut

Desember 27, 2016 Posted by | Pencerahan, Renungan | , | Tinggalkan komentar

Ketika Aku Bertanya; Tuhan Engkau Ada dimana?

mencari-tuhan

Aku sudah merebahkan tubuhku, entah mengapa ada dorongan yang begitu kuat untuk menengadah, mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuhan. Karena aku tahu Ia tidak pernah menolak kapanpun aku punya waktu untuk menemuiNya. Sekedar untuk bertanya, protes, mengeluh atau bahkan merajuk. Mungkin juga sesekali berterimakasih.

Hari-hari ini, dunia sedang menunjukkan ketidakadilannya. Suasana, dari lorong sempit dekat rumah hingga dunia yang maha lebar menunjukkan suhu diatas rata-rata. Satu sama lain, berkutat pada alam pikirannya sendiri. Mencurigai siapapun yang memiliki cara berprilaku dan jalan pikiran yang berbeda. Tatap nanar, menjadi hal biasa dalam dialog-dialog yang semestinya penuh senyum dan canda. Karena berbeda maka saya dan Anda bersama, sepertinya menjadi narasi besar dari sebuah wacana besar belaka. Selayaknyakah, kita kembali bersembunyi di balik tempurung kita sendiri-sendiri?

Belahan lain dari dunia yang kini kudiami, banyak diantara penghuninya sedang merayakan kebencian. Pesta pora atas kematian, menista setiap detak nafas kehidupan. Mempersonifikasi ambisi pribadi menjadi kemauan ilahi. Teknologi membuat apa yang jauh, tampak nyata di depan mata.  Herannya, aku tak melihat Tuhan di sana.

Kuperjelas; dimana Engkau ya Tuhan ketika banyak penduduk Rohingya terlunta-lunta, gadis-gadis Yazidi menangis di lorong gelap yang mengerikan, anak-anak Palestina yang menjadi korban ambisi orang-orang tua diseputar mereka, penduduk Syria dan Irak yang tak berdaya dan bingung, siapa yang sebenarnya membela dan berada di pihak mereka, dan dimana Engkau ketika adik kecil  kami Intan Olivia harus menjadi korban dari sebuah keyakinan? Sekali lagi dimana Engkau Tuhan? Karena nyata di depan mata, mereka semua yang tak berdaya, sia-sia meregang nyawa. Engkau tega, dan tidak hadir di sana! Masihkah Engkau berdiam diri di singgasana kerajaanMu? Tanpa sedikitpun bersedia berbagi keadilan?

Aku terdiam, ketika perlahan nuraniku berbisik, menahan geram kudengarkan baik-baik. “Kenapa kau bertanya dimana Aku? Dan bukan justru bertanya dimana kamu, ketika semua itu terjadi?” Saat aku menggugat keberadaanNya, Tuhan justru menunjukkan eksistensi keberadaanku, bukan keberadaanNya. Aku, manusia adalah mahluk yang diperlengkapi dengan hati dan pikiran, serta tanggungjawab. Tanggungjawab itu adalah menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah hidupku. JIka hari-hari ini aku begitu sulit menemukan Tuhan, barangkali ada begitu banyak aku-aku lain yang tidak lagi setia menjalani tanggungjawab itu.

TUhan, kuharap Engkau masih bersamaku!@

November 23, 2016 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

Tahun Baru Tanpa Resolusi

tanpa resolusi2016 sudah kujalani beberapa hari, aku belum juga menuliskan sesuatu sebagai harapan atau fokusku tahun ini. Beberapa bacaan motivasi dan clip atau acara televise telah kubaca dan tonton, tapi itu belum cukup ‘mendongkrak’ tubuhku untuk duduk di depan lap top untuk menulis. Menulis apa saja yang terkait dengan mimpi-mimpiku di tahun ini.

Barangkali aku akan menjalani tahun ini tanpa resolusi, meski tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi oleh banyak mimpi, tidak lagi kukutehui sejauh mana pencapaianku. Aku hanya tahu, aku masih guru, berangkat pagi-pulang petang, penghasilan kurang. Masih jauh dari apa yang kuimpikan; bebas secara financial. Guru masih pekerjaan utamaku, bukan panggilan hidupku, bukan pilihan. Padahal aku menginginkan menjadi guru adalah pilihan, karena kebebasan financial yang sudah kualami. Hidup dari royalty menulis. Tampaknya itu masih jauh.

Baca lebih lanjut

Januari 4, 2016 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

Berani Mengambil Resiko

bisnis-pasti-ada-resikoApakah aku sudah berada di zona nyaman, sehingga enggan untuk beranjak? Atau aku adalah pribadi yang memang tidak berani mengambil resiko? Ini sebagian dari banyak pertanyaan yang mulai menggelayuti pikiranku beberapa hari ini, setelah membaca tulisan Dio Martin di majalah Inspirasi. Padahal berani mengambil resiko, adalah syarat bagi seseorang untuk berhasil.

Semasa di Sonomartani, aku ini seorang pemimpi. Mimpiku barangkali tidak realistis, karena aku membayangkan diriku menjadi seseorang yang jauh dari apa yang bisa digapai oleh diriku secara realistis. Sekolah di SPMA dan menjadi seorang Insinyur pertanian. Untuk menjadi insinyur, aku tidak memiliki akses apapun, kecuali tahu bahwa itu bisa ditempuh dengan cara kuliah di perguruan tinggi, sebatas itu. Sekolah di SPMA yang setingkat dengan SMA pun, tidak banyak informasi untuk itu apalagi PT. Tak habis jari dari satu tangan untuk menghitung orang-orang di sekelilingku yang kukenal melanjutkan ke jenjang SMA. Itu pun mereka harus menempuh jarak 40 KM lebih, yang sulit dijangkau untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Tetapi dalam setiap anganku, tak kulihat bayangan kesulitan itu, aku hanya melihat diriku sebagai seorang Insinyur Pertanian.

Baca lebih lanjut

Desember 22, 2015 Posted by | Renungan | | Tinggalkan komentar

Untuk Ibuku

ibuKala mendengar, ia sakit, aku hanya bisa termangu. Menundukkan kepala, memohon belas kasihNya, memberi ibuku kesehatan.   Aku tidak dapat berbuat lebih. Padahal barangkali, dalam sakitnya ada rindunya yang tertahan untukku. Tetapi kini aku adalah bagian dari keluarga yang berbeda, ada tanggungjawab yang kuemban, seperti apa yang telah ia ajarkan padaku. Membahagiakannya dengan memberikan yang terbaik untuk cucu-cucunya. Sehingga aku tidak dapat setiap waktu menemaninya. Bahkan di saat-saat ia membutuhkan aku sekalipun.

Ibu pernah mengajarkan bahwa prioritas tannggungjawab hidup itu bergulir. Kakek membesarkan ibu, ibu membesarkan aku, dan aku membesarkan anak-anakku. Karena apa yang ia yakini itulah, ibu selalu menyembunyikan sakit dan kegelisahannya. Ia tidak ingin sama sekali membebani anak-anaknya. Selain itu ibu juga tahu bagaimana kehidupanku sehari-hari. Jalanku belum sepenuhnya tegak. Sedikit saja beban itu bertambah, bukan tidak mungkin aku ambruk. Meski kelihatannya kokoh.

Ibu, kau sangat mengerti aku anakmu. Karena pengertianmu itu, dalam sakitmu kinipun engkau masih membisu. Seolah tak terjadi sesuatu padamu. Padahal aku juga tahu, ada begitu banyak hal yang engkau tahan. Tetapi engkau tetap melebarkan senyumanmu, untukku dan keluargaku, cucu-cucumu.

Butiran obat itu sebenarnya bukan penyembuh sakitmu, tapi tawa kami, anak dan cucumu. Masih mampukah engkau dengar tawa cucumu? Putri-putriku, kini mereka belajar menyebut namamu dalam doa mereka. Ucapannya memang tidak terlalu benar, tetapi aku yakin Tuhan tahu maksud meraka. Aku juga yakin ibu merasakan getarannya. Hanya itu yang mampu kami kirim dari kejauhan. Samar, namun kami berusaha membungkusnya dalam ketulusan. Itulah kekayaan yang kami punya, semoga dapat membuatmu kembali tegar seperti sedia kala. Agar engkau masih dapat membuat bapakku tersenyum. Cepat sembuh ibu !

November 22, 2014 Posted by | Renungan | Tinggalkan komentar

Refleksi Iman ; Resolusi 2014

doaUsaha sudah dilakukan, hasil  terserah Tuhan. Tugasku, hanya melakukan yang terbaik. Hanya itu. Sederhana dan simple. 2014, adalah tahun yang akan kugunakan segenap energy untuk menulis. Menghasilkan karya, berorientasi pada apa yang masyarakat butuhkan. Atau mengedukasi, hal-hal apa yang sebenarnya mereka butuh, tapi mereka tak menyadarinya. Namun agar empiris, semua harus berdasar pada’ apa yang ada’ padaku.

Mimpiku jelas, merdeka secara financial. Bukan untukku semata, tetapi bagi anakku, istriku, keluargaku, dan orang-orang yang barangkali membutuhkan aku. Aku punya waktu, saat anak dan istriku memerlukan. Punya sedikit rejeki untuk menyenangkan keluarga besarku, meski hanya makan di mall. Atau membangun kebersamaan. Atau mungkin aku bisa membelikan obat, saat orang tuaku sakit. Aku tak perlu mengernyitkan dahi untuk perkara-perkara itu. Bagi orang-orang disekelilingku, aku bisa berbagi kasih. Apa saja yang aku bisa, karena aku punya kesempatan dan waktunya. Itu mimpiku.

Baca lebih lanjut

Desember 27, 2013 Posted by | Renungan | , | Tinggalkan komentar

Belajar dari Ikan Mas

teknik-memancing-ikan-masGagal dengan budidaya lobster, yang tersisa hanya puluhan ikan mas. Semula ikan-ikan itu hanya kumanfaatkan sebagai pemakan jentik nyamuk di bak pembesaran lobster. Tak mungkin kubuang, apalagi ikan-ikan itu ternyata tumbuh, menyenangkan untuk dilihat. Kuputuskan untuk kupindah ke bak yang lebih besar, bak semen bersama beberapa lobster yang masih hidup. Agar gampang merawatnya, karena semua sudah jadi satu. Tak ada lagi bak-bak plastic yang berjajar dengan ukuran lobter yang berbeda-beda. Gemericik aliran air tak lagi terdengar di masing-masing bak tersebut. Aku telah bangkrut, namun ikan-ikan mas yang ada, menghibur juga untuk terus kupelihara.

 

Baca lebih lanjut

Agustus 22, 2013 Posted by | Renungan | 2 Komentar

Nenekku tidak Buta Huruf

 

nenekSewaktu aku masih kecil, aku pernah tinggal dengan nenekku di Solo beberapa bulan. Karena bapakku harus kembali bertugas sebagai tenaga honorer, akhirnya nenek kami bawa ke Sumatera Utara untuk tinggal bersama kami. Dalam banyak hal nenekku termasuk cerewet, tetapi aku suka denngan cerita-ceritanya, terutama pengalamannya selama hidup di tiga jaman; Belanda, Jepang, dan juga masa Indonesia Merdeka.

Karena bukan orang politik, banyak hal jujur yang selama ini tak kuperoleh dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Ini semua kusimpan dalam alam pengetahuanku, memperkaya hidupku. Membuat aku tak terlalu cepat menjatuhkan ‘vonis’ pada suatu keadaan hanya berdasarkan kata orang dan kurikulum pendidikan. Termasuk pada satu hal yang pada saat hidupnya disandang oleh nenekku. Predikat yang dilekatkan oleh para penyensus, pada nenekku, yaitu Buta Huruf.

Baca lebih lanjut

Juni 4, 2013 Posted by | Opini, Renungan | Tinggalkan komentar

Resolusi 2012

Saya sudah lama ingin keluar dari rutinitas, dan menginginkan memiliki banyak waktu bagi keluarga, diri sendiri dan kegiatan social.  Itu semua dapat tercapai ketika dalam banyak hal, saya sudah bisa memilih, dan melakukan aktifitas apapun sebagai pilihan. Sebab sepertinya hal itu memiliki nilai ‘kenikmatan’ tersendiri, misalnya menjadi guru adalah pilihan, dan bukan itu adalah satu-satunya profesi yang harus saya jalani, dan oleh karena keberadaannya saya bisa makan. Sehingga bagi saya menjadi guru bukanlah pilihan tetapi sesuatu yang harus saya jalani. Walaupun dalam banyak hal ini memang pilihan dari karier professional saya. Mungkin ini agak sulit untuk dipahami, tetapi ada satu penjelasan saya yang sederhana begini ; rasanya akan beda ketika saya memilih untuk naik sepeda, meski sesungguhnya saya bisa memilih naik motor atau mobil, daripada naik sepeda adalah satu-satunya kendaraan yang bisa saya naiki karena hanya itu yang saya punya. Artinya naik sepeda bukanlah pilihan tetapi adalah keharusan.

Baca lebih lanjut

Februari 2, 2012 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

Pesona Cinta

Cinta itu tentang perasaan, bukan logika, ekonomi ataupun matematika. Sebab keberadaannya sulit diterima akal, dihitung untung rugi atau menggambarkan keadaan yang serba pasti, meski hitung-hitunggannya harusnya pasti. Namun yang pasti, memiliki perasaan cinta kita tak akan pernah rugi, walau jadi patah hati dan rasanya mau mati.

Pesona Cinta mampu melambungkan kita pada banyak mimpi, namun paradoknya membuat kita juga dalam waktu yang bersamaan menjadi memiliki banyak kekuatiran. Serba tidak pasti, sehingga membuat kita berada pada motivasi tertinggi. Pekerjaan berat menjadi ringan, karena factor X yang sangat sulit dimengerti. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya hanya kala mendengar nama seseorang disebutkan, jika dideteksi jelas ini bukan karena darah tinggi. Ada pesona yang tidak biasa, saat tanpa sengaja kita menatapnya. Larut dan ingin terus berlama-lama dalam kubangan rasa yang tak biasa itu.

Baca lebih lanjut

Oktober 21, 2011 Posted by | Kekasihku, Pencerahan, Renungan | , | 1 Komentar