Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Nenekku tidak Buta Huruf

 

nenekSewaktu aku masih kecil, aku pernah tinggal dengan nenekku di Solo beberapa bulan. Karena bapakku harus kembali bertugas sebagai tenaga honorer, akhirnya nenek kami bawa ke Sumatera Utara untuk tinggal bersama kami. Dalam banyak hal nenekku termasuk cerewet, tetapi aku suka denngan cerita-ceritanya, terutama pengalamannya selama hidup di tiga jaman; Belanda, Jepang, dan juga masa Indonesia Merdeka.

Karena bukan orang politik, banyak hal jujur yang selama ini tak kuperoleh dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Ini semua kusimpan dalam alam pengetahuanku, memperkaya hidupku. Membuat aku tak terlalu cepat menjatuhkan ‘vonis’ pada suatu keadaan hanya berdasarkan kata orang dan kurikulum pendidikan. Termasuk pada satu hal yang pada saat hidupnya disandang oleh nenekku. Predikat yang dilekatkan oleh para penyensus, pada nenekku, yaitu Buta Huruf.

Baca lebih lanjut

Juni 4, 2013 Posted by | Opini, Renungan | Tinggalkan komentar

APAKAH KELUARGA MENJADI FOKUS KARIER ANDA?

Saat membicarakan karier, apa yang Anda pikirkan tentang keluarga? Dimana posisinya, bagaimana perannya? Bagi saya ini penting untuk kembali dibicarakan, sebagai guru di kota besar, saya banyak menemui paradok-paradok dalam dunia kerja. Baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh para siswa yang saya ajar. Dari pengalaman ini saya bahkan berani menyimpulkan bahwa persoalan di negeri ini bisa diurai dari lingkup terkecilnya; keluarga.

 

Di Jakarta, banyak sekali pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah matahari lama terbenam. Rumah yang idealnya menjadi tempat bagi keluarga untuk membangun sosialisasi hanya menjadi tempat untuk tidur, persinggahan sementara. Interaksi keluarga tersambung melalui fasilitas teknologi, dan itupun sebatas mengerti di mana posisi masing-masing, seringkali tak lebih. Tak ada dialog antara anak dan orang tua bahkan kelelahan menjadi pembuka pembicaraan suami dan isteri. Sabtu dan Minggu menjadi waktu yang diagendakan menjadi waktu keluarga, itupun masih dengan catatan tak ada tugas yang harus diselesaikan lagi.

Baca lebih lanjut

Desember 2, 2010 Posted by | Opini, Renungan | , | Tinggalkan komentar

Indonesia berawal dari Mimpi

Pidato Sumpah Pemuda

Slamat pagi …..

Hari ini, merupakan hari bersejarah dalam perjalanan negeri ini menjadi sebuah bangsa. Suatu gagasan besar tentang sebuah peradaban yang bernama Indonesia. Berawal dari keberanian bermimpi anak-anak negeri Jawa, Ambon, Sulawesi, Sumatera dan lainnya akan terbentuknya sebuah bangsa. Bangsa yang mereka sendiripun belum pernah melihat sebelumnya, sebuah bangsa yang menjadi tempat bagi siapapun  yang sepakat menjadi bagiannya, tak peduli apa pun yang menjadi latar belakang budayanya.

Keberanian mimpi mereka tidak berhenti sampai di sana, mereka juga memimpikan entitas budaya yang menjadi symbol keberadaan bangsa tersebut, dan mereka sepakat salah satunya adalah dengan menciptakan bahasa Indonesia. Sebagai symbol budaya baru bahasa ini diciptakan, diserap dari berbagai budaya, dilebur menjadi identitas pemersatu. Bukan hal mudah menciptakan sebuah bahasa baru, terlebih mereka adalah anak-anak muda yang usianya baru menginjak dua puluh tahun. Terlebih ini terjadi di abad 20 yang segalanya sudah relative mapan, namun itu yang terjadi. Mereka tidak bergantung pada warisan.

Keberaniaan mereka bermimpi menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya, Indonesia yang merupakan mimpi menjadi kenyataan pada 17 Agustus 1945. Momentum 28 Oktober 1928 tidak hanya dikenang, namun merupakan roh bagi kelahiran sebuah negeri yang bernama Indonesia. Indonesia bukan hadiah, bukan kebetulan namun hasil upaya serius segala komponen untuk mewujudkan apa yang pernah mereka impikan.

Hari ini mimpi Indonesia itu kembali kita peringati, kita kenang dan kita maknai. Pertanyaannya adalah apakah mimpi besar tentang Indonesia itu juga menjadi bagian dari apa yang kita impikan? Sebagai sebuah peradaban baru bagi beragam bangsa, bermartabat dalam percaturan internasional dengan satu bentuk identitas yang khas, Indonesia. Atau justru kita ingin membuang jauh-jauh mimpi itu, karena kita adalah pengecut yang takut pada mimpi-mimpi mereka, terlalu berat untuk diwujudkan. Bukankah menjadi bagian dari peradaban yang sudah mapan itu lebih gampanng, ketimbang membangun peradaban yang bernama Indonesia yang masih dalam tahap percobaan? Dan kita pun lebih suka menjadi pengekor dari apa yang telah menjadi identitas bangsa lain. Itu adalah pilihan!! Apa yang menjadi pilihan kita hari ini menjadi bagian dari bagaimana sejarah Indonesia kelak.

Hari ini kita adalah bagian dari …., sekolah yang menjatuhkan pilihan pada upaya melanjutkan dan mewujudkan mimpi tentang Indonesia. Membangun kebanggaan pada identitas Indonesia yang meski dalam banyak hal belum terwujud, namun justru disitulah letak sisi pentingnya. Siapapun kita berpeluang berkontribusi bagi penciptaan nilai-nilai ke Indonesiaan. Diawali dari hal-hal yang memang mungkin dapat kita lakukan, hal itu akan membawa kita pada pengenalan yang lebih mendalam tentang negeri ini. Dan pada gilirannya nanti paripurnalah kecintaan kita pada negeri seribu pulau ini.

Tulisan ini adalah teks pidato yang kubuat untuk memperingati Sumpah Pemuda yang lalu.


November 2, 2010 Posted by | Opini, Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

MENTALITAS DAUN DALAM REALITAS PLASTIK

Berawal dari sebuah upaya memaknai kembali gaung modernitas yang belakangan terlanjur dicap sebagai milik manusia zaman ini. Aku jadi teringat ungkapannya Tukul tentang istilah Ndeso dan Kota, yang sering ia ucapkan “dasar ndeso katrok” dan “rejeki kota”. Ada makna tersirat yang hendak dikatakan dari dua istilah itu yang masing-masing memiliki dan mewakili deskripsinya sendiri. Dalam penafsiran saya, kota mewakili segala sesuatu yang berkaitan dengan modernitas sementara ndeso dengan segala bentuk keluguan dan ketertinggalannya.

Salah satu ciri manusia modern menurut Alex Inkeles adalah memiliki kesediaan untuk menerima pengalaman baru dan keterbukaannya bagi pembaharuan dan perubahan. Persoalan kemudian muncul, tatkala modernitas coba ditelusuri melalui mentalitas. Benarkah mereka yang secara geografis berada di kota sudah mewakili kota dalam pemahaman di atas? Atau justru Ndeso lebih mengggambarkan realitas kota yang sesungguhnya?

Dalam suatu kesempatan di kelas saya membuat ilustrasi sederhana untuk menjelaskan realitas ini. Saya mengatakan bahwa sebenarnya kita masih memiliki mentalitas daun padahal realitas yang kita gunakan adalah plastik. Di sini terjadi split antara konsep berpikir dan realitas di lapangan.

Mari kita sama-sama telusuri, bagaimanakah kita memperlakukan sampah di rumah? Kumpulkan jadi satu tak peduli sampah itu dalam kategori apa, buang ke tempatnya (kalau ada ), biasanya pemulung datang dan sampah itu kemudian berserakan, jika pengumpul dalam beberapa hari tidak datang solusi sederhanaya adalah bakar, selesai! Dan seandainyapun sampah itu sampai ke pembuangan akhirnya juga dibakar setelah pemulung tak lagi melihat nilainya. Tahukah kita sampah apa yang telah kita buang itu? Saya yakin ada banyak sampah plastik yang turut kita buang dengan perlakuan seperti di atas, lalu apakah artinya ini?

Wong ndeso, sejak berabad lalu juga sudah nyampah, mereka juga menyapunya agar halaman rumahnya, kebunnya, ‘kelihatan’ ada penghuninya. Dikumpulkan di suatu tempat, biasanya dalam lubang lalu juga dibakar. Bedanya mereka membakar daun daun kering. Bagi wong ndeso plastik merupakan barang mahal kalaupun ada mereka kumpulkan untuk bungkus keperluan berikutnya. “sayang kalau dibuang”! Pertanyaannya kemudian adalah samakah hasil akhir antara membakar plastik dan membakar daun kering?

Untuk membandingkan bedanya, saya mengutip satu bagian dari artikel sebuah situs seperti di bawah ini.

Saat ini sampah telah banyak berubah. Setengah abad yang lalu masyarakat belum banyak mengenal plastik. Mereka lebih banyak menggunakan berbagai jenis bahan organis. Di masa kecil saya (awal dasawarsa 1980), orang masih menggunakan tas belanja dan membungkus daging dengan daun jati. Sedangkan sekarang kita berhadapan dengan sampah-sampah jenis baru, khususnya berbagai jenis plastik.
Sifat plastik dan bahan organis sangat berbeda. Bahan organis mengandung bahan-bahan alami yang bisa diuraikan oleh alam dengan berbagai cara, bahkan hasil penguraiannya berguna untuk berbagai aspek kehidupan.
Sampah plastik dibuat dari bahan sintetis, umumnya menggunakan minyak bumi sebagai bahan dasar, ditambah bahan-bahan tambahan yang umumnya merupakan logam berat (kadnium, timbal, nikel) atau bahan beracun lainnya seperti Chlor. Racun dari plastik ini terlepas pada saat terurai atau terbakar.
Penguraian plastik akan melepaskan berbagai jenis logam berat dan bahan kimia lain yang dikandungnya. Bahan kimia ini terlarut dalam air atau terikat di tanah, dan kemudian masuk ke tubuh kita melalui makanan dan minuman.
Sedangkan pembakaran plastik menghasilkan salah satu bahan paling berbahaya di dunia, yaitu Dioksin. Dioksin adalah salah satu dari sedikit bahan kimia yang telah diteliti secara intensif dan telah dipastikan menimbulkan Kanker. Bahaya dioksin sering disejajarkan dengan DDT, yang sekarang telah dilarang di seluruh dunia. Selain dioksin, abu hasil pembakaran juga berisi berbagai logam berat yang terkandung di dalam plastik.

( Dikutip dari : http://www.labschool-unj.sch.id/tk/publikasi.php?action=berita&id=457)

FAKTA MENGENAI SAMPAH PLASTIK

1.. Sampah plastik atau benda-benda yang mengandung plastik (tas kresek, kantong plastik, bungkus permen, kemasan styrofoam atau gabus) jika dibuang begitu saja kedalam tanah, baru akan hancur dalam waktu sekitar 200 hingga 400 tahun.
2.. Membakar sampah plastik sama saja menambahkan racun yang sangat berbahaya pada udara yang setiap saat kita hirup karena asap hasil pembakaran tersebut mengandung racun kimia yang bisa menyebabkan antara lain penyakit pada saluran pernafasan, kanker paru-paru, dll.
3.. Sisa makanan yang terbungkus rapat dalam kemasan plastik, setelah 10 tahun berada didalam timbunan sampah, jika pembungkusnya dibuka kembali, maka bentuknya masih tetap sama karena plastik pembungkus-nya menghambat proses pembusukan yang seharusnya terjadi.
Jangan Membakar Sampah Plastik
Membakar plastik menyebabkan zat-zat beracun dari sampah itu akan terlepas menuju atmosfir dan tentu saja akan masuk ke udara yang kita hirup. Menghirup polusi udara seperti ini akan menyebabkan dampak negatif yang serius pada kesehatan termasuk melemahnya kekebalan tubuh dan kanker paru-paru.

( Dikutip dari : http://9u4rd14n-4n93ls.blogspot.com/2008/03/bahaya-sampah-organik.html)

Melalui kutipan tersebut, saya ingin menunjukkan pada kita semua bahwa ada sesuatu yang tidak berubah, yaitu mentalitas pada orang-orang yang mengaku dirinya wong kota. Lalu, benarkah mereka adalah orang-orang modern jika mencermati paparan Alex Inkeles di atas? Apabila ternyata perubahan dan pembaharuan hanya terjadi pada aras barang dan bukan cara berpikir, ini baru satu contoh!

April 17, 2008 Posted by | Opini | Tinggalkan komentar

Manajemen Teror dalam Melahirkan Generasi Gagap

Ketika globalisasi melanda dunia, yang paling merasakan gejolaknya adalah negara-negara berkembang. Selain keberadaannya sebagai penopang negara kapitalis, di sisi yang lain negara diperhadapkan pada realitas masyarakat transisi yang gagap kompleks, termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Sebagai bagian dari negara berkembang, Indonesia menanggung beban yang sama.

Perubahan paradigma pengelolaan pendidikan menjadi isu sentral, para birokrat pendidikan dan awam mulai bicara otonomi sebagai antisipasi dan jawaban atas “ancaman” tersebut. Otonomi tidak hanya pada manajemen keuangan tetapi juga pada pengelolaan proses akademik di dalamnya. Kedengarannya maju dan antisipatif, namun di balik itu semua ternyata banyak hal yang lupa dipersiapkan. Walau mungkin tak dianggap prinsip? Tetapi sesungguhnya hal tersebut adalah rohnya dunia pendidikan.

Bicara lembaga pendidikan hanya sebagai lembaga sosial, memang sudah bukan masanya lagi. (Meski pendapat tersebut tak sepenuhnya benar). Namun bicara tentang lembaga pendidikan sebagai lembaga profit, mesti dibarengi dengan pikiran kritis, agar tidak terjebak ke dalam hitung-hitungan angka kuantitas. Persoalannya, sebagai ajang bisnis, lembaga pendidikan adalah sebuah ’pabrik’ dengan out put karakter manusia. Sehingga manajemen yang idealnya diterapkan adalah sistem manajemen komprehensif, yang tidak hanya mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi semata. Intinya : sebagai apapun lembaga pendidikan, keberadaannya mestilah dipandang sebagai tempat pemanusiaan manusia.

Proses yang Menyenangkan

Membaca gagasan Paolo Freire tentang guru yang merdeka dan Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam The learning revolution, sepertinya dunia pendidikan (persekolahan) itu manis dan indah. Karena disitulah beragam kreativitas dibangun dalam suasana segar dan menyenangkan, sebuah kebebasan berpikir tanpa tekanan. Dan masih banyak lagi, yang apabila berkaca pada proses pendidikan persekolahan di negeri ini, hal tersebut adalah sebuah mimpi.

Dalam sebuah kesempatan membimbing penulisan essay, penulis menjumpai kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Siswa mengalami kesulitan ketika diminta untuk menuliskan realitas politik yang kini sedang terjadi, persoalannya mereka tidak tahu, walau yang benar adalah mereka tidak peduli dengan hal-hal di luar sekolahnya. Mengapa? Karena sekolah ternyata telah mengisolasi dan memenjarakan mereka dari realitas. Akibatnya? Mereka menjadi gagap apabila diminta untuk merespon situasi yang terjadi di sekitar mereka. Itu baru sepenggal mengenai satu aspek dalam proses pembelajaran, dan belum bicara tentang seluruh proses dan bagaimana out putnya nanti.

Cara dunia pendidikan untuk mengasingkan anak didik dari dunianya, cukup sistematis dan terhormat. Sebagai “penjara”; dunia pendidikan (baca: sekolah) menjadi penjara yang mahal, tetapi semua orang tua bercita-cita membawa anaknya ke sana. Sistematis: karena memang sekolah memiliki seperangkat kurikulum yang secara nasional kurang lebih sama. Bahkan ketika pemerintah telah mendengungkan Kurikulum Berbasis Sekolah sekalipun.

Kurikulum memang merupakan acuan dalam proses pembelajaran, dan keberadaannya mutlak. Tetapi pengelolaan kurikulum melalui berbagai perubahan tanpa dibarengi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya, sama saja dengan mengotak atik judul tanpa bicara perubahan substansi. Anehnya, setiap kali bicara sumber daya manusia, sebagian dari kita segera menuduh guru dan pihak sekolah, tanpa mau melihat bahwa di sana ada birokrat pendidikan dan mereka yang menganggap berkepentingan, turut andil dalam carut marutnya dunia pendidikan kita hari ini. Terlebih, mereka sering bersemangat mengarahkan, ketimbang membiarkan para guru dan pihak sekolah membangun kreativitas.

Mencermati polemik UAN, dan pemakaian buku Sejarah dengan kurikulum 2004 yang dilarang oleh kejaksaan, penulis menilai terdapat persoalan pada otonomi guru. Penulis jadi berpikir bahwa sistem pendidikan kita sekarang adalah sebuah sistem pendidikan dengan manajemen kembali pada pola paternalistik. Sebuah proses pembelajaran yang sama sekali tidak mendewasakan, karena segala sesuatu mesti menunggu petunjuk atau menggunakan satu acuan tafsir, bahkan untuk ilmu social yang sifatnya dinamis sekalipun. Kalaupun toh tidak diminta, para birokrat pendidikan dan yang berkepentingan lainnya memiliki kecenderungan senang mendikte, dan menekan, seolah lebih tahu ketimbang mereka yang berada di lapangan. Ada ketakutan di kalangan mereka kehilangan peran, meski tampak nyata bahwa tugas dan fungsi mereka terkadang mengada-ada. Sehingga lembaga pendidikan di negeri ini seolah telah menjelma menjadi lembaga kepentingan, ketimbang sebuah lembaga pencerdasan dengan wacana akademis.

Adalah ironis apabila sekolah yang semestinya menjadi pelopor perubahan menjadi sebuah lembaga yang paling resistan terhadap perubahan. Bukan karena pengelola sekolah tidak mampu melakukan hal tersebut, tetapi karena terdapat pihak-pihak yang berkepentingan tidak menginginkannya. Akibatnya persoalan-persoalan formalistik lebih mengemuka dan menjadi keharusan ketimbang bicara tentang kedalaman materi dan profil lulusan yang merupakan ideal-ideal sekolah. Belum lagi berbagai tekanan psikologis senantiasa membayangi guru dan pihak sekolah yang bersumber dari para birokrat (guru jadi takut salah). Kalau kenyataannya telah sedemikian, bagaimana sekolah dapat menjadi sebuah tempat yang menyenangkan?

Proses Belajar Memberi Kepercayaan dan Mendewasakan

Dalam proses belajar kesalahan bisa saja terjadi, asalkan semuanya dilakukan untuk menuju pada sesuatu yang benar. Untuk menjadi benar mesti tersedia cukup kesempatan mencoba dan kepercayaan. Sehingga melalui hal tersebut sekolah tidak sekedar menjadi tempat segudang rumus, dan hafalan-hafalan mati, tetapi juga sebuah tempat seseorang menjadi dewasa. Menjadi dewasa berarti juga siswa diberi kesempatan menilai apa yang terjadi di lingkungannya secara objektif. Karena pendidikan modern tidak lagi menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Pendekatan multidimensi mesti dikembangkan. Itu artinya beragam materi ajar mesti dihadirkan sebagai salah satu perwujudan dari pendekatan tersebut tanpa mesti ditunggangi oleh kepentingan apapun terkecuali semata kepentingan akademis. Artinya juga bangsa ini harus berani jujur pada generasi selanjutnya tentang apa yang telah terjadi.

Anehnya gambaran ideal tersebut justru diingkari secara sistematis dan sistemik. Kepercayaan: mestinya diawali dengan memberi kebebasan pada guru mengembangkan materi tanpa tuntutan macam-macam yang mengada-ada, berlanjut pada kebebasan sekolah mengembangkan kebijakan lokal tanpa mesti terlalu banyak diintervensi. Khawatir kualitas semakin merosot karena pihak sekolah dan guru kompetensinya masih dipertanyakan? Kembangkan partisipasi masyarakat sebagai lembaga akreditasi independen. Memang semuanya tersebut butuh waktu, tapi kalau tidak dicoba? Ya kapan kita bisa berubah? @

April 11, 2008 Posted by | Opini | Tinggalkan komentar

RASA MALU VS KEMALUAN

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Ada rasa malu yang tiba-tiba mereka rasakan, yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan. Upaya pun dilakukan untuk menutupi rasa malu itu, tindakan responsif yang dikemudian hari menjadi sebuah prilaku sosial universal, yaitu menutupi organ kemaluannya.

Kemaluan ( penis dan vagina ) menjadi sebuah simbol rasa malu, ia merupakan manifestasi ril dari rasa yang abstrak. Wujud konkret dari pemahaman budaya, dan karena budaya ada semangat zaman, dan lingkungan yang turut mencampuri manusia dalam memperlakukan simbol tersebut. Tergantung bagaimana manusia menginterpretasi dan memanifestasikan rasa malu terhadap simbol phisiknya. Untuk kepentingan itupun manusia masih memilahnya, barangkali semangat berpikir dominasilah yang membuat mereka mengkonstruksikan demikian, laki-laki punya wilayahnya sendiri dan perempuan pun demikian.

Simbol abstrak yang melekat pada phisik tersebut terus menerus mengalami proses pemaknaan, bahkan nilai-nilai normatif yang melekat pada masyarakat, berusaha terus memperdebatkan standar-standar moral (abstrak) dalam memperlakukannya. Apalagi jika sudah menyangkut nilai yang bersifat agama, logis atau tidak manusia berusaha mengikutinya. Sehingga tak jarang, rasa malu menjadi sebuah ikon formal, yang dibarengi oleh seperangkat tatakrama dalam menutupi (baca: memperlakukan) kemaluan yang bersifat phisik. Dalam hitam putih hukum (baca: tatanan moral), pemberlakuannya menjadi : kalau begini boleh, dan kalau begitu menjadi tidak boleh. Jika sudah melakukan tindakan yang boleh tersebut, maka bolehlah seseorang melenggang, bergaul dan berdiri tegak di tengah lingkungannya. Ia tidak perlu malu lagi! Artinya standar moral kesusilaan telah ia penuhi.

Dalam sebuah kolom kecil sebuah koran harian nasional (kompas,Jumat 27 Februari 2004) terdapat sebuah prilaku nyeleneh seorang calon anggota legislatif, setidaknya dikatakan demikian menurut standar normatif. Sebab seorang calon anggota legislatif, yang berarti seorang calon yang mewakili masyarakat pendukungnya, mencoba menarik simpati dengan cara memamerkan organ kemaluannya, atau setidaknya bugil menurut harian tersebut. Semakin menarik manakala diketahui jenis kelamin dari caleg tersebut adalah perempuan. Cuma sayangnya, hal tersebut terjadi di Hongaria dan merupakan caleg Parlemen Eropa.

Prilaku nyeleneh calon anggota Parlemen Eropa bernama Anettka Feher tersebut, pasti menimbulkan berbagai macam pemikiran. Sayangnya media massa tersebut tidak mengulasnya, sehingga khalayak pembacanya tidak bisa mengetahui reaksi masyarakat di sana. Meskipun demikian bukan berarti kita tidak bisa menganalisisnya.

Apapun yang dia lakukan pasti bukanlah sebuah kebiasaan, ini adalah sebuah kejutan. Dengan harapan, ketelanjangannya mampu menyita perhatian publik, setelah itu barulah publik ingin tahu siapa sesungguhnya dia. Mungkin ia beranggapan cara tersebut efektif untuk menjadi jalan masuk kearah propaganda program-programnya, dan lebih efektif dari sekedar gebyar dangdut dalam kampanye di Indonesia. Sebuah alternatif terobosan yang cukup serius, dan membutuhkan pengorbanan.

Menelanjangi diri sendiri secara harafiah yang dilakukan caleg tersebut, merupakan sebuah keberanian menerobos tatanan dengan hal yang tidak lazim, meskipun itu terjadi di negara barat. Artinya ia berani menanggung rasa malu yang abstrak, dengan cara membuka kemaluannya yang konkret. Sehingga manifestasi ril (simbol) dari rasa malu yang abstrak tersebut menjadi tidak lagi menjadi simbol kemaluan bagi dirinya. Walau hanya dilakukan sesaat tapi bukan berarti orang tidak akan menyimpannya untuk sepanjang masa, berkat teknologi fotografi. Artinya sepanjang hidup, simbol kemaluan itu sudah tidak berlaku lagi bagi dirinya. Inilah yang disebut dengan pengorbanan. Dan kalaupun ia berharap mendapatkan simbol, phisik sudah tidak lagi dapat memenuhinya, karena ketelanjangannya tidak lagi menyisakan sesuatu untuk dapat ditutupi. Namun bukan berarti ia tidak lagi punya rasa malu, sebab sejak awal dikatakan bahwa rasa malu adalah sesuatu yang abstrak, sedangkan penis dan vagina hanya merupakan sebuah simbol hasil konstruksi kebudayaan. Artinya caleg tersebut mungkin saja tidak kehilangan rasa malu yang absrak itu.

Jika demikian caleg di Hongaria tersebut meletakkan rasa malu “kemaluan” pada tingkatan rasa, yaitu bukan pada persoalan phisik belaka. Namun justru tidak demikian dengan calon wakil rakyat atau bahkan calon pemimpin di negeri ini. Kemaluan adalah sesuatu yang melekat pada phisik, keberadaannya bukan pada tataran abstrak yang tersimpan di hati nurani, melainkan sebatas hanya pada penampakan konkret (phisik). Simbol dianggap menjadi kebenaran dari rasa itu, sehingga menerabas norma-norma yang abstrak menjadi boleh-boleh saja, asal tidak menunjukkan simbol kemaluan yang berupa vagina dan penis. Walaupun bukan berarti apa yang dilakukan oleh caleg Hongaria tersebut penulis setuju, melainkan dari hal tersebut kita boleh berkaca.

Kenyataan ini sangat jelas terlihat dari mata bathin kita, ada begitu banyak orang yang menjanjikan perubahan, membawa negeri ini lepas dari korupsi sementara dia adalah seorang yang korup. Apalagi kalau kita mendengar kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh DPRD di seluruh Indonesia yang jumlahnya miliaran rupiah, belum lagi kasus ijasah palsu. Mereka yang menjanjikan penegakan hukum, sementara dirinya adalah seorang yang mencoba menyiasati hukum dengan memperbodoh para penegak hukum. Dan ada juga pemimpin yang sudah tidak dipercaya, tetapi tetap saja mengaku bahwa dia adalah pemimpin dan tidak bersedia melepaskan kepemimpinannya, sesungguhnya dia itu hendak memimpin siapa?. Ironis memang, jika maling teriak maling, namun bagaimanapun juga ini adalah sebuah realitas yang kini “telanjang” di depan mata, terlebih disaat sekarang ini. Sayangnya kenyataan yang demikian telanjang tak cukup mampu menimbulkan rasa malu, karena sifatnya yang abstrak barangkali, toh keberadaanya jika dilihat tak seperti penis dan vagina yang dapat terlihat oleh mata kepala.

Jakarta, Minggu 28 Maret 2004

April 11, 2008 Posted by | Opini | Tinggalkan komentar