Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

SENJA DI TEPIAN KUALUH

Pertama :

Di atas gelondongan batang kayu tumbang yang sebagian ujungnya masuk ke dalam air, aku mengamati derasnya aliran sungai. Keruh, tetapi ketika kucoba sibakkan dengan kedua tanganku, terlihat jernih. Lumpur di dasar sungailah yang membuatnya kelihatan demikian.

Di atas batang kayu yang sama, enam atau tujuh tahun yang lalu aku berdiri di sini. Melempar kail dan tak jarang menjadikan tempat ini istimewa, untuk merenung, berpikir menjadi lima tahun kemudian. Aku membayangkan, jadi apa diriku? Dari balik terawang, aku melihat sosok diriku bukan lagi anak hutan yang akrab dengan kail dan gelondongan kayu yang sehari-hari mesti kuukur, demi uang sekolah. Aku melihat diriku lebih ‘gagah’, di atas speedboat, dan fantasiku pun selalu berujung pada pertemuanku dengan Intan disertai berjuta ilusi romantisme yang mampu kuhadirkan, walau baru sebatas angan. Aku yakin mampu mewujudkannya.

Baca lebih lanjut

Mei 15, 2008 Posted by | Fiksi | Tinggalkan komentar

PILIHAN KALONG KECIL

‘Tidak ngantuk’ tulisku.

‘Ngantuk? Belum, belum sama sekali, namanya juga Kalong.’ Ia membalasnya.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya aku menghabiskan waktu dengan ber-SMS. ‘Kalong kecil’ itu memang punya ketahanan tinggi, buktinya waktu sudah menunjukkan dini hari ia masih saja membalas pesan-pesan singkat dariku. Padahal tak jarang besoknya kami harus beraktivitas sejak pagi. Tetapi siapa yang peduli jika itu membuat hati kami senang. Diluaran sana banyak eksekutif muda atau orang biasa yang menghabiskan waktu sampai pagi hari untuk sekedar mendapat kesenangan dengan duduk-duduk di club-club, cafe atau ngedugem padahal esoknya mereka harus beraktivitas kembali, tak ada masalah. Tidak hanya itu, mereka juga mengeluarkan banyak uang. Sementara kami? Hanya beberapa ratus ribu rupiah itupun untuk satu bulan, jadi tak ada salahnya kan? Aku mencoba untuk mencari-cari pembenaran. Dasar!

Baca lebih lanjut

Mei 15, 2008 Posted by | Fiksi | 1 Komentar

Bermula dari Jam

            Semuanya belum berubah, ia masih menantiku seperti hari-hari biasa. Cuma siang ini aku merasakan ia begitu cantik, ah, atau mungkin aku saja yang ngawur, abis dimata banyak orang ia cantik, artinya bukan hanya hari ini. Kemanjaannya dapat kulihat dari caranya memandang, kalau bukan bidadari ia adalah seorang dewi. Tapi kalau hari ini ia mau menantiku, ia adalah bidadari atau dewi bodoh! Dasar!

            “Sampai jam tiga,” seperti biasa ia memberitahuku.

            “Kita mulai darimana?”

            “Terserah,” lalu kulihat ia hanya tersenyum dan menatapku lekat. Alamak!!

            Jam tiga sepertinya hanya sekejap, kulihat ia mulai gelisah. Segelisah hatiku mungkin. Meski barangkali letak kegelisahannya berbeda. Tak lama ia kembali menatap, tersenyum, dan yang pasti ia segera berlalu. Ups, ada sesuatu miliknya yang tertinggal, namun tak mungkin aku berteriak agar ia kembali. Toh yang tertinggal adalah pesonanya, yang membuat aku semakin gila.

 

            Bersamanya aku seperti mengarungi dunia maya, berjuta ilusi terbangun saat aku sedang merindukan kehadirannya. Walau aku tak pernah mencoba untuk sekedar bercerita realitas batin yang kini sedang kusandang. Ada keangkuhan untuk mengakui, ada kejantanan yang tak pernah kupahami, tetapi jauh dari kesombonganku berpikir, ada kekhawatiran dan ketakutan luar biasa. Entahlah!

 

            Jujur pada suara hati, berarti aku kalah. Karena itu berarti aku harus menjalani angan masa depan yang bagai lautan tanpa sebuah tepi. Mengingkari, itu juga berarti aku kalah, karena berarti aku lebih senang bermimpi meski kenyataan ada di depan mata. Lalu, kalau kini aku menjalani, itu berarti aku juga bodoh. Mengenalnya adalah kesialan meski itu adalah sebuah anugerah. Paradoks.

 

            Aku mengenalnya karena ia datang padaku, bertanya tentang beragam fenomena sosial; mulai dari persoalan diferensiasi sampai pada persoalan stratifikasi sebagai akar dari carut marutnya negeri ini. Ia bukan sosok istimewa, awalnya!  Tapi kehadirannya mampu mengundang tanya dalam benakku, kenekatannya menjadikan ia hadir dalam jurnal hidupku. Meski aku lupa kapan hal tersebut terjadi.

 

             Imelda, dari namanya saja pasti terbayang seperti apa orangnya. Ah, lha kok jadi hiperbola begini. Kalau menimbang bobot, bibit lan bebet, di kalangan orang Jawa, jelas dia tidak termasuk orang yang bermasalah. Apalagi kalau hitung-hitungannya pakai standarisasi ‘modern’: cantik dan kaya, waduh! Dia tambah ada di dalamnya, tidak usah pakai dihitung lagi. Tapi kalau dia hari ini berada bersamaku, nah ini baru keajaiban.

 

            Belajar dari fenomena yang selama ini terbangun, atau barangkali lebih tepat kalau dibilang memang dikonstruksikan demikian oleh para penghuni negeri ini. Sepertinya aku sedang bermain-main dengan kesia-siaan. Walau sesungguhnya Tuhan tidak pernah bilang kalau struktur tubuh ini menentukan cara seseorang berpikir, cara kelompok manusia membentuk kebiasaan, tetapi entah kenapa kita lebih senang berpikir keliru seperti itu. Sehingga senang atau tidak, pasti apa yang kurasakan saat ini akan dibenturkan pada konstruksi orang-orang yang lebih pintar dari Tuhan itu. Ya, rasku dengan  bidadariku itu, berbeda, meski hati kami saat ini sedang mengalami hal yang sama. Karenanya kami tak pernah bicara masa depan!

 

            Kajian yang selama ini kupelajari tentang manusia, sepertinya tak berlaku lagi dalam dunia nyata. Itu hanya ilmu, nyatanya bahwa ketika kau terlahir dengan warna kulit kuning, merah atau jingga, demikian pula warna kebiasaanmu. Karena kau tercipta berbeda maka berbeda pula keberadaanmu di tengah pergaulan ini, meski kepalamu mampu menciptakan bintang-bintang baru.

            “Masih belum berani memulai ?”

            Aku hanya bisa terdiam, tak bereaksi, meski nalar ini yakin sudah saatnya aku memberanikan diri.    

            Toh, bukan kamu yang memulai ! Tunggu apa lagi!”

            Keyakinanku pada masa lalu, lagi-lagi tak membuatku menyambut pernyataan sahabatku. Hanya saja kini keningku berkerut, mencari kebenaran dari ungkapan barusan. Mungkin, mungkin saja Imelda berbeda. Ia bukan dari golongan konservatif yang selalu bicara tentang keunggulan-keunggulan egoistis itu. Atau aku mesti berkaca pada situasiku sendiri, apakah aku juga berada di lingkungan yang cukup moderat sehingga mereka bisa menerima keberadaan Imelda ? Lagi-lagi, keningku hanya bisa berkerut.

            “Cinta ini tanpa masa depan,…” seraya menghembuskan nafas, aku sempat bergumam. Gumaman penuh beban.

            “Ha..ha….! Kau belum memulai, tapi seolah-olah kamu sudah mengetahui akhirnya. Belajar menjadi tuhan buat diri sendiri ?! Atau kamu adalah tipe orang yang menikmati kondisi ini.”

 

            Tak begitu dekat memang aku mengenal Glen, tetapi seakan dia memahami persoalan bathin yang kini menderaku. Tampak dari ungkapannya barusan. Pasti bukan sebuah kebetulan ia mengungkapkannya. Mungkin ia mengenalku, jauh dari bagaimana aku mengenalnya. Dalam hidup banyak hal yang tak kupahami dan kusadari, dan kalaupun pada akhirnya kusadari, semuanya telah terlambat. Ya, terlambat ! Kata itu tiba-tiba mengiang di kepalaku. Haruskah aku terlambat menyadari?

 

            Aku tak ingin terlambat, lalu menyesalinya disepanjang sisa hidup. Kukumpulkan keberanian, aku yakin masih ada sisa. Kucoba bangun harapan, harapan yang barangkali jauh dari anganku selama ini. Keyakinan untuk menemukan jawaban; aku tak peduli walau kau Jawa dan aku Cina tetapi aku tetap mencintaimu, dari mulut Imelda. Ah…!!!!

 

 

           

Februari 13, 2008 Posted by | Fiksi | Tinggalkan komentar

ROMANTIKA BUS KOTA JAKARTA

Aku berangkat lebih awal, tetap saja. Sudah penuh! Padahal baru saja aku berhasil memenangkan ‘perlombaan’ dengan ibu-ibu bawel, yang setahuku ingin selalu menang sendiri. Sekian lama berangkat pada jam yang sama, sedikit banyak membuatku tahu tabiatnya: menyerobot tempat duduk dengan beragam alasan, hingga membuatku atau yang lainnya mengalah, yang berarti berdiri sampai ke tujuan. Belum lagi iringan komentarnya sepanjang perjalanan, membuatku semakin gerah. 

“Lecek lagi deh gue !” gumamku lirih. Padahal kemarin Tanti sudah mewanti-wanti aku untuk berpakaian serapi mungkin, katanya sih presentasiku kali ini akan berpengaruh banyak pada karierku. Dan katanya lagi nih, performance-ku juga menjadi pertimbangan, itu berarti bajuku yang hampir saban hari lecek setelah berdesakan di bus, saat presentasi harus rapi. Paling tidak itulah yang bisa kulakukan untuk menunjang penampilan, tak hanya otak dan tanggungjawab. Berarti pula, lagi-lagi aku mesti ke ruangannya Sapto, satpam kantor yang punya fasilitas rumah tangga di pos jaganya.

 

“Permisi mas !” Kudengar suara lantang di belakangku, sambil sedikit memaksa tubuhku untuk bergeser.

Pasti dia tidak buta. Tapi manusia ini nekat. Bayangkan, sejak dari Senen bus sudah sarat penumpang, bahkan untuk sekedar menggeser badan pun sulit, tetapi tetap saja dia mendesak  agar bisa ngamen. Aku yakin banyak diantara penumpang jengkel padanya, namun pasti juga, tak ada yang bereaksi. Sudah lazim, seperti hari-hari biasanya.

 “Ganteng-ganteng kok ngamen !” Madam bawel yang duduk disebelahku mulai berkomentar. “ Emangnya nggak ada pekerjaan lain ? Apalagi dia kan nggak cacat!” Kulihat ia mulai memonyongkan mulutnya, seperti biasa pula.Mendengar komentarnya, kedongkolanku menjadi berlipat ganda. Mungkin dia pikir  orang cacat hanya bisa ngamen, atau ngamen dimatanya sama dengan ngemis, dan cacat berarti harus menjadi pengemis. Terus, memangnya gampang cari pekerjaan? Huh !! Aku tidak tahu mengapa tiba-tiba menjadi sewot begitu, meski hanya dalam bathin. Namun juga bukan berarti secepat itu aku memberi simpati pada pengamen brengsek ini. Jakarta yang panas, sudah mulai memanas walau mentari baru saja muncul dari peraduannya. 

Cring !! Cepek, dan gopek saling beradu di kantong plastik artis bus kota itu. Aku tidak tahu, apakah recehan itu merupakan bentuk apresiasi terhadap seni atau hanya harga yang harus dibayar untuk buang sial, daripada dipaksa dan diancam. Sebab tak jarang diantara mereka ada yang tak tulus membarterkan suaranya dengan sekantung recehan, meski sesungguhnya dia juga tahu bahwa suaranya lebih sering membuat berisik daripada menghibur. Kalau begitu, aku jadi berpikir untuk mereka yang memang tulus menjalani pekerjaan ini. Mereka hanya menjadi korban salah cap. Belum lagi kalau ada razia, mereka menjadi bagian dari kehidupan premananisme yang kata penguasa mesti diberantas.

 

Tak lama bus melaju, kulihat dua bocah dengan segepok tutup botol naik ke dalamnya. Ngamen lagi? Pasti ! Tetapi pengamen kali ini mungkin tidak menjual suara, melainkan tampang miskin mereka untuk wujud belas kasihan. Dua gembel kecil yang kini tepat di depanku mulai melontarkan kata-kata pembuka, tak semerdu MC pementasan musik dangdut, apalagi dari kesan enak didengar, atau gaulnya VJ MTV, jauh, jauh sekali!

 

“Kamu tidak sekolah?” Pertanyaan klasik, mungkin untuk sebuah simpati basa-basi. Dan, cring !! Kudengar recehan mengalir ke kantung kusut yang dipegang oleh tangan mungil bocah perempuan kumel tujuh tahunan itu. Aku jadi tahu, jika itu adalah sebuah simpati, maka di Jakarta ini simpati adalah cepek atau paling pol,  gopek! Tidak akan mengubah apa-apa, apalagi hanya dengan pertanyaan dan komentar basa-basi.

 

Ciiiiit!!!  !! Aaaaa..aaa !!! Gila, sopir bus ngerem mendadak, membuat seisi bus panik.

Hampir saja aku terpelanting ke depan, kalau saja peganganku tidak cukup kuat, di tambah Om super gembul di belakangku mendorongku cukup kencang.

“Pagi-pagi udah tawuran !” Seru pengasong yang menggunakan kesempatan berhentinya bus, untuk melompat ke dalamnya. “Permen rasa baru mbak, mas !!” serunya kemudian.

 

 Sementara dijalanan kulihat gerombolan pelajar saling berlarian, tak ayal lagi jalanan menjadi macet. Brakk  !! dok-dok-dok  Tak jarang, bus yang kutumpangi menjadi sasaran lemparan batu. “Asal nggak ke kaca aja, aman,” pikirku. Tak ada keheranan, atau kepanikan diantara yang berjejal duduk maupun berdiri di sekelingku. Ini bukan hal baru, yang kutahu biasanya mereka melakukannya sepulang sekolah. Jika sepagi ini, barangkali pemanasan.

 

Sudah kuduga, pasti akan macet total. Trafic light di perempatan depan meskipun menyala, tak berperan apa-apa. Dimata pengemudi, merah, kuning yang kelihatan cuma hijau, siapa cepat dia dapat. Meski kenyataan menjadi sebaliknya, hijau, kuning menjadi merah semua, karena tak ada yang bisa jalan. Tak banyak yang bisa diperbuat, kecuali pasrah. Herannya ada saja orang-orang egois yang membunyikan klakson, seolah mobil di depannya jelek tak bisa melaju.

 

Kulihat peluh mulai mengalir dari sosok manis, yang sejak awal kuperhatikan. Berkali-kali ia mendesis, manakala melihat ke pergelangan tangan. Sama denganku, telat barangkali bencana. Syukur kalau hanya potong gaji, namun kalau masih masa observasi, itu berarti kontrak akan berhenti tiga bulan saja. Tidak disiplin. Selanjutnya, lagi deh menjadi pegawai yang pekerjaannya adalah mencari pekerjaan.  Sambil menggigit bibir bawahnya, ia mencoba mengusir kegusaran hatinya. Wow, gadis itu semakin mempesona. Hanya sebatas itu, mengagumi, sebab kemudian pasti ia akan segera menghilang di belantara Jakarta. Mengenalinya lagi di tengah jutaan manusia, cukup sulit, terlebih sehabis lebaran nanti. Wajah-wajah baru akan segera menghiasi ibukota republik ini.

 Alhamdullilah, meski kantorku tak jauh lagi aku dapat tempat duduk juga. Lumayan, mubazir kalau tidak dimanfaatkan, lha wong di luar sana, (maksudku di gedung sebelah ketika busku melintasi kantor DPR/MPR) mereka pada berebut kursi sampai gontok-gontokan, masa di sini kusia-siakan. Apalagi aku bakal bersanding dengan simanis yang sejak tadi kuperhatikan. Ini namanya pucuk dicinta ulam tiba. 

“Turun di mana Mbak?” diantara kepengecutanku, bunyi juga mulutku.

“Grogol,” Jawabnya acuh. Kembali wajahnya menembus kaca, menerawang jauh ke luar dari bus yang sedang kami tumpangi.

“Takut telat ya?”

Ia memandangku, merespon pertanyaanku dengan melemparkan senyuman, senyuman yang sangat dipaksakan. Kecut! Itu bukan berarti

dia tidak menjadi manis dimataku. Lagian sudah biasa, sebab tak jarang pertanyaan akan menghasilkan prasangka. Tidak dicuekin saja sudah syukur, jadi tak perlu berharap lebih kan?

 

Persimpangan Slipi, sebagian dari penumpang turun. Gadis manis di sampingku tak juga beranjak. Namun belum juga mau bicara, diam diantara deru laju kendaraan. Barangkali dia merasa sendirian, sendirian di tengah keramaian, atau gundah di tengah ketidakpedulian.

 Pria kekar yang sejak dari Slipi berdiri di sebelahku, mulai angkat bicara; meski sejak awal ia kukira seorang penumpang biasa. Kenyataannya, ia penumpang luar biasa.“ Slamat pagi bapak ibu! Saya di sini tidak ingin berbuat jahat pada bapak ibu sekalian, kalaupun saya seperti ini (maksudnya kelihatan sangar kali), terimalah sebagaimana saya adanya. …Lalu…bla..bla…”.ia terus berbicara, dan diujungnya “ Tolonglah saya bapak ibu, saya tidak ingin masuk penjara lagi, saya kapok dan tobat. Dapatlah kiranya bapak ibu membantu saya. Dengan memberikan uang seribu atau limaribu perak, bapak ibu tidak akan jatuh miskin karenanya.”Wow ! Sebuah pengakuan yang fantastis, gambaran sebuah negeri yang adiluhung dengan budaya timurnya yang patut diacungi jempol. Tentulah negeri ini bukanlah negeri sembarangan, jebolan penjahatnya saja berani memproklamirkan pertobatan. Cuma persoalannya hanya satu, tidak punya ongkos untuk pulang kampung. Klasik ! Tetapi sungguhkah !!!!

Kalau saja aku tidak teringat pesan Tanti, sudah kugaruk kepalaku, pusing mencoba berpikir jadi orang bijak, atau mencoba peduli pada negeri sakit ini. Andai saja ia benar, barangkali gadis di sampingku tak akan gelisah. Ada ketakutan manakala ia menatap pada alumnus Cipinang itu, wajar sebab sudah biasa pula pengakuan menjadi sarana cari makan, atau barangkali menambah panjang jam bergadang dengan menenggak alkohol produk dalam negeri alias arak oplosan, artinya recehan yang didapat bisa untuk tambahan porsi, gitu! Murah meriah katanya. Yah artinya,…..kejujuran menjadi sebuah kebohongan baru.

 

Tap ! Tiba-tiba tangan mungil menempel erat tepat dipergelanganku, rasanya seperti nonton film dengan lakon horor yang belakangan menjadi tontonan yang sangat digemari. Kaget, tapi aku tak ingin melewatkannya, kubiarkan jemari  itu tetap ada di sana, dan kuberanikan mengarahkan pandangan ke pemiliknya. Deg! Senyumnya kali ini beda, masih dipaksakan memang, namun senyum itu lebih bersahabat. Secepat inikah ia berubah?

 

“Mas, maaf ya!” segera ia melepaskan pegangannya, mengangkat kepalanya yang sebentar sempat berada di pundakku. Semuanya telah berlalu tanpa sempat aku mengerti apa yang sebenarnya terjadi, seiring berlalunya alumnus Cipinang yang barangkali dapat menjawabnya. Teror !

 

“Hah…!” tanpa sadar aku mengucapkannya. Gadis di sebelahku juga sepertinya ikutan kaget, namun ia tak banyak bereaksi, bahkan menatapku pun tidak. Keramahan dan kelembutannya hanya sekejap, kejadian barusan tak pernah ada di kepalanya. Yang ada kini ia bersiap untuk turun, meninggalkan aku yang karena pesonanya telah ikut melaju sampai ke Grogol. Itu berarti aku kelewat, dan mesti balik secepatnya agar tak terlambat presentasi. Huh, sial! Bus kota telah membawa romantika pagi ini, sekaligus kesedihan karena mungkin aku tak dapat mengulanginya lagi. @

Februari 13, 2008 Posted by | Fiksi | Tinggalkan komentar