Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Tak Ada ruang untuk Tuhan

Berdiam diri dan memenuhi pikiran dengan impian, sangat menyenangkan. Aku bisa larut dalam alunan langkah-langkah imajinatif itu, melayang membangun dan mewujudkan impian, meski juga masih sebatas angan.

Di sana kuraih semua yang kupikirkan, menjadi sosok yang berbeda dari hari ini, nyaman secara finansial dan berguna bagi nilai kemanusiaan. Aku berhasil menggapai apa yang selama ini hanya bergelayut di dalam kepalaku. Enggan rasanya aku kembali ke duniaku yang sebenarnya.

Aku memang tidak mengimajinasikan sebagai sosok yang kaya raya, sama sekali tidak. Aku hanya melukiskan dunia masa depan dimana aku mampu memberdayakan banyak aset ekonomi di sekelilingku dan orang-orang yang selama ini terpinggirkan. Mendirikan lembaga pelatihan dan pendidikan, tempat dimana orang belajar untuk menjadi pribadi yang berhasil. Itu semua berhasil kuwujudkan dalam diri imajinatifku. Aku bangga pada diriku, puas pada pencapaian kerjaku.

Saat aku bertanya pada diriku, terus sekarang apalagi? Aku terdiam, rasanya diri imajinerku berhenti pada titik ini. Aku tak lagi mampu membangun ruang imajiner yang lebih spektakuler lagi, namun ada satu yang sejauh ini tak tersentuh. Dimana aku menempatkan Tuhan dalam keberhasilanku? Aku hanya terdiam, bahkan dalam diri imajiner pun aku tak lagi mampu menghadirkan sosoknya.

Tak ada tempat bagi keagunganNya dalam ruang-ruang diriku, semua telah dipenuhi oleh mimpi-mimpi dan pikiran-pikiran rasional. Inikah gambaran diriku? Dalam diri imajinerku, setiap kali melangkahkan kaki, ada kegelisahan, tak ada lagi yang membisikiku dengan kata-kata peneguhan. Aku ingin Ia kembali mengisi hatiku, tetapi aku juga sulit untuk kembali menyisakan ruang khusus itu untukNya.

Agustus 26, 2010 Posted by | Aku dan Tuhanku | 3 Komentar

Belajar Tak Menjadi Tuhan

‘Aku sudah berbuat salah, marahkah Tuhan padaku?’ Aku tercenung memikirkan pengakuan dan sekaligus pertanyaan tersebut. Di keheningan pertanyaan itu terus bergelayut, sebuah pertanyaan absurd tetapi membutuhkan jawaban ril sebagai landasan menemukan kebahagiaan religius. Menjawabnya aku mencoba mengurai pertanyaan tersebut ke dalam beberapa pertanyaan lanjutan ; apakah Tuhan pernah marah? Jika pernah untuk apa? Jika tidak mengapa? Dan jika marah kepada siapa dan untuk hal seperti apa? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Baca lebih lanjut

April 24, 2008 Posted by | Aku dan Tuhanku | Tinggalkan komentar

Belajar Memahami Tuhan

Aku lelah memahami dan menafsirkan diriMu, walau sesungguhnya aku tahu itu tak perlu kulakukan. Tetapi kemanusiaanku terus membawaku pada pertanyaan-pertanyaan tentang diriMu yang tak terhentikan. Salahkah pikiranku? Aku tak ingin membawa anugerah ini (kupahami pikiranku sebagai anugerah) pada pengadilan norma yang menghitam putihkan segalanya. Aku hanya membiarkan ia terus berkelana dan menemukan tepian atau bahkan tak menemukan apa-apa. Aku tak ingin kehilangan akal sehatku, ketika aku mengimaniMu, hanya itu yang aku tahu.

Baca lebih lanjut

April 24, 2008 Posted by | Aku dan Tuhanku | Tinggalkan komentar

Seperti apakah Engkau Tuhan?

Aku lelah memahami dan menafsirkan diriMu, walau sesungguhnya aku tahu itu tak perlu kulakukan. Tetapi kemanusiaanku terus membawaku pada pertanyaan-pertanyaan tentang diriMu yang tak terhentikan. Salahkah pikiranku? Aku tak ingin membawa anugerah ini (kuanggap pikiranku sebagai anugerah) pada pengadilan norma yang menghitam putihkan segalanya. Aku hanya membiarkan ia terus berkelana dan menemukan tepian atau bahkan tak menemukan apa-apa. Aku tak ingin kehilangan akal sehatku, ketika aku mengimaniMu, hanya itu yang aku tahu.

 

SosokMu terus terang membingungkanku ; mulai dari keberadaanMu, pikiranMu, kehendakMu, yah segalanya yang melekat dalam diriMu. Dibenakku kadang Engkau kupahami begitu istimewa, tetapi terkadang Engkau juga menyebalkan. Salahkah aku, tetapi sesungguhnya itu yang kurasakan. Aku yakin Engkau lebih tahu tentang diriku, jauh dari apa yang kupahami.

 

Dibenakku Engkau kadang kupahami sebagai sosok yang menyebabkan segala sesuatu, tetapi aku tak pernah tahu sebatas apa Engkau membiarkan hukum-hukum itu berjalan. Adakah pengecualian pada apa yang telah Engkau gariskan lewat hukum-hukum itu sehingga aku melihatnya sebagai sebuah keajaiban? Atau Engkau membiarkan semuanya terjadi segaris kehendak hukum-hukum alam yang pastinya Engkau telah ciptakan? Dan Engkau hanya tinggal menyaksikan semuanya berjalan : tak ada pengecualian semuanya bisa terjadi karena ada potensi yang menyebabkan itu bisa terjadi. Rumusnya telah Engkau gariskan. Seperti itukah? Lalu untuk apa doa-doa yang kumohonkan kepadaMu, jika sesungguhnya “keputusanMu” tak bisa berubah?!

 

Untuk apa aku memujaMu, Engkau tak membutuhkan itu, Engkau pribadi yang memiliki Eksistensi tanpa perlu sebuah pengakuan. Kadang aku merasa Engkau menyayangiku tanpa atau dengan pengakuanku, karena aku adalah bagian dari karya yang Engkau ciptakan. Seseorang takkan begitu mudah mencampakkan sesuatu dari apa yang telah dihasilkannya, terlebih Engkau dengan segala ke’Mahaan’ yang Engkau miliki. Lalu kenapa Engkau membiarkan aku melakukan ‘pemberontakan’ terhadapMu? Engkau masih membingungkan.

 

Kadang aku begitu yakin, Engkau tak perlu aku pahami. Engkau tak lagi istimewa setelah semuanya aku bisa mengerti, bahkan mungkin Engkau menjadi sosok yang mudah ditebak. Ah…..,jika itu yang terjadi pastilah Engkau akan menjadi sosok yang membosankan. Karena aku tak pernah menjadi Engkau, sudah selayaknyalah aku tak pernah bisa memahami sedikit pun tentang sosokMu, jika aku ingin tahu anggaplah ini bagian dari kesempurnaanku sebagai manusia yang Engkau telah ciptakan dengan segala keberadaannya yang berfungsi. Jika mesti berterima kasih, ajarilah aku tak membohongiMu. @

Februari 15, 2008 Posted by | Aku dan Tuhanku | Tinggalkan komentar