Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Evaluasi Akhir Tahun 2016

akhir-2015-2016Menjelang akhir tahun, pertanyaannya sederhana, apa pencapaian gemilang tahun ini? Dan apa resolusi di tahun yang akan datang?

Aku masih belum menerbitkan buku, masih belum menjadi orang yang merdeka secara financial, belum memiliki quality time yang baik bagi keluarga, apalagi terhadap Tuhan. Antara Mimpi ideologis, financial dan spiritual belum berbanding lurus dengan realitas. Pertanyaannya, mengapa? Apakah aku masih tidak focus, kurang tekun atau apa?

Padahal kemampuan menulisku, secara pribadi  harus kuakui, sudah jauh lebih baik. Untuk menuliskan topik-topik terterntu hingga selesai, tidak lagi memerlukan waktu  beberapa hari. Duduk di depan laptop, tulisan yang kuinginkan mengalir begitu saja. Ini terjadi karena proses latihan dari kedisiplinanku menyelesaikan tulisan dalam tiga paragraph.  Ternyata modal itu belum cukup membuatku menghasilkan tulisan yang dapat kubukukan. Usaha sudah kumulai, satu kumpulan tulisan sudah kuedit dan kukompile menjadi satu buku, meski belum  layak untuk diterbitkan, itu kata penerbit. Tetapi aku masih terhibur, kompasiana puluhan kali menjadikan tulisanku sebagai artikel pilihan, bahkan beberapa diantaranya head line. Target Kompasiana-ku juga terlampaui, setiap tulisanku kini dikunjungi oleh lebih dari seratus orang.

Sebenarnya ini adalah modal, seandainya dalam seminggu aku menghasilkan dua atau tiga tulisan saja, dalam satu tahun aku pasti sudah menghasilkan satu buku. Barangkali ini kelemahanku, aku masih focus pada tulisan, bukan buku, sehingga aku perlu membangun etos baru, setelah etos menulis tiga paragraph terlampau. Minimal dari buku saku dengan satu topic tertentu yang terdiri atas lima hingga sepuluh tulisan saling terkait. Ini dapat menjadi resolusiku tahun 2017. Membuat buku saku. Tidak penting itu akan laku di penerbit atau tidak. Tentang format dan isi, dapat kupikirkan kemudian.

Jika dibilang fokusku agak kacau di tahun ini, mungkin benar. Aku memang sangat optimis dengan ikan guppy dan anubias, meski investasiku belum cukup untuk menggeluti kegemaran ini agar nantinya menghasilkan income. Pertama, aku tidak punya keberanian untuk membeli bibit ikan yang berkualitas, padahal yang bernilai tinggi di pasaran adalah ikan-ikan jenis itu. Alasanku klasik, waktuku sangat minim untuk merawat dan menyediakan pakan hidup berkualitas  yang dibutuhkan. Kedua, aku ini agak malu-malu dalam memasarkan ikan-ikanku. Ada semacam mental block yang nyangkut di kepalaku, ‘aku ini bukan pedagang’. Sehingga aku selalu tidak mampu menjual dengan harga yang aku inginkan. Parahnya lagi, terlalu banyak perhitungan untuk menjual lewat online ; berpikiran ikan jeleklah, nunggu beli oksigen dululah, perlu karantinalah dan lah-lah yang lain. Padahal pada kenyataannya banyak para penjual  online di luar sana yang tidak memerlukan seperti  apa yang aku pikirkan. Kini aku baru nyadar, jadi saudagar itu ternyata tidak mudah, perlu mental yang kuat. Alhasil, hingga hari ini, aku hanyalah peternak tradisional yang sama sekali tidak memiliki akses apalagi berpengaruh terhadap pasar.

Anubias, memang sempat mengalihkan juga fokusku setelah ikan hias. Kedua komoditas ini dapat berjalan beriringan. Aku merasa cukup punya modal, anak kampunng yang setiap hari bergelut dengan tanaman dan juga pecita dunia air. Klop. Tetapi sekali lagi, lagi-lagi usaha anubiasku layu sebelum berkembang. Bibit yang kuperoleh dari Jogja sekarat di kolam guppy. Lumut  menggerogoti mimpi-mimpiku mendapatkan uang penghasilan tambahan. Berbekal anak dari kampung saja ternyata tidak cukup untuk dapat menaklukkan anubias. Aku memang tidak menyerah, bahkan kini sedikit banyak sudah kukenal pola pertumbuhannya. Tetapi pertumbuhan Anubias yang sangat perlahan membuatku tak sabar. Sambil tetap menanti, kualihkan perhatian penantian itu pada jenis tanaman yang lain. Bercocok tanam sayur di halaman.

Kangkung dan bayam menjadi pelipur penantian anubias, namun ternyata aku justru terjebak. Waktu yang kuperlukan untuk tanaman subsitusi ini ternyata menyita banyak perhatian. Bahkan menghasilkan Mimpi-mimpi baru. Jadi petani dan dapat menghasilkan income dari usaha ini. Dibanding ikan dan anubias, sepertinya sayuran dihalaman lebih memberi harapan. Sesuatu yang ingin kujadikan pengalih perhatian justru benar-benar membuatku harus focus memperhatikan. Apalagi hasilnya langsung dapat kunikmati dan juga dapat berbagi pada tetangga. Semangat itu makin terpompa saat tetangga memberi  atensi dan apresiasi. Kini kasihan ikan dan anubiasku, juga kebiasaaanku dalam menghasilkan tulisan.  Tiga hal itu menjadi seolah terpinggirkan.

Aktifitas fisik merawat kebun, ikan dan anubias di satu sisi menghasilkan kenyamanan dan relaksasi namun juga menguras banyak tenaga. Goresan di kepala, akhirnya hanya terbawa tidur, tidak lagi ada kekuatan untuk mengeksekusi menjadi tulisan-tulisan sederhana yang menggugah. Esoknya, berganti dengan ide-ide baru. Lagi-lagi, terbengkelai. Kini, aku tidak bisa mundur lagi dengan mengorbankan salah satu diantaranya. Menulis, beternak dan berkebun adalah hidupku selain mengajar. Aku wajib menjadikannya sinergi, meski aku belum menemukan formulanya. Atau bisa juga, buku saku-ku nanti kumulai dari aktifitas merawat tiga hal tersebut dan tentu saja juga dengan dunia pendidikan. Ah, dunia keaktifisanku sebagai bagian dari masa lalu juga perlu kuangkat karena kini aku juga aktif ber-grup dengan mereka. Kok, jadi banyak lagi ya? Dasar fokusku!

Lantas apa kesimpulanku diakhir catatan ini? Pertama, aku sudah berada di trek yang benar. Guru yang tetap memiliki aktifitas relaksasi yaitu menulis, beternak dan berkebun. Kedua, perlu melakukan optimalisasi potensi dengan membangun sinergi. Sinergi itulah yang menjadi fokusku. Membuat catatan pada setiap proses dari semua aktifitas yang kujalani, dan menjadikannya menjadi sebuah buku saku. Sekali lagi buku saku! Ringkas, sederhana dan mengetengahkan solusi !

@ Duta Indah, 27 Desember 2016

Iklan

Desember 27, 2016 - Posted by | Pencerahan, Renungan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: