Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Ketika Aku Bertanya; Tuhan Engkau Ada dimana?

mencari-tuhan

Aku sudah merebahkan tubuhku, entah mengapa ada dorongan yang begitu kuat untuk menengadah, mengajukan banyak pertanyaan kepada Tuhan. Karena aku tahu Ia tidak pernah menolak kapanpun aku punya waktu untuk menemuiNya. Sekedar untuk bertanya, protes, mengeluh atau bahkan merajuk. Mungkin juga sesekali berterimakasih.

Hari-hari ini, dunia sedang menunjukkan ketidakadilannya. Suasana, dari lorong sempit dekat rumah hingga dunia yang maha lebar menunjukkan suhu diatas rata-rata. Satu sama lain, berkutat pada alam pikirannya sendiri. Mencurigai siapapun yang memiliki cara berprilaku dan jalan pikiran yang berbeda. Tatap nanar, menjadi hal biasa dalam dialog-dialog yang semestinya penuh senyum dan canda. Karena berbeda maka saya dan Anda bersama, sepertinya menjadi narasi besar dari sebuah wacana besar belaka. Selayaknyakah, kita kembali bersembunyi di balik tempurung kita sendiri-sendiri?

Belahan lain dari dunia yang kini kudiami, banyak diantara penghuninya sedang merayakan kebencian. Pesta pora atas kematian, menista setiap detak nafas kehidupan. Mempersonifikasi ambisi pribadi menjadi kemauan ilahi. Teknologi membuat apa yang jauh, tampak nyata di depan mata.  Herannya, aku tak melihat Tuhan di sana.

Kuperjelas; dimana Engkau ya Tuhan ketika banyak penduduk Rohingya terlunta-lunta, gadis-gadis Yazidi menangis di lorong gelap yang mengerikan, anak-anak Palestina yang menjadi korban ambisi orang-orang tua diseputar mereka, penduduk Syria dan Irak yang tak berdaya dan bingung, siapa yang sebenarnya membela dan berada di pihak mereka, dan dimana Engkau ketika adik kecil  kami Intan Olivia harus menjadi korban dari sebuah keyakinan? Sekali lagi dimana Engkau Tuhan? Karena nyata di depan mata, mereka semua yang tak berdaya, sia-sia meregang nyawa. Engkau tega, dan tidak hadir di sana! Masihkah Engkau berdiam diri di singgasana kerajaanMu? Tanpa sedikitpun bersedia berbagi keadilan?

Aku terdiam, ketika perlahan nuraniku berbisik, menahan geram kudengarkan baik-baik. “Kenapa kau bertanya dimana Aku? Dan bukan justru bertanya dimana kamu, ketika semua itu terjadi?” Saat aku menggugat keberadaanNya, Tuhan justru menunjukkan eksistensi keberadaanku, bukan keberadaanNya. Aku, manusia adalah mahluk yang diperlengkapi dengan hati dan pikiran, serta tanggungjawab. Tanggungjawab itu adalah menghadirkan Tuhan dalam setiap langkah hidupku. JIka hari-hari ini aku begitu sulit menemukan Tuhan, barangkali ada begitu banyak aku-aku lain yang tidak lagi setia menjalani tanggungjawab itu.

TUhan, kuharap Engkau masih bersamaku!@

Iklan

November 23, 2016 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar