Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Tahun Baru Tanpa Resolusi

tanpa resolusi2016 sudah kujalani beberapa hari, aku belum juga menuliskan sesuatu sebagai harapan atau fokusku tahun ini. Beberapa bacaan motivasi dan clip atau acara televise telah kubaca dan tonton, tapi itu belum cukup ‘mendongkrak’ tubuhku untuk duduk di depan lap top untuk menulis. Menulis apa saja yang terkait dengan mimpi-mimpiku di tahun ini.

Barangkali aku akan menjalani tahun ini tanpa resolusi, meski tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi oleh banyak mimpi, tidak lagi kukutehui sejauh mana pencapaianku. Aku hanya tahu, aku masih guru, berangkat pagi-pulang petang, penghasilan kurang. Masih jauh dari apa yang kuimpikan; bebas secara financial. Guru masih pekerjaan utamaku, bukan panggilan hidupku, bukan pilihan. Padahal aku menginginkan menjadi guru adalah pilihan, karena kebebasan financial yang sudah kualami. Hidup dari royalty menulis. Tampaknya itu masih jauh.

Aku pernah membaca, hasil besar selalu diawali dari langkah pertama yang sederhana. Gerakkan dan terus ayunkan kaki. Aku sudah memulai melangkah, hambatan juga sudah menghadang, kadang berhasil kuatasi, namun titik terang belum tampak. Ini membuatku lelah. Aku memang pernah mengevaluasi, jika aku ini tipikal orang yang jago merencanakan, berani memulai, menghargai proses, namun abai pada hasil akhir. Sehingga semua yang kukerjakan hasilnya setengah mateng. Ketrampilanku itu serba tanggung.

Aku ini suka menunggu, jika diberi tanggungjawab akan kukerjakan, tetapi tidak berani berinisiatif untuk meminta atau mengambil tanggungjawab. Aku takut dibilang sombong, meski beda tipis dengan tidak pede. Padahal diera persaingan ini, aku mesti berani menjual diri. Menunjukkan siapa diriku. Aku suka dipuji, tapi tidak punya keberanian untuk menonjolkan diri, meski aku yakin aku mampu melakukannya. Aku hanya berharap seseorang menemukan diriku. Permata yang belum tergarap! Ini konyol, tetapi mungkin hal ini yang menghambat perkembangan potensi diriku.

Aku telah diberi potensi, tetapi membiarkan potensi itu membusuk. Modal yang memadai itu, tidak pernah menghasilkan surplus tetapi justru utang. JIka aku membayangkan seperti apa diriku di masa depan, mungkin aku hanya akan bisa bilang ; seandainya dulu aku melakukan ini, itu, anu dan sebagainya, barangkali aku tidak seperti sekarang ini? Sambil menitikkan air mata, dan menyesal ! Ah, itu mengerikan.

Lantas, kini apa? Mau menghidupkan kembali harapan menjadi seorang penulis? Pembicara public? Atau petani/peternak? Atau apa? Dua ribu enam belas, mau mewujudkan mimpi atau justru menggilas mimpiku.

Aku kini ingin meLakukanlah perlahan apa yang ingin kulakukan, mengerjakan apa yang kini bisa dikerjakan, perlahan mengarahkan apa yang bisa dikerjakan dengan sebuah impian. Sambil membayangkan istriku, anak-anakku, orang tuaku, orang-orang disekelilingku berbahagia atas apa yang kukerjakan.” @

 

 

Iklan

Januari 4, 2016 - Posted by | Pencerahan, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: