Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Berani Mengambil Resiko

bisnis-pasti-ada-resikoApakah aku sudah berada di zona nyaman, sehingga enggan untuk beranjak? Atau aku adalah pribadi yang memang tidak berani mengambil resiko? Ini sebagian dari banyak pertanyaan yang mulai menggelayuti pikiranku beberapa hari ini, setelah membaca tulisan Dio Martin di majalah Inspirasi. Padahal berani mengambil resiko, adalah syarat bagi seseorang untuk berhasil.

Semasa di Sonomartani, aku ini seorang pemimpi. Mimpiku barangkali tidak realistis, karena aku membayangkan diriku menjadi seseorang yang jauh dari apa yang bisa digapai oleh diriku secara realistis. Sekolah di SPMA dan menjadi seorang Insinyur pertanian. Untuk menjadi insinyur, aku tidak memiliki akses apapun, kecuali tahu bahwa itu bisa ditempuh dengan cara kuliah di perguruan tinggi, sebatas itu. Sekolah di SPMA yang setingkat dengan SMA pun, tidak banyak informasi untuk itu apalagi PT. Tak habis jari dari satu tangan untuk menghitung orang-orang di sekelilingku yang kukenal melanjutkan ke jenjang SMA. Itu pun mereka harus menempuh jarak 40 KM lebih, yang sulit dijangkau untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Tetapi dalam setiap anganku, tak kulihat bayangan kesulitan itu, aku hanya melihat diriku sebagai seorang Insinyur Pertanian.

Keluargaku pindah ke Singkut Jambi, mimpiku tidak berubah. Ada banyak hal kupikirkan dan kulakukan di sini. Itu semua menjadi pondasiku dalam berpikir kelak. Mulai dari keinginanku untuk pulang ke kampung kelahiranku sonomartani seorang diri. Padahal aku belum pernah melakukan perjalanan jauh sendirian, bahkan sendirian ke kota kecamatan pun belum pernah. Tetapi kali ini aku akan mencoba perjalanan antar propinsi yang membutuhkan dua siang satu malam perjalanan dengan bus. Memang, berhari-hari pikiran itu digelayuti dengan beragam kekuatiran namun sekaligus optimism. Kulakukan, ada yang menggelikan, namun setidaknya aku melatih mengeksekusi mimpi dan berhasil.

Di Singkut, tidak pernah terbersit di pikiranku bahwa keluargaku itu miskin, meski kenyataannya kami jauh dari berpunya. Bahkan untuk cukup pun sebenarnya belum. Pikiranku itu membuatku tidak pernah minder dalam bergaul, termasuk dalam menambatkan dan mengungkapkan perasaan pada orang yang kulihat mulai menyita perhatian. Meski aku sadar, ada persaingan untuk hal ini, namun aku selalu dibayangi dengan keyakinan. Punya motor, ganteng, wajar punya pacar cantik. Tetapi modal jalan kaki, wajah pas-pasan, punya pacar cantik; itu baru luar biasa. Itu motoku, yang aku tahu sering jadi tertawaan teman-teman. Tetapi sekali lagi, itu kueksekusi, gadis anak orang terpandang, cantik, kudekati dan kunyatakan sesuatu padanya. Waktu itu, sepeda untuk ke rumahnya pun kupinjam dari tetangga, dan kupilih sepeda yang terjelek.

Miskin informasi, kadangkala malah jadi keberuntungan. Sulitnya masuk PT, mahalnya biaya kuliah, tidak pernah kuketahui. Belum lagi, bagaimana indekost karena harus tinggal di Pulau Jawa yang sama sekali tidak pernah kuketahui. Tetapi itu semua membuat aku tidak pernah memikirkan keruwetannya. Di pikiranku hanya, kuliah di Jawa selepas SMA, jika perlu dalam setahun aku kerja dulu, selepas itu baru kuliah. Hanya dengan beberapa ratus ribu, hasil tabungan dari jual getah selama beberapa bulan dan salam temple jemaatnya bapak, aku berangkat. Ke belantara Jawa yang sama sekali belum ku kenal.

Mengingat apa yang sudah kulakukan, aku ini pengambil resiko. Lalu, apa yang membuat aku seolah berhenti dan berdiam diri pada kenyamanan? Dulu setiap resiko, kutanggung sendiri. Aku tidak mesti bertanggungjawab pada siapa pun kecuali pada diriku sendiri. Kini ada anak-anak, istri yang perlu kehadiran bapak dan suaminya. Itu kadang membuat nyaliku ciut. Aku tidak suka berkompetisi dan menciptakan konflik pada orang lain, sebab aku lebih suka membangun kompetisi dan konflik pada diriku sendiri. Tetapi dengan hidup berkeluarga, aku harus membangun dialog pada setiap component keluarga. Ini yang aku belum terbiasa, ini mempengaruhi caraku berpikir. Jalan dan pilihan moderat, seringkali kuambil sebagai solusi. Karena ini tidak beresiko. Sayangnya itu tidak mengantarkan aku kemana-mana, demikian juga keluargaku. Apakah pilihan-pilihan moderat yang tidak banyak resiko seperti yang kuambil ini tidak akan mengantarkan seseorang ke gerbang kesuksesan? Atau hanya yang beresiko saja? @

Iklan

Desember 22, 2015 - Posted by | Renungan |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: