Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Mengenal diri Solusi menghadapi Fluktuasi Mood Menulis

mood nulisDokter dapat mengobati penyakit pasien, jika ia tahu akar dari penyakit pasien. Tukang tambal ban juga demikian, ia menembel tepat pada sasaran. Artinya, dengan mengetahui akar masalah, seseorang akan dengan mudah mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Namun ini bukan berarti saya focus pada masalah. Ini dilakukan agar kekuatan dan kelebihan dapat teroptimasi untuk mengeliminir kelemahan dan kekuarangan.

Berdasar pemahaman seperti itulah, saya belajar mengurai persoalan-persoalan yang selama ini saya anggap membuat diri saya ‘berjalan ditempat’, terutama terkait dengan mimpi-mimpi saya. Saya bermimpi dapat menerbitkan buku, menjadi trainer di bidang pendidikan, leadership, character atau segala yang ber’bau’ pengembangan sumber daya manusia, dan natinya mengajar adalah sebuah pilihan yang membuat saya tidak terbebani dengan urusan financial. Prinsipnya, menulis dan mengajar menghantarkan saya pada kebebasan financial yang nantinya akan saya gunakan untuk menulis dan mengajar kembali.

Mewujudkan mimpi memang tidak sederhana. Menulis buku, ternyata butuh konsistensi dan terus menjaga keajegan ide. Sementara, mood saya fluktuatif. Jika sedang on the track, bisa berjam-jam seharian tidak kehilangan bahan untuk saya tuliskan. Namun jika terganggu sedikit saja dengan apa yang tidak terduga, mood itu langsung menghilang. Saya menyebutnya sebagai jeda. Butuh waktu tidak sebentar untuk mengembalikan mood itu. Tetapi itupun tidak lantas membuat saya kembali pada ide-ide terdahulu. Inilah yang saya sebut sebagai sulitnya menjaga keajegan ide. Selalu ada ide-ide baru untuk dituliskan dengan belum rampungnya ide-ide yang sudah sempat saya tulis. Alhasil, semuanya tidak terselesaikan.

Lama saya bergelut dengan kondisi itu, lalu saya pun belajar mengubah mental saya. Awalnya menulis ya menulis saja, tetapi saya mulai berpikir pada hasil. Jika saya mulai menulis, maka harus ada hasil tulisan yang tuntas, meski tulisan itu pendek. Saya tidak akan beranjak sebelum tulisan yang sudah saya mulai itu terselesaikan. Maka saya pun menggunakan pendekatan ; menulis tiga paragraph. Alasannya, tiga paragraph itu sudah memenuhi standar penulisan minimal sebuah opini. Pengantar, inti masalah dan penutup.

Saya menganggap trik itu berhasil, meski singkat setiap kali ada ide saya mampu membahasakannya dalam tulisan. Trik ini kemudian saya kembangkan untuk penulisan saya selanjutnya, bagi tulisan yang panjang, saya membaginya ke dalam sub-sub judul yang lebih pendek. Sangat membantu, meski terkadang benang merahnya agak kabur. Ini bisa disiasati pada saat mengedit.

Di awal tadi selain ide yang meloncat-loncat dan tidak tuntas ditulis, saya juga menghadapi mood yang fluktuatif. Solusinya, pada saat mood sedang on the track, saya terus menulis dan menulis. Baru setelah mood tidak lagi bersahabat, saya gunakan untuk membaca-baca ulang tulisan-tulisan tersebut. Mengedit dan mempostingnya. Biasanya mood saya akan  sedikit demi sedikit terdongkrak. Mudah-mudahan, nanti saya akan benar-benar berhasil menulis sebuah buku.@

Tulisanku  terbaru lainnya :

Iklan

November 22, 2014 - Posted by | Pencerahan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: