Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Untuk Ibuku

ibuKala mendengar, ia sakit, aku hanya bisa termangu. Menundukkan kepala, memohon belas kasihNya, memberi ibuku kesehatan.   Aku tidak dapat berbuat lebih. Padahal barangkali, dalam sakitnya ada rindunya yang tertahan untukku. Tetapi kini aku adalah bagian dari keluarga yang berbeda, ada tanggungjawab yang kuemban, seperti apa yang telah ia ajarkan padaku. Membahagiakannya dengan memberikan yang terbaik untuk cucu-cucunya. Sehingga aku tidak dapat setiap waktu menemaninya. Bahkan di saat-saat ia membutuhkan aku sekalipun.

Ibu pernah mengajarkan bahwa prioritas tannggungjawab hidup itu bergulir. Kakek membesarkan ibu, ibu membesarkan aku, dan aku membesarkan anak-anakku. Karena apa yang ia yakini itulah, ibu selalu menyembunyikan sakit dan kegelisahannya. Ia tidak ingin sama sekali membebani anak-anaknya. Selain itu ibu juga tahu bagaimana kehidupanku sehari-hari. Jalanku belum sepenuhnya tegak. Sedikit saja beban itu bertambah, bukan tidak mungkin aku ambruk. Meski kelihatannya kokoh.

Ibu, kau sangat mengerti aku anakmu. Karena pengertianmu itu, dalam sakitmu kinipun engkau masih membisu. Seolah tak terjadi sesuatu padamu. Padahal aku juga tahu, ada begitu banyak hal yang engkau tahan. Tetapi engkau tetap melebarkan senyumanmu, untukku dan keluargaku, cucu-cucumu.

Butiran obat itu sebenarnya bukan penyembuh sakitmu, tapi tawa kami, anak dan cucumu. Masih mampukah engkau dengar tawa cucumu? Putri-putriku, kini mereka belajar menyebut namamu dalam doa mereka. Ucapannya memang tidak terlalu benar, tetapi aku yakin Tuhan tahu maksud meraka. Aku juga yakin ibu merasakan getarannya. Hanya itu yang mampu kami kirim dari kejauhan. Samar, namun kami berusaha membungkusnya dalam ketulusan. Itulah kekayaan yang kami punya, semoga dapat membuatmu kembali tegar seperti sedia kala. Agar engkau masih dapat membuat bapakku tersenyum. Cepat sembuh ibu !

November 22, 2014 Posted by | Renungan | Tinggalkan komentar

Mengenal diri Solusi menghadapi Fluktuasi Mood Menulis

mood nulisDokter dapat mengobati penyakit pasien, jika ia tahu akar dari penyakit pasien. Tukang tambal ban juga demikian, ia menembel tepat pada sasaran. Artinya, dengan mengetahui akar masalah, seseorang akan dengan mudah mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Namun ini bukan berarti saya focus pada masalah. Ini dilakukan agar kekuatan dan kelebihan dapat teroptimasi untuk mengeliminir kelemahan dan kekuarangan.

Berdasar pemahaman seperti itulah, saya belajar mengurai persoalan-persoalan yang selama ini saya anggap membuat diri saya ‘berjalan ditempat’, terutama terkait dengan mimpi-mimpi saya. Saya bermimpi dapat menerbitkan buku, menjadi trainer di bidang pendidikan, leadership, character atau segala yang ber’bau’ pengembangan sumber daya manusia, dan natinya mengajar adalah sebuah pilihan yang membuat saya tidak terbebani dengan urusan financial. Prinsipnya, menulis dan mengajar menghantarkan saya pada kebebasan financial yang nantinya akan saya gunakan untuk menulis dan mengajar kembali.

Baca lebih lanjut

November 22, 2014 Posted by | Pencerahan | , | Tinggalkan komentar