Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Refleksi Iman ; Resolusi 2014

doaUsaha sudah dilakukan, hasil  terserah Tuhan. Tugasku, hanya melakukan yang terbaik. Hanya itu. Sederhana dan simple. 2014, adalah tahun yang akan kugunakan segenap energy untuk menulis. Menghasilkan karya, berorientasi pada apa yang masyarakat butuhkan. Atau mengedukasi, hal-hal apa yang sebenarnya mereka butuh, tapi mereka tak menyadarinya. Namun agar empiris, semua harus berdasar pada’ apa yang ada’ padaku.

Mimpiku jelas, merdeka secara financial. Bukan untukku semata, tetapi bagi anakku, istriku, keluargaku, dan orang-orang yang barangkali membutuhkan aku. Aku punya waktu, saat anak dan istriku memerlukan. Punya sedikit rejeki untuk menyenangkan keluarga besarku, meski hanya makan di mall. Atau membangun kebersamaan. Atau mungkin aku bisa membelikan obat, saat orang tuaku sakit. Aku tak perlu mengernyitkan dahi untuk perkara-perkara itu. Bagi orang-orang disekelilingku, aku bisa berbagi kasih. Apa saja yang aku bisa, karena aku punya kesempatan dan waktunya. Itu mimpiku.

Sepanjang tahun ini, Tuhan sudah memberi banyak hal baik bagi hidupku dan keluargaku. Hal terbesarnya adalah; Tuhan menjawab keraguanku. Kekuatiranku saat istriku berhenti kerja, memang berdasar. Keputusan yang membuat jantungku berdetak lebih kencang. Tapi ternyata, itu tak membuat kami jatuh dalam kubangan financial. Aku tetap bisa melakukan yang sebelumnya memang sudah kulakukan. Bahkan, di akhir tahun ini, kami bisa membeli mobil untuk mengganti mobil kami yang sudah usang. Memang, ini mobil murah, bisa membelinya cash, ini yang membuatnya tidak murah.

Kebaikan-kebaikan Tuhan ini, menyisakan kegelisahan dalam hati dan pikiranku. Banyak hal yang kami perlu, tapi itu tidak kami minta dan naikkan dalam doa, Tuhan melengkapinya. Aku juga tak sepenuhnya menjadi teladan baik bagi perkembangan spiritual anak-anakku. Justru bagiku, anak-anak itulah teladanku. Di sisi yang lain, aku tak berani berjanji, membangun sebuah resolusi iman untuk tahun 2014. Padahal ini adalah pondasi, sebab hubungan yang terjaga dengan Tuhan-lah yang membuat hubunganku dengan sesama menjadi indah.

Begitu mudah aku membuat resolusi financial di 2014, tetapi begitu berat membuat resolusi iman di 2014. Keberadaanku yang ‘telanjang’ di hadapanNya, membuatku tak dapat menyembunyikan apapun. Aku tak dapat kelihatan taat, karena Ia meneliti hingga ke hati dan apa yang sedang kupikirkan. Ia tahu, perbuatanku sedang kulakukan untuk apa; Tuhan apa Hantu. Sehingga, untuk 2014, aku hanya ingin melakukan yang terbaik di setiap kesempatan yang sudah Tuhan percayakan padaku. Dan menghidupi prinsip, keseharianku, aktifitasku adalah ibadahku. Melakukan yang terbaik sebisaku. Selanjutnya terserah Tuhan menilaiku. Hanya itu.

 

Iklan

Desember 27, 2013 - Posted by | Renungan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: