Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

W a r n a G e n d e r

warnaPulang kerja, untuk menghilangkan rasa lelah, kurebahkan tubuhku di kamar. Kutemukan gelang warna pink milik anakku tergeletak. Tak berpikir apa-apa, kukenakan gelang itu. Tak berapa lama, anak-anakku menyusul. Seperti hari-hari sebelumnya, mengusik ketenanganku. Tak peduli dengan keinginanku menghilangkan penat. Percuma menghardik mereka. Boros energy.

Kembar memperhatikanku serius, tak berapa lama mereka berkomentar. Seperti kaget, juga heran; “papa pakai gelang! Emang papa perempuan?” Aku tersemyum. Kucoba mengerti maksudnya. “Emang kenapa?” tanyaku. “Ini kan gelang warna pink!” tegas putri kembarku yang sebentar lagi berulang tahun kelima. “Emang papa gak boleh pakai warna pink” selidikku. “Gak boleh!” Jawab mereka serentak dan tegas. Mendengar percakapan kami, putri sulungku menghampiri. “Kakak lihat di tempat beli baju; ada warna kuning, purple, biru, tapi untuk cowok gak ada warna pink.” Ia menegaskan pernyataan adik-adikknya sebelumnya.

Kulihat anak-anakku terganggu saat papanya pakai gelang, warna pink lagi. Bahkan Delyn mulai menambahkan; “kalau pakai pink, besok-besok papa rambutnya harus panjang.” Semakin jelas jalan pikiran mereka, warna memiliki keterkaitan erat dengan jenis kelamin.  Jalan pikiran mereka sederhana, namun ungkapan mereka mencerminkan sebuah konstruksi budaya yang mengakar dan secara sengaja diturunkan secara terus menerus. Meskipun bukan hal yang prinsip. Aku jadi berpikir, bahwa masyarakat kita dibiasakan berpikir pada hal-hal yang sebenarnya bukanlah persoalan prinsipial. Hanya pernak-pernik, sepele. Cara berpikir anakku adalah hasil produk tersebut.

Barangkali aku adalah bagian yang memiliki andil besar dalam men-genderkan warna. Belum lagi pekerjaan, peran dalam rumah tangga dan tanggungjawab pada sebuah organisasi. Beberapa waktu yang lalu, aku mendampingi anakku belajar bahasa Indonesia. Jelas dinyatakan bahwa yang bekerja adalah papa, dan yang memasak adalah mama. Malang bagi ibu-ibu yang bekerja, dan papa yang pintar masak, sebab di mata anaknya; mereka semua abnormal. Sebab siapapun tahu, bahwa anak yang sekolah di TK dan SD lebih percaya pada gurunya, ketimbang papa dan mamanya. Dan guru sangat percaya pada buku teks-nya, ketimbang berimprovisasi. Sehingga bukannya tidak mungkin, besok-besok anakku protes berat saat melihat papanya mengepel lantai, sementara mamanya berangkat ke kantor.

Iklan

Desember 12, 2013 - Posted by | Putriku | , ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: