Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Saat Anakku Harus Menunggu

DeynaKamis yang lalu, hari kedua anakku, Deyna masuk sekolah, seminggu libur lebaran. Tidak ada pelajaran, waktu yang ada dipakai untuk acara perlombaan, memperingati Agustusan. Setelah mengantar, aku bertanya pada salah seorang guru, pulangnya nanti sekitar jam berapa? “Jam 11-an, berlaku untuk semua kelas, termasuk untuk kelas 1 dan 2”, beliau menegaskan.  Aku pun mantap meninggalkan Deyna di sekolah, dan berjanji menjemputnya sebelum jam pulang.

Rencananya aku akan ke Toko Material, karena agendaku hari ini rapiin keramik yang pecah-pecah. Sayang tak ada satupun toko material buka, mungkin masih pada di kampong pegawainya. Karena masih punya cukup waktu, sesampainya dirumah kugunakan untuk kemballi menulis. Apalagi istriku menyarankan untuk menjemputnya jam 10-an lewat saja. Sekalian sama-sama, karena ia berniat membawa putri kembarku ke salon, merapikan rambutnya. Akupun setuju.

Jam 10-an lebih, aku, istri dan putri kembarku berangkat menjemput Deyna. Di jalan istriku mencoba menelpon ‘mama’, mertuaku, mengatakan kalau akan mampir setelah menjempiut Deyna. Saat itulah istriku dikabari, jika baru saja gurunya Deyna menelpon kalau dia sudah pulang dan menunggu di jemput. Kami pun bertanya-tanya; apakah Deyna nangis, karena menunggu kami yang terlalu lama? Atau dia berinisiatif untuk minta tolong pada gurunya? Tapi yang kedua rasanya tidak mungkin, karena kami tahu bagaimana Deyna.

Saat kami sampai, saat itu kami lihat Deyna sudah menunggu. Tepat di bawah pohon yang ia ceritakan padaku tadi pagi; “kalau papa belum datang, Deyna nanti menunggunya di bawah pohon itu”. Senyumnya mengembang, lantas berlari kecil menghampiri kami. Tak ada sedikitpun kemarahan , kecewa atau kesal pada kami. Sehingga kami berpikir mungkin dia belum lama menunggu kami.

Setelah di rumah mama, kami baru tahu bahwa Deyna sudah hampir satu jam di tempat itu menunggu kami. Karena si penelpon mama, bukan gurunya tapi orangtua  teman parallel kelas 1 anakku.  Dia mengatakan kalau kelas 1 pulang jam 9.30, dan sejak itulah Deyna menunggu kami. Kami agak terkejut juga, tetapi juga sekaligus kagum pada anakku.

Kami tahu Deyna, di depan rumah sendiripun dia tidak berani. Di sekolah, sejak masih TK dia penyendiri. Kami menganggap PD-nya mungkin belum berkembang, sehingga istriku mencoba mengikutkan pada less yang dapat meningkatkan PDnya. Hingga hari ini, masih sulit memberikan jawaban apabila ditanya oleh orang yang belum dekat, bahkan oleh gurunya. Setahu kami, di sekolah SD-nya ini dia belum memiliki teman bermain. Padahal sudah hampir dua bulan.  Tapi hari ini, dia dapat menunggu kami di tempat yang mungkin masih asing selama hampir satu jam. Apalagi ekspresinya tak menunjukkan kecewa, justru sangat ceria ketika kami datang. Jujur semua ini membuat aku terharu, dan ingat pada diriku sendiri.

Aku memang memiliki banyak teman waktu kecil, mungkin karena aku tinggal di kampong. Tetapi aku tidak terlalu menyukai kerumunan. Bahkan aku seringkali hanya menjadi pengamat saat temanku bermain di halaman rumah. Aku tidak merasa ‘ditinggalkan’ atau kesepian, aku menikmati keadaan itu. Karena aku hanya mencoba memperhatikan mereka.

Bukan tabiatku untuk menunjukkan diri, tetapi kalau diminta, aku akan kerjakan sekuat tenagaku. Aku tak ingin mengecewakan oranng yang sudah mempercayaiku. Itu tabiatku hingga menjadi dewasa. Namun, aku masih tak menyukai kerumunan, dan tak bersikap  akrab ditempat-tempat baru. Aku selalu menunggu, bukan pengambil inisiatif. Apakah apa yang kini kulihat pada anakku adalah karakterku yang menurun, apakah mungkin genetic? Entahlah, namun anakku telah mengingatkan banyak hal dalam hidupku.

Iklan

November 1, 2013 - Posted by | Kekasihku |

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: