Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Belajar dari Ikan Mas

teknik-memancing-ikan-masGagal dengan budidaya lobster, yang tersisa hanya puluhan ikan mas. Semula ikan-ikan itu hanya kumanfaatkan sebagai pemakan jentik nyamuk di bak pembesaran lobster. Tak mungkin kubuang, apalagi ikan-ikan itu ternyata tumbuh, menyenangkan untuk dilihat. Kuputuskan untuk kupindah ke bak yang lebih besar, bak semen bersama beberapa lobster yang masih hidup. Agar gampang merawatnya, karena semua sudah jadi satu. Tak ada lagi bak-bak plastic yang berjajar dengan ukuran lobter yang berbeda-beda. Gemericik aliran air tak lagi terdengar di masing-masing bak tersebut. Aku telah bangkrut, namun ikan-ikan mas yang ada, menghibur juga untuk terus kupelihara.

 

Merawatnya tak serumit lobster, yang penting pemutar air dan gelembung udara berfungsi. Pagi dan sore hari beri makan, cukup. Seandainya pun aku malas memberi makan, ikan-ikan itu tak kelihatan sakit meski tak makan lebih dari dua hari. Namun kuusahakan memperlakukannya seperti halnya lobster, dengan  standar minimal.

 

Seiring pertumbuhannya, ternyata keberadaan ikan-ikan tersebut cukup memberiku hiburan tersendiri. Sepulang kerja, sambil memberi makan. Kunikmati prilakunya yang rakus, dengan monyong mulutnya yang senantiasa ia tengadahkan ke atas. Ikan-ikan itu bergerombol seperti menyambutku, membuat rasa stressku perlahan terurai. Entah kenapa aku jadi semakin sering, terdorong untuk memperhatikan ikan-ikan mas tersebut. Setidaknya kini pagi pun tak pernah lupa untuk kusambangi sebelum berangkat kerja denngan memberikan  beberapa tabur umpan.

Menariknya lagi, ikan-ikan mas itu seperti tahu saat-saat aku hadir di kolam. Dengan atau tanpa umpan, setiap aku datang ia bergerombol berenang mendekat. Aku semakin takjub saat tanganku kucoba masukkan ke dalam kolam, sama sekali mereka tak terusik, justru berenang mendekat dan menempel di tanganku. Aneh, ikan-ikan ternyata juga punya sikap jinak, seperti tahu siapa pemiliknya. Padahal yang kumengerti selama ini, yang memiliki prilaku seperti itu adalah hewan seperti anjing, kucing, burung atau semacamnya. Sama sekali tak terpikirkan untuk ikan.

Ikan masku jinak atau hanya mengerti kebiasaan, aku tak tahu pasti. Namun satu hal yang kupelajari, ikan-ikan ini tahu kebiasaan kehadiranku, merawatnya, sama sekali tak pernah membuat mereka merasa terancam.  Terancam akan membuat mereka kabur. Ikan saja secara alamiah sangat memahami akan hal itu, terlebih manusia. Memahami ikan, karena ternyata lebih dulu aku dipahami. Pemahaman ikan, menuntunku pada gelombang rasa yang berlaku universal. Perasaan kasih ternyata mampu dimengerti oleh seisi alam, tak terkecuali dengan apa dan siapa kita berhadapan. Keberadaannya bukan milik manusia semata. Keberadaannya mampu dimengerti oleh semua, barangkali bukan hanya oleh yang hidup di alam ini, namun juga bagi yang kita anggap benda mati. Jika mereka semua mengerti setiap pancaran gelombang dari hati kita, bagaimana kita harus bersikap pada alam ini?

Iklan

Agustus 22, 2013 - Posted by | Renungan

2 Komentar »

  1. Reblogged this on Mahfudz spdi smpn 1 mantup.

    Komentar oleh mahfudzspdi | September 13, 2013 | Balas

  2. cukup baik

    Komentar oleh salwa | Januari 12, 2014 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: