Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Nenekku tidak Buta Huruf

 

nenekSewaktu aku masih kecil, aku pernah tinggal dengan nenekku di Solo beberapa bulan. Karena bapakku harus kembali bertugas sebagai tenaga honorer, akhirnya nenek kami bawa ke Sumatera Utara untuk tinggal bersama kami. Dalam banyak hal nenekku termasuk cerewet, tetapi aku suka denngan cerita-ceritanya, terutama pengalamannya selama hidup di tiga jaman; Belanda, Jepang, dan juga masa Indonesia Merdeka.

Karena bukan orang politik, banyak hal jujur yang selama ini tak kuperoleh dalam pembelajaran sejarah di sekolah. Ini semua kusimpan dalam alam pengetahuanku, memperkaya hidupku. Membuat aku tak terlalu cepat menjatuhkan ‘vonis’ pada suatu keadaan hanya berdasarkan kata orang dan kurikulum pendidikan. Termasuk pada satu hal yang pada saat hidupnya disandang oleh nenekku. Predikat yang dilekatkan oleh para penyensus, pada nenekku, yaitu Buta Huruf.

Semula aku tak begitu peduli dengan hal tersebut, bahkan hingga nenekku meninggal dunia. Namun setelah mencoba memahami artinya nasionalisme, aku menjadi sangat tergelitik. Karena aku sangat tahu bahwa nenekku bisa menulis, dalam bentuk tulisan Jawa ; ha na ca ra ka. Tidak hanya sekedar menuliskan namanya, bahkan untuk membuat deskripsi pun mampu. Lalu kenapa dia disebut Buta HUruf? Jawabannya jelas,  hanya karena beliau tidak mengerti baca tulis huruf latin?

Mencermati hal ini, aku jadi berpikir, bahwa banyak pihak di negeri ini tidak paham apa artinya idenditas bangsa. Jepang, Thailand, China  adalah bangsa yang tidak perlu mengubah apa yang selama ini dipahami rakyatnya dalam hal baca tulis. Toh, Jepang, China dan Thailand rakyatnya tidak di cap buta huruf. Hasilnya pun, selalu ada petunjuk menggunakan huruf-huruf tersebut dalam gadget yang notabene adalah perangkat modern. Mereka jelas bukan bangsa yang tertinggal, meski menggunakan tulisan mereka sendiri. Sementara kita?

Memiliki banyak potensi budaya, namun lebih suka mengenakan budaya oranng lain, barangkali adalah ungkapan yang tepat untuk menggambarkan keadaan kita. Apakah ini adalah satu bentuk ekspresi inferioritas bangsa yang terlalu lama dijajah, atau karena kita keliru memandang arti kesejajaran dalam percaturan internasional sebagai bangsa yang merdeka. Entahlah, butuh penelitian mendalam untuk menganalisis syndrome tersebut. Tetapi sebagai anak bangsa yang belum sepenuhnya berdaya, aku akan terus menerus mengkritisi persoalan ini. Siapa bersepakat denganku?

Iklan

Juni 4, 2013 - Posted by | Opini, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: