Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Belajar dari pertanyaan putriku

deynaPutri sulungku sudah mulai bisa membaca. Dimanapun ia berusaha untuk mengeja apapun.  Banyak kosa kata baru ia temukan. Ini baik bagi perkembangan pengetahuannya. Ketika ia menemukan hal yang tidak ia mengerti, ia selalu bertanya padaku atau mamanya. Dari sekian banyak hal yang berhasil ia baca, sebagian besar diantaranya adalah apa yang dia tidak mengerti. Karena nyaris selalu ada pertanyaan setelahnya, …itu artinya apa? Begitu biasanya putriku bertanya. Dimataku dia semakin cerewet saja, dan selalu ingin tahu.

Ada yang bisa kami jelaskan, namun ternyata ada juga banyak hal yang kami mengerti, tetapi sulit sekali bagi kami untuk menjelaskan. Meski yang putriku tanyakan adalah hal—hal yang sangat sederhana . Kadang juga meskipun kami bisa menjelaskan, putriku memahaminya berbeda. Seperti pada saat kami pulang beberapa waktu yang lalu, dia berhasil mengeja kata ‘anti rayap’ pada sebuah tiang listrik yang kami lewati. Kemudian dia bertanya ; rayap itu apa? Istriku menjelaskan; rayap itu binatang yang suka memakan kayu. Mendengar itu anakku pun terdiam. Tak ada lagi pertanyaan lanjutan.

Beberapa hari kemudian, saat kami lewat di tempat yang sama, putriku mendeskripsikan binatang tertentu, dan bertanya pada kami, binatang itu apa namanya. Dari pertanyaannya dia sepertinya lupa binatang itu. Dia hanya tahu bahwa binatang itu ganas. Dari pertanyaannya, kami menduga binatang itu adalah Harimau, gajah atau jenis binatang buas atau setidaknya  wujudnya pasti besar. Tetapi dari sekian banyak jawaban yang kami berikan, tak satupun ia nyatakan benar. Baru setelah ia menjelaskan apa yang ia baca tempo hari, istriku teringat bahwa dia mengeja kata rayap, dan putriku pun mengangguk, karena binatang itulah yang dia maksud.

Ternyata putriku memiliki bayangan yang sama sekali berbeda sebagai hasil dari penyerapan kalimat istriku tempo hari pada kata rayap. Padahal apa yang ia tanyakan adalah hal yang jelas-jelas kami mengerti, dari bentuk maupun prilakunya. Namun itu bukan sebuah jaminan kami mampu memberikan pemahaman yang sama pada putriku seperti apa yang kami ketahui dan pahami. Ternyata mentransfer pengetahuan, bukanlah pekerjaan mudah. Akupun mulai disadarkan akan realitas ini.

Apa yang kita yakini, mengerti dan pahami, kita sampaikan pada orang lain dengan cara kita. Kita pun meyakini, seseorang mengerti seperti apa yang kita mengerti. Kitapun berharap ia akan paham dan meyakini seperti apa yang kita yakini. Tetapi ada hal yang kita lupa, bahwa orang lain punya daya nalar yang berbeda, cara berpikir yang sama sekali beda dengan kita. Jika kita menyampaikan hanya berupa deskripsi, dia memiliki daya imajinasinya sendiri. Seperti halnya mendengarkan sandiwara di radio, kita dengarkan pada radio yang sama, lakon yang sama, saya yakin ada banyak gambaran yang berbeda di kepala kita yang bersama-sama mendengarkan itu. Tidak ada yang salah dalam hal ini, ini hakikat manusia yang unik secara pribadi.

Karena keunikan ini, adalah esensi dasar dari kemulian manusia, sehingga tak perlu kita menggugatnya. Dan sama sekali tak perlu menjustifikasi seseorang dengan kata; bodoh! Hanya karena dia memahami berbeda dari apa yang kita pahami. Karena bisa saja dia memiliki pemahaman jauh lebih baik dari apa yang kita pahami melalui pengalaman dan tangkapan visual dari kita pada saat ia menerima sebuah penjelasan.

Iklan

Juni 3, 2013 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: