Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Terima Kasih Papa !

Sudah menjadi kebiasaan Delia salah satu dari putri kembarku saat sakit, cengeng dan selalu merengek, bahkan untuk makan sulit sekali. Memang selalu ada yang diminta untuk dimakan, tetapi tak ada yang benar-benar ia makan. Seperti halnya kali ini, karena berbagai pertimbangan, aku bolos ngajar dan memilih nunngguin anak-anakku, yang kali ini ketiga-tiganya sakit. Sedari pagi memang aku sudah melayani mereka dengan memenuhi berbagai permintaan, tetapi tetap saja ada yang kurang dimata-anak-anakku. Apalagi saat-saat seperti ini, mereka berebut mendapat perhatian dariku, dan tidak bersedia dengan orang lain. Namun dari ketiganya, Delia memang yang paling rewel. Ketika saudaranya sudah bersedia untuk makan, dia terus saja minta ini dan itu, dan aku juga tahu ujung-ujungnya tak ada yang ia makan.

Lewat jam makan siang, Delia masih saja merengek, kali ini dia minta makanan seperti yang masih dimakan kakaknya; nasi putih dengan telor ceplok. Sederhana, tetapi aku malas sekali mengabulkan keinnginannya kali ini, aku sudah membujuknya sejak tadi untuk makan makanan yang sudah tersedia dan itu juga yang dia minta. Karena terus merengek, aku pun ingin mengabulkan keinginannya tetapi dengan sedikit ‘ancaman’, dan dia setuju.

Dengan tenaga yang tak lagi prima, kudengar kembarannya juga minta hal yang sama, jadi kubuatkan mereka sebanyak dua porsi. Sebenarnya apa yang kulakukan bukanlah perbuatan yang berat, dan membutuhkan waktu tak lebih dari 5 menit. Namun karena berbagai hal, pekerjaan itu terasa sangat melelahkan, atau mungkin aku benar-benar sudah lelah.

Agak tak sepenuh hati, kuhidangkan pesanan anak-anakku, dan aku ingin kembali mengulang perjanjiannya yang sebenarnya ancamanku, namun belum sempat itu keluar dari mulutku , kudengar kalimat dari anakku dengan ekspresi yang sangat tulus dan senyum yang bagiku sangat manis. “Terimakasih Papa!” Aku tertegun mendengarnya, lelahku hilanng seketika. Anakku yang bulan ini genap tiga tahun mengucapkan itu padaku, aku serasa tak percaya. Mungkin jika ini adalah hal yang sudah biasa, aku tak akan terkejut, tetapi aku tak terlalu fasih menngajarkannya. Duh, anakku…., bahkan sampai sekarang pun, aku lupa baru berapa kali berterimaksih pada istriku. Mungkin belum seluruh jariku habis untuk menghitungnya. Nak…,hari ini kamu telah menjadi mentor kehidupan bagi papamu, terimakasih kembali anakku.

 

Iklan

Februari 9, 2012 - Posted by | Uncategorized

2 Komentar »

  1. Very inspiring…..”Belajar” memang tidak selalu dari orang tua atau orang yang lebih tua….Kita bisa banyak belajar dari siapa saja, bahkan dari seseorang (seperti Delia kecil) yang sering kali kita remehkan keberadaannya ya pak Julius.

    Komentar oleh Evie S Darmadi | Maret 26, 2012 | Balas

  2. Betul mam, mkasih tanggapannya ya..

    Komentar oleh Jls | Maret 27, 2012 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: