Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Resolusi 2012

Saya sudah lama ingin keluar dari rutinitas, dan menginginkan memiliki banyak waktu bagi keluarga, diri sendiri dan kegiatan social.  Itu semua dapat tercapai ketika dalam banyak hal, saya sudah bisa memilih, dan melakukan aktifitas apapun sebagai pilihan. Sebab sepertinya hal itu memiliki nilai ‘kenikmatan’ tersendiri, misalnya menjadi guru adalah pilihan, dan bukan itu adalah satu-satunya profesi yang harus saya jalani, dan oleh karena keberadaannya saya bisa makan. Sehingga bagi saya menjadi guru bukanlah pilihan tetapi sesuatu yang harus saya jalani. Walaupun dalam banyak hal ini memang pilihan dari karier professional saya. Mungkin ini agak sulit untuk dipahami, tetapi ada satu penjelasan saya yang sederhana begini ; rasanya akan beda ketika saya memilih untuk naik sepeda, meski sesungguhnya saya bisa memilih naik motor atau mobil, daripada naik sepeda adalah satu-satunya kendaraan yang bisa saya naiki karena hanya itu yang saya punya. Artinya naik sepeda bukanlah pilihan tetapi adalah keharusan.

Profesi dan kebedaradaan financial saya saat ini sebenarnya sudah melampaui dari ekspektasi saya, meski tidak demikian dengan istri saya. Saya dilahirkan ditengah situasi miskin, meski saya tidak pernah merasa demikian, tetapi merasa dan realitas miskin adalah hal yang berbeda. Keluarga saya secara materi memang keluarga prasejahtera, dengan berjuta idealism yang ada dikepala sehingga saya kaya dalam pesona wacana, meski memang kami tak memiliki apa-apa. Sementara istriku dilahirkan dari keluarga yang sejak kelahirannhya sudah sama bahkan sedikit lebih dari pencapaianku saat ini, sehingga start kami jelas beda. Dan dalam banyak hal memang, kekayaan wacanaku tak cukup membuat kami bersepakat . Namun tak juga membuat kami tak bersatu.

Belakangan saya menyadari bahwa saya harus mulai melakukan dekonstruksi wacana yang selama ini saya miliki, karena dalam banyak hal di dalam dunia professional membuat kami kehilangan kemerdekaan. Bahkan parahnya secara kolektif kami belajar untuk mengingkari nurani kemanusiaan, ini keji tetapi sebuah realitas yang sedang bergulir dan perlahan melindas kami. Saya mulai berpikir untuk kembali menggagas teks proklamasi kemerdekaan, kemerdekaan bagi kami, dan nilai-nilai luhur yang selama ini kami yakini menjadi dasar bagi pentingnya kemerdekaan itu.

Kemerdekaan financial dan berpikir melampaui batas adalah kata yang akrab bagi saya kemudian. Beragam angan berkelebat di kepala, tetapi sekali lagi mimpi akan tetap menggantung tanpa sebuah keberanian dan langkah untuk mewujudkannya. Mimpi juga akan menghadirkan kekecewaan apabila keberanian dan langkah dilakukan tanpa perhitungan. Terlalu lama membuat perhitungan juga akan menghadirkan keraguan. Ini memanng benar-benar perkara yang pelik. Ratusan nasehat, mulai yang dapat dipungut gratisan dipinggir jalan hingga ke perhelatan mahal melalui seminar banyak saya dengar, semua itu meyakinkan saya tak ada sesuatu yang benar-benar instan. Selalu ada harga yang harus dibayar, tetapi semua itu adalah investasi karena ada pembelajaran penting yang akan diperoleh.

Dengan keberadaan saya saat ini, jelas membuat saya tak memiliki banyak pilihan. Saya digerakkan oleh sebuah system, dan jelas bukan saya pengendali utama diri system itu, bahkan sekali lagi saya tak memiliki kuasa atas diri saya sendiri. Saya telah menjadi manusia terjajah dalam pengertian yang sesungguhnya. Ini tak akan berubah, selama saya berada dalam system. Keluar dari system mungkin saya hanya akan masuk ke dalam system yang lain yang sama parahnya. Membuat untuk memiliki system sendiri, saya sama sekali tak berpengalaman. Sehingga peluang untuk gagal jelas tergambar di depan mata. Tetapi lebih baik gagal dari pada tak pernah gagal karena memang tak pernah mencoba.

Tahun baru, adalah musim pembuatan resolusi yang merupakan hasil dari sebuah introspeksi, identifikasi dan refleksi.  Ini adalah proses komprehensif  antara mimpi dan potensi. Saya pun mulai mengidentifikasi dari sekian mimpi yang paling sering menggelisahkan saya. Dan menjadi penulis, adalah mimpi yang hingga hari ini tak tergerus oleh bayang-bayang mimpi yang lain. Persoalannya adalah bagaimana saya memulai; walau sebenarnya saya sudah memulai. Saya memiliki blog, walau itu belum cukup, karena blog saya belum menjadi tujuan, masih yang penting ada. Belum menjadi sesuatu yang dapat menjadikan saya seorang penulis sesungguhnya. Sebab saya pun ingin memiliki kemerdekaan financial, dengan jalan menjadi seorang penulis, sehingga pada saatnya nanti menjadi guru adalah pilihan. Sehingga saya pun tak terus menggerutu dengan beban ajar dan gaji yang tak naik-naik. Saya senang menulis, meski mood saya tak selalu dapat terjaga. Sehingga saya mencoba keluar dari kebiasaan saya berpikir tentang kemampuan tersebut dari yang biasanya, dan mulai berpikir bahwa saya memiliki potensi besar dalam dunia tulis menulis. Berdasarkan hal tersebut, saya pun mulai berani memutuskan untuk tahun ini memfukuskan pada dunia tulis memnulis ini.

Iklan

Februari 2, 2012 - Posted by | Pencerahan, Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: