Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Belajar Menjadi Ayah

Saat istriku melahirkan, secara legal formal, sosiologis bahkan biologis sekalipun aku resmi menjadi seorang ayah. Babakan baru dalam hidupku. Status  itu melekat, walaupun sesungguhnya aku belum mencapai  standar professional seperti apa yang diidealkan. Itu yang terjadi dalam hidupku. Legalitas tak selalu berbanding lurus dengan profesionalisme, karena ternyata profesionalisme sebagai seorang ayah tak berlaku otomatis. Ada proses yang mendahuluinya, tetapi sayangnya proses itu tak mencantumkan masa, kapan lulusnya nya.

Belum menjadi ayah yang professional dari satu putri, Tuhan sudah mempercayakan padaku dua putri yang lain. Mungkin Dia menghendaki agar kelak ketika menjadi professional tidak tanggung, mengingat investasi yang dikeluarkan cukup besar. Proses pendidikan yang kuikuti tak selalu menyenangkan, bahkan apa yang terlihat semestinya menyenangkan belum tentu demikian kurasakan. Beberapa hal berat   adakalanya menjadi ganjalan bagiku untuk naik kelas, aku mengulang dan terus mengulang, sebab hingga hari ini pun belum ada tanda-tanda jika aku mulai pintar.

Bagaimana bersikap adil bagi anak-anakku, ini kesulitan pertama yang membuatku harus berulang kali remedial, meski bukan urutan pertama yang paling sulit. Sebagai ayah, secara teoritis aku harus bersikap sama pada anak-anakku, tidak membela yang satu dan membanding-bandingkannya dengan yang lainnya. Aku paham benar, dan dialog dengan mereka adalah cara yang tepat. Tetapi anak-anakku ini masih balita, dan batita, bagaimana aku harus berdialog, agar mereka mengerti dengan apa yang kulakukan ? Sebab ada banyak kebijakan yang kuambil, dasar pertimbangannya adalah keadilan dalam ukuran orang-orang dewasa. Kakak tidak boleh menyakiti adik, karena dalam banyak praktik keseharian kakak selalu membuat adik menangis. Bagaimana dengan adik yang juga bisa membuat kakak menangis? Ini satu kasus, masih banyak kasus yang lain, tetapi aku kesulitan bagaimana mendeskripsikannya dalam tulisan ini, intinya bagi anakku sepertinya itu melanggar prinsip-prinsip keadilan.

Menahan amarah pada setiap kesalahan, dan memberi anak-anakku pengertian, ini factor lain dari kesulitanku jadi ayah professional. Sebelum menjadi seorang ayah dan kemudian berproses menjadi professional, aku adalah seorang professional dalam dunia kerja, buruh. Setiap hari aku bangun awal, bahkan berangkat sangat awal, tetapi pulang sedikit agak malam. Gajiku tak terlalu cukup untuk memanjakan diri, apalagi buat beli vitamin anti lelah yang tak berlogo generic, jelas tak mungkin. Alhasil setiap berkumpul dengan anak-anakku, yang ada adalah tenaga sisa dari sekian kalori energy yang telah kulepaskan pada profesionalitas utamaku sebagai buruh. Ada banyak canda yang ingin mereka bagikan, ada banyak hal yang ingin mereka sampaikan dan ingin ayahnya dengarkan. Menanggapi mereka kadang aku hanya mampu mengangguk dan menanggapi simple. Tertawa dan tersenyum garing, padahal aku sedang tak mmenikmati tawa itu. Tetapi ini kebutuhan formalitas ayah agar perkembangan jiwa anak-anakku stabil. Di tengah situasi seperti itu, jangan harap mereka berbuat kesalahan, yang ada kemudian adalah hardikan. Padahal mereka adalah anak-anakku yang sedang belajar mengekspresikan dirinya sebagai anak-anak, salah adalah bagian dari tugasku untuk memberinya pengertian. Tetapi itu tidak kulakukan, marah, simple yang menyelesaikan. Ini membuat nilaiku kembali tak cukup untuk naik kelas. Entah sampai kapan?

Walau banyak hal membuatku terlambat menjadi ayah yang professional, tetapi aku yakin, aku bukan ayah yang gagal. Aku sedang belajar, walau hingga hari ini masih bodoh. Jika orang lain sudah melaju pada tingkat yang lebih tinggi, aku hanya yakin aku juga bisa mencapainya asal aku berani belajar lebih keras dan lebih tekun dari mereka. Anakku sebenarnya adalah guruku yang membuatku bisa menjadi ayah, ayah yang sesungguhnya, bukan sekedar ayah legalistic yang namanya terpampang pada akte kelahiran. Semoga.

Iklan

Oktober 10, 2011 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: