Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

MENJADI INDONESIA

Membicarakan Indonesia di masa kini, tentu lebih gampang di bandingkan pada masa 1920-an. Pada masa itu, Indonesia adalah wacana, sebuah konsep yang baru ada di alam imajiner. Imajinasi dari para pemuda, yang sejujurnya masih teramat muda. Namun mereka berani bermimpi, keluar dari usia yang sesungguhnya, berpikir tentang masa depan. Bahkan barangkali jauh dari jangkauan cara kebanyakan orang berpikir di zamannya. Benar-benar sebuah langkah berpikir, yang hingga hari ini pun sulit bagi saya untuk memahaminya.

Tidak hanya bermimpi mereka juga mencoba merekonstruksi Indonesia dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Meski mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kuasa atas wilayah tertentu di negeri yang kelak mereka impikan jadi Indonesia itu. Secara de facto dan de jure Indonesia yang mereka impikan jadi sebuah negeri merdeka itu adalah negeri-negeri yang struktur kekuasaannya masih berlaku. Bukan negeri tanpa penguasa. Entahlah, ini sebuah keberanian bermimpi atau kenekadan?

 

Keberanian mereka tidak terhenti, langkah berani mereka wujudkan dalam sumpah ‘mimpi’ yang menggerakkan mereka pada langkah-langkah strategis selanjutnya di tahun 1928. Tidak hanya itu, mereka pun berikrar untuk menciptakan satu identitas baru, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa yang sebagian berakar pada tradisi Melayu, namun tidak serta merta mereka terima tanpa inovasi, mereka menginginkan sesuatu yang berbeda. Jadilah mereka kembali mencipta; bahasa. Tidak hanya kreatif, mereka juga inovatif yang komprehensif. Mencipta negeri, bangsa lengkap dengan identitas kebangsaannya.

 

Melihat gedung tempat mereka bersumpah, kembali pikiran saya bertanya; ada berapa banyak yang dulu berkumpul di sana? Melihat fisik gedungnya, saya tak yakin bahwa mereka yang hadir menembus angka ribuan, bahkan ratusan pun rasanya sudah cukup berdesakan. Meski dalam catatan sejarah kita tahu siapa-siapa saja yang hadir, tetapi tentu sejarah juga tak mencatat orang-orang yang bukan pemeran utama. Kenapa ini penting bagi saya? Karena saya juga pengin mengerti apakah mereka yang berkumpul sudah merepresentasikan Indonesia pada saat itu. Saya yakin pasti belum, sehingga saya pun berasumsi para jong itu adalah anak-anak muda yang memiliki inisiatif ‘pribadi’, bukan membawa amanah daerahnya yang ditunjukkan dengan keterwakilan sebuah wilayah. Lagi-lagi ini juga sebuah keberanian. Apalagi melihat jumlah, jelas hanya beberapa gelintir dari jumlah keseluruhan penduduk dari negeri yang mereka klaim kelak akan menjadi Indonesia itu.

 

Kini Indonesia yang beberapa dekade lalu adalah mimpi, telah menjadi kenyataan, dan yang lebih mengejutkan mungkin juga bagi mereka yang pernah memimpikannya, Indonesia adalah negara terbesar ke-empat di dunia. Menjadi negara besar mungkin tidak termasuk dalam perhitungan mereka, namun menjadi negara dengan identitas kultural yang menjadi pengikat warganya dan untuk mencintai negara dan bangsa-nya barangkali adalah keinginan mereka.

 

Mencermati apa yang terpikirkan hari ini, saya semakin menyadari bahwa Indonesia adalah konstruksi, bukan warisan yang sudah jadi. Mimpi besar itu adalah garis pandu yang seharusnya menggerakkan siapa saja yang menjadi bagian dari negeri ini berjalan dan menjadi. Indonesia adalah cita-cita yang harus terus diusahakan, sampai kapan. Mungkin sampai bumi tak lagi menjadi tempat yang bisa kita tinggali. M E R D E K A !

 

Iklan

Agustus 9, 2011 - Posted by | Uncategorized

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: