Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

APAKAH KELUARGA MENJADI FOKUS KARIER ANDA?

Saat membicarakan karier, apa yang Anda pikirkan tentang keluarga? Dimana posisinya, bagaimana perannya? Bagi saya ini penting untuk kembali dibicarakan, sebagai guru di kota besar, saya banyak menemui paradok-paradok dalam dunia kerja. Baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh para siswa yang saya ajar. Dari pengalaman ini saya bahkan berani menyimpulkan bahwa persoalan di negeri ini bisa diurai dari lingkup terkecilnya; keluarga.

 

Di Jakarta, banyak sekali pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah matahari lama terbenam. Rumah yang idealnya menjadi tempat bagi keluarga untuk membangun sosialisasi hanya menjadi tempat untuk tidur, persinggahan sementara. Interaksi keluarga tersambung melalui fasilitas teknologi, dan itupun sebatas mengerti di mana posisi masing-masing, seringkali tak lebih. Tak ada dialog antara anak dan orang tua bahkan kelelahan menjadi pembuka pembicaraan suami dan isteri. Sabtu dan Minggu menjadi waktu yang diagendakan menjadi waktu keluarga, itupun masih dengan catatan tak ada tugas yang harus diselesaikan lagi.

Paradoks pertama saya temui pada situasi di atas, pada awalnya seseorang bekerja adalah demi kesejahteraan, sejahtera jasmani maupun rohani. Namun kenyataannya kerja menjadi segala-galanya, bahkan tujuan dari nilai dasar dimana pekerjaan itu digagas diingkari kalau kita tak ingin menyebutnya sebagai dihianati. Bukan kesejahteraan yang lagi mengemuka dalam ritme pekerjaan namun lebih pada seberapa pekerjaan yang sudah Anda selesaikan. Tak ada waktu untuk diri sendiri terlebih untuk orang lain saat semuanya belum sampai target. Tak ada alasan apapun yang dapat dijadikan pembenar jika memang waktu untuk pekerjaan telah dijadwalkan. Anda tak lagi seutuhnya memiliki integritas terhadap diri Anda.

 

Setiap hari Anda meninggalkan keluarga, bergegas menuju ke tempat dimana pundi-pundi ’kesejahteraan’ tersedia. Sambil berujar kita sering berdalih bahwa ini semua dilakukan demi mereka; keluarga kita. Anak sakit, kalau hanya panas tak bisa dijadikan alasan untuk menghentikan langkah Anda. Meski barangkali panasnya karena ingin kita temenin atau sekedar mengajaknya bicara. Tetapi semua itu lagi-lagi tak kita pedulikan, bahkan kalau mereka mengungkapkan keinginannya itu, mungkin kita tertawakan. Paradok yang kedua kembali saya temukan, keluarga menjadi alasan pembenar aktifitas kita agar mereka bahagia. Tetapi kebutuhan kebahagiaan yang paling sederhana pun tak mampu Anda berikan!

 

Kemana Anda mempercayakan pendidikan dini putra-putri Anda? Dalam banyak literatur psikologi saya membaca bahwa usia emas adalah masa batita dan balita, itulah saatnya Anda menanamkan nilai-nilai keluarga. Coba kita iseng-iseng menghitung berapa waktu kita untuk mereka, dan siapa yang paling banyak menjadi teman mereka. Anda benar, pengasuhlah yang menempati porsi terbesar ’mendidik’ Anak Anda. Apakah mereka sudah cukup bekal untuk memberi penanaman nilai-nilai keluarga pada generasi Anda? Atau barangkali nama lengkap dan nama orangtuanya pun sebenarnya Anda tidak tahu, dan pada orang asing seperti itukah Anda sepenuhnya menaruh kepercayaan pada masa depan Anda? (masa depan anak Anda adalah masa depan Anda juga bukan!). Ini adalah paradok ketiga yang saya temukan.

 

Anda mengerti banyak pengetahuan tentang arti pentingnya keluarga. Namun dimana Anda meletakkan keluarga dalam perkembangan karier Anda? Apakah keluarga menjadi fokus dalam pencapaian Anda? Atau fokus yang selama ini justru Anda khianati?

Iklan

Desember 2, 2010 - Posted by | Opini, Renungan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: