Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Latihan Egois

Hari ini, hari pertama masuk kerja, setelah dua hari menikmati liburan. Tak ingin telat, aku sengaja tancap dari rumah lebih awal, bahkan dari minggu-minggu sebelumnya, sebab aku meyakini jika dampak arus balik lebaran belum sepenuhnya habis. Anak-anakku masih terlelap, istriku sengaja kutinggal, karena aku tak mau ribet mengantarnya hingga ke tempat angkutan yang biasa ia naiki. “Masak sering telat kalau hari senen, sekali-kali nggak donk.” Aku beralasan, dan dia bisa mengerti.

Setelah menitipkan motor dan menuju tempat di mana aku biasa menunggu dan naik bus, aku mulai merasakan dugaanku benar. Ratusan orang ternyata telah ada di tempat itu, mereka lebih dulu (tentunya lebih pagi dari aku) ada di sana. Tak banyak senyuman, yang kulihat hanya wajah-wajah tegang. Entah itu sudah mereka bawa dari rumah, atau baru mereka buat setelah ada di tempat itu. Ada banyak alasan memang yang membuat wajah-wajah cakep di depanku itu tak ingin menunjukkan performa terbaiknya. Pembantu pulang kampung dan anak-anak belum ada yang mengasuh, padahal kerja sudah harus segera dimulai. He..he.,..inisih memang apa yang sedang kurasakan saat ini. Dan barangkali wajahku kelihatan lebih tegang dari mereka semua, untunglah di sini tidak tersedia kaca. Jadi aku tak perlu memusingkan gambaran  wajahku.

Seperempat jam menunggu, bus idaman tak juga menampakkan diri, mungkin malu-malu, atau seperti hari-hari biasa, macet di gerbang tol. Satu dua orang di sampingku terlihat mulai gelisah, jam di tangan mereka bolak-balik di lihat meski aku yakin semuanya itu tak mengubah keadaan. Desisan-desisan kesal mulai terdengar, mungkin mereka searah denganku, sebab tak banyak yang naik saat bus jurusan lain memasuki halte, itu pun sudah penuh sesak dari tempat mangkal awalnya. Bergelantungan di pintu menjadi pemandangan biasa, meski ini sebenarnya memiriskan. “ini lebih baik daripada terlambat sampai di tempat kerja!”

Paradok! Manusia berkarya demi kesejahteraan dirinya tetapi kini pemandangan itu jelas tak menunjukkan teori itu. Mereka memang ingin berkarya, namun karya telah membuat hidup mereka tak lebih baik, bahkan dari hal yang sebenarnya sangat sederhana; menuju ke tempat kerja. Memulai hari dengan bahagia, apalagi pernyataan ini, jelas sangat jauh sekali. Memulai hari dengan rasa hati yang ‘panas’, dan perasaan sebal gak karuan. Apa hasilnya ya di tempat kerja? Mampukah perjalanan yang belum tentu juga menyenangkan walau mereka telah terangkut meredam semua yang mereka rasakan? Sehingga pada saat menjalankan aktifitasnya di tempat kerja mereka mampu menghasilkan karya yang optimal.

Setengah jam berlalu, aku belum juga terangkut, kalaupun satu dua bus yang menuju ke arah tempat kerjaku telah melintas. Bukan sombong pengin dapat bus yang bagus aku sengaja tidak naik, bukan sama sekali, tetapi jelas badanku tak mungkin nyempil di antara sekian banyak manusia yang bergelantungan di pintu bus. Sejak masuk ke tempatku menunggu, bus itu sudah tak muat lagi, tetapi bukan berarti tak ada yang dengan sangat nekat memaksa untuk naik. Bahkan kulihat beberapa ibu-ibu dengan seragam pegawai negeri terus memaksakan dirinya menaiki bus yang sudah padat itu, entah bagaimana dia mampu bertahan hingga ke tempat kerjanya. Aku masih menyayangi kehidupan ini, aku tak ingin ceroboh membahayakan diriku sendiri.

Apa yang kulihat pagi ini, membersitkan sesuatu pada pikiranku. Aku melihat mereka berebut, mencari peruntungan untuk dapat terangkut, atau yang penting dapat masuk ke dalam bus terlebih dahulu, lainnya urusan nanti. Maka jangan tanya kenyamanan dalam situasi ini? Mereka tak lagi peduli pada hidup mereka sendiri, terlebih kehidupan orang lain. Mereka perkasa, tak lagi menunggu yang tak berdaya untuk naik ke bus terlebih dahulu. Siapa cepat dia dapat! Semua di sini adalah mereka-mereka yang tak lagi berdaya. Semua telah menjadi korban pada aturan, hamba dari industrialisasi dan profesionalisme. Pemandangan pagi ini, bukan pemandangan pagi yang pertama namun juga bukan yang terakhir. Ini realitas yang telah dan akan menjeratku, sekaligus melatih sisi batinku untuk tak lagi peduli pada mereka yang di sekitarku. Kalau aku tak mau di pecat karena terlambat sampai di tempat kerja.

Iklan

September 21, 2010 - Posted by | Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: