Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Paradigma

adenium_flowers___SmallAku sangat menyukai tanaman, sebab merawat dan memperhatikan pertumbuhannya merupakan hiburan tersendiri. Meski aku sendiri tak terlalu mengerti ilmu perawatan, sehingga banyak diantara tanaman yang kumiliki tak tumbuh seperti yang semestinya dan yang lebih parah lagi, tanaman itu mati dan aku tak tahu penyebabnya.

 

Sebagai pecinta tanaman, aku juga pemilih, ada tanaman-tanaman tertentu yang coba kuhindari apalagi membeli kemudian menanamnya. Salah satu dari banyak tanaman itu adalah Adenium, entah mengapa aku tak suka. Dibenakku ada pesona‘kuburan’ ditanaman itu, sehingga ada kesan magis. Barangkali pengalaman masa kecilku yang mempengaruhinya. Padahal apa yang kulihat di masa kecil itu adalah bunga kamboja dan bukan adenium, tetapi entah mengapa saat ada orang yang mengatakan bunga tersebut sebagai kamboja Jepang, aku jadi kehilangan ketertarikan  pada bunga tersebut.

 

Namun barangkali ini yang sering dikatakan orang Jawa dengan pepatah kunonya; “sengit dulit” (Benci pada akhirnya akan mengalami, kurang lebih begitu terjemahan bebasnya), ternyata aku menggenapi pepatah itu. Saat aku hendak menempati rumah baruku, di rumah mertua kulihat beberapa batang adenium merana tanpa perawatan. Aku pikir sayang kalau dibuang, maka aku bawa empat batang adenium tersebut ke rumahku. Berbekal pelajaran dari Trubus, aku potong akarnya dan dahannya perlahan kubentuk. Tak karuan memang, namun mencoba menanam tanaman yang tak aku suka saja itu sudah merupakan kemajuan, jadi tak perlu berharap lebih.

 

Minggu, bahkan bulan terus berlalu, aku mulai melihat ada yang menarik dari adenium yang kutanam. Bonggol batangnya mulai terbentuk, dan satu dua bunganya kelihatan mempesona. Aneh, magis kuburan pada bunga kamboja yang pernah kurasakan pada bunga adenium seperti menghilang, nyaris aku tak merasakannya lagi. Padahal jenis adenium yang kutanam adalah jenis yang tak kusuka beberapa waktu yang lalu, terlebih bunganya juga masih sama dengan bunga yang waktu itu aku bergidik melihatnya. Lalu apa yang telah berubah?

 

Setelah kupikir, barangkali pengalaman hidupku bersama adenium inilah yang membuatku berbeda. Bukan adeniumnya yang berubah, tetapi caraku melihatnyalah yang telah berubah. Bunga yang selama ini kupandang sebagai momok, kini telah hadir begitu mempesona. Ah, mungkinkah begitu juga kehidupan dengan sesamaku manusia??

Iklan

September 16, 2009 - Posted by | Renungan

2 Komentar »

  1. Asyik tentang curhat bunganya……kalau punya benh atau bibitnya, bisa dibagikan buat saya?

    Komentar oleh emi | November 15, 2012 | Balas

  2. makasih responnya, aduh sayangnya aku belum terlalu tahu bagaimana membiakkannya ..he..he..

    Komentar oleh belasejarah | Januari 30, 2013 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: