Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Macet yang melegakan

Waktu memang sudah menunjukkan pada angka-angka kritis, mencoba memilih bus yang masih memberikan sisa tempat duduk, bisa-bisa nyampe di sekolah telat. Aku mencoba realistis, yang melintas lebih dulu, itulah pilihanku. Meski berdesakan dan hanya nempelin pantat di depan pintu, tak menjadi persoalan yang penting keangkut dan nyampe ke sekolah belum telat.

Belum lagi melaju sepuluh menit, jalan bus mulai tersendat. Wajah-wajah layu yang belum sepenuhnya bangun yang memenuhi bus, mulai terbelalak, menggumam atau bahkan mengumpat meski hanya dalam batinnya sendiri. Macet! Realitas yang kemudian menghadirkan ketidakberdayaan, namun tak sepenuhnya merugikan.

Wajah-wajah layu yang kebetulan kebagian tempat duduk itu dalam hitungan detik, tak lagi tampak resah. Mereka sudah kembali menikmati tidur yang karena tuntutan profesi, (baca; perut ) harus di hentikan sejenak, meski tidur itu belum sepenuhnya mengobati kelelahan dihari sebelumnya. Rutinitas tak lagi membuat mereka merdeka mengatur hidupnya, jadwal pasti telah menggerogoti semuanya. Kelelahan tak harus mendapatkan tempat untuk dimanjakan, bahkan untuk hal yang paling dasar sekalipun, tidur.

Macet, kulihat telah mengubah paradigma. Ketergesaan, karena kuatir sampai di tempat kerja telat telah berganti dengan kepasrahan. Dan kepasrahan pulalah yang berhasil menetralisir segala bentuk rasa takut pada beragam kemungkinan yang akan timbul. Sehingga jika kini mereka tertidur, barangkali tidurnya lebih damai ketimbang sebelumnya. Ada alasan yang tak terbantahkan, macet total di Tol!!

Iklan

April 14, 2009 - Posted by | Renungan | ,

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: