Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Kebanjiran : Sebuah Ruang Sosialisasi

Senin, 6 April, seperti biasa aku pulang agak telat, ini karena tanggungjawab harus melatih ekstrakurikuler KIR di sekolah. Belum sempat mendiskusikan hasil pekerjaan anak-anak, istriku sudah telpon dan menginformasikan bahwa di rumah hujan besar, dan air mulai masuk ke ruang tamu.

Banjir, entah untuk yang keberapa kali aku nyaris tak ingat, sebab setiap kali hujan besar, got depan rumah tak lagi mampu menampung limpahan air dan apalagi jika bukan kemudian bertamu ke rumahku. Untung beberapa ruangan memang sudah ditinggikan, jadi aku tak terlalu kuatir. Pengalaman setidaknya membuat aku cerdas dalam hal ini, mengganti perabotan dan tak coba-coba menyimpan surat berharga di lantai bawah.

Mempulangkan anak-anak KIR lebih awal adalah alternatif yang kemudian aku jalankan, dan segera setelah itu meluncur pulang. Hujan lebat setelah turun dari bus tak lagi kuhiraukan, pikiranku hanya satu, cepat sampai rumah. Kehadiranku di rumah, walaupun hanya sekedar memunculkan fisik, aku yakin akan memberi arti tersendiri bagi keluargaku, di suasana seperti ini; hujan lebat, petir yang sambar menyambar, banjir yang mulai masuk rumah dan ancaman mati lampu. Belum lagi jika kedua anak kembarku mulai rewel. Kebayang bagaimana wajah panik istriku.

Sesampai di kompleks, aku sudah menduga motor tak lagi dapat masuk. Beberapa tetangga sudah memparkirkan mobil dan motornya di jalanan yang agak tinggi. Akupun tak langsung ke rumah, tanpa dikomando ada saja aktifitas bersama yang kemudian kami lakukan. Menutup jalan dengan menggunakan beberapa pot bunga tetangga, dan memeriksa saluran-saluran air.

Menarik, banjir telah mendekatkan kami satu dengan yang lainnya. Interaksi ini tak terjadi pada hari biasa, karena kesibukan membawa kami pada gua-gua asketis kami sendiri. Namun semua itu menguap manakala sesuatu menimpa kami, kami menjadi peduli pada nilai-nilai kebersamaan. Kalau boleh jujur, banjir besar tahun lalu jugalah yang membuat aku dan keluarga mengenal tetangga. Aku pun hanya bisa merenung: Ini berkah ataukah sebuah bencana??

Iklan

April 7, 2009 - Posted by | Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: