Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Memaknai Hidup dengan Belajar Hidup Pada Orang Lain

“Kini saya semakin mengerti arti perjuangan papa dan mama dalam mencari nafkah!”

Penggalan kalimat tersebut di atas merupakan bagian yang sengaja penulis kutip dari seorang siswa yang mengikuti Live In SMAK 3 ke dusun Ngaduman Kabupaten Semarang Jawa Tengah. Ia mengungkapkan hal tersebut sambil berkaca-kaca pada saat sharing. Yang terharu bukan hanya seorang, hampir seluruh peserta Live In yang berjumlah 38 Orang Siswa dan beberapa guru pendamping yang malam itu sengaja berkumpul di gereja GKJTU Ngaduman pun mengalami hal yang sama.

Live In SMAK 3 diadakan untuk mengisi kegiatan pada saat liburan kenaikan kelas, yaitu dari tanggal 14 – 19 Juni 2008. Dengan beberapa rangkaian acara yang dipadukan, sebelum mereka tinggal di Induk Semang ( Orang Tua asuhnya) terlebih dahulu peserta bertemu dengan teman-teman sahabat masa depan, yaitu teman-teman yang selama ini mendapatkan bantuan biaya pendidikan dari siswa-siswi SMAK 3 dan disalurkan melalui Yayasan Sion Salatiga yang kebetulan juga berdomisili di Salatiga dan Sekitarnya. Acara yang berlangsung dari pukul delapan pagi dan berakhir pada jam makan siang tersebut berisi sharing dan beberapa games. Yang membuat satu sama lain semakin mengenal dan akrab.

Setelah makan siang, peserta diangkut oleh dua mobil dukungan dari Sinode GKJTU dan Yayasan Sion ke Lokasi Live In secara bergantian. Lokasi yang dipilih berada di 1800 M di atas Permukaan Laut, dan merupakan perkampungan tertinggi di kaki gunung Merbabu Jawa Tengah. Pemandangannya sangat menakjubkan, namun soal dinginnya tak usah diragukan lagi. Berdasarkan karakteristik geografi, masyakat Ngaduman adalah petani sayuran di samping itu mereka juga beternak sapi.

Rombongan diterima oleh jemaat GKJTU Ngaduman yang kemudian setelah acara penyerahan dari pihak sekolah ke Jemaat, peserta di bawa oleh masing-masing induk semangnya. Setiap keluarga ditinggali oleh dua peserta. Adapun kegiatan mereka selama Live In sepenuhnya mengikuti aktifitas orang tua yang mereka tinggali. Permintaan dari panitia, tidak ada keistimewaan yang diberikan bagi mereka. Meski dalam banyak hal tetap saja peserta diistimewakan.

Keramahan masyarakat Ngaduman sangat menyentuh. Perbedaan budaya tak menyurutkan penerimaan mereka pada siswa-siswi SMAK 3 peserta Live In. Terpancar ketulusan dari setiap mereka yang kami jumpai. Ini jugalah yang membuat peserta merasa sangat diterima. Dalam bahasa yang tak sepenuhnya peserta Live In pahami, peserta tak henti bersilaturahmi dari satu rumah ke rumah yang lain. Selain berakrab-akrab, kentang goreng, bakwan jagung dan brokoli goreng yang lezat tentunya mereka incar sebagai bonus. Peserta Live In seakan menemukan ‘surga’ kuliner, sebab hampir semua jenis makanan yang disajikan terasa sangat enak. Barangkali disebabkan oleh suhu yang sangat dingin.

Menyaksikan dan turut serta beraktifitas seperti orang Ngaduman, banyak peserta yang terhenyak, kagum, heran tak mengerti dan tentu saja terharu. Mereka menyaksikan betapa kehidupan sesungguhnya sangat keras, tetapi tetap saja kebahagiaan dan semangat berbagi masih mereka miliki. Walaupun sebenarnya dalam ketiadaanlah mereka memberi.

Seorang nenek rela naik turun gunung untuk mencari kayu bakar, yang tentunya ia lakukan untuk dapat memasak masakan terbaik bagi ‘tamu-tamunya’ peserta Live In. Bahkan tak jarang mereka merelakan kamar tidur utamanya untuk para peserta, sementara mereka tidur di balai-balai. Pelajaran hidup yang sangat luar biasa. Selain itu peserta juga disuguhi kenyataan hidup yang sangat berat, bagaimana ibu-ibu hanya demi 3.000 perak naik turun gunung dengan puluhan kilo pupuk di kepalanya, yang saat itu tak seorang pun peserta Live In sanggup untuk bolak balik lebih dari 4 kali walau tanpa beban, tetapi para ibu itu sanggup hingga 7 kali. Bahkan seorang peserta sempat nyeletuk, “entah kaki mereka itu terbuat dari apa?”. Dan tentunya masih banyak hal yang lain yang sebelumnya mungkin tak mereka bayangkan.

Selain menyaksikan kenyataan-kenyataan tersebut, para peserta juga ada yang bersama ‘orang tua’ nya di bawa ke ladang untuk memananen sayuran, menyiangi tanaman, atau melakukan penyemprotan. Bahkan ada yang ikut serta ke pasar, meski jalan kaki selama satu setengah jam dan pulangnya naik mobil pengangkut sayuran. Pengalaman inilah yang menyadarkan kehidupan mereka bagaimana seharusnya mereka menerima segala sesuatu dan bersyukur. Seperti kalimat di awal tulisan ini.

Rangkaian acara Live In diakhiri dengan berwisata ke Museum kereta api di Ambarawa dan juga naik kereta uap yang di dunia tinggal 3 saja. Setelah itu barulah Shopping di Malioboro Jogjakarta sebelum akhirnya bertolak ke Jakarta pada tanggal 18 Juni jam 20.00 WIB, dengan membawa beragam oleh-oleh baik materil maupun spiritual.

Iklan

Oktober 11, 2008 - Posted by | Info

1 Komentar »

  1. ingin bertanya, alamt GKJTU ngaduman dimanayah? kalau ingin naik motor sebaiknya lewat mna, dan adakah info kontak yg bisa di hubungi

    Komentar oleh vee | November 22, 2015 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: