Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

SENJA DI TEPIAN KUALUH

Pertama :

Di atas gelondongan batang kayu tumbang yang sebagian ujungnya masuk ke dalam air, aku mengamati derasnya aliran sungai. Keruh, tetapi ketika kucoba sibakkan dengan kedua tanganku, terlihat jernih. Lumpur di dasar sungailah yang membuatnya kelihatan demikian.

Di atas batang kayu yang sama, enam atau tujuh tahun yang lalu aku berdiri di sini. Melempar kail dan tak jarang menjadikan tempat ini istimewa, untuk merenung, berpikir menjadi lima tahun kemudian. Aku membayangkan, jadi apa diriku? Dari balik terawang, aku melihat sosok diriku bukan lagi anak hutan yang akrab dengan kail dan gelondongan kayu yang sehari-hari mesti kuukur, demi uang sekolah. Aku melihat diriku lebih ‘gagah’, di atas speedboat, dan fantasiku pun selalu berujung pada pertemuanku dengan Intan disertai berjuta ilusi romantisme yang mampu kuhadirkan, walau baru sebatas angan. Aku yakin mampu mewujudkannya.

BMXnya ia kayuh melalui jalanan becek, hujan semalaman membuatnya harus lebih keras berusaha. Bukan hanya jalanan yang berlumpur, tapi tangkahan yang menghubungkan Sebrang dan Jambur menjadi sangat licin. Apalagi ujung-ujung papan Tangkahan pakunya sudah terlepas, sehingga tak jarang siapa yang melewatinya terjerembab. Syukur kalau hanya terjatuh di atasnya, kalau terlempar ke bawah. Derasnya sungai Kualuh akan membawanya beberapa meter ke hilir. Intan melewati tempat ini dikesehariannya untuk sampai ke Jambur, tempat dimana aku tinggal untuk bersekolah. Karena di kampungkulah terdapat satu-satunya SMA.

Gadis sebrang, orang menyebutnya begitu. Karena letaknya yang memang di seberang sungai, tangkahan adalah sebutan untuk jembatan penghubung utama yang bisa dilalui dengan jalan kaki. Meski banyak juga yang memilih menyeberang dengan menggunakan sampan.

Konon mereka adalah orang-orang pindahan dari kebon, yang menurut cerita para tetua kampung, leluhur mereka banyak yang jadi gundik Belanda. Jangan heran kalau keturunannya cantik-cantik, dan Intan adalah satu diantaranya. Meski secara fisik mereka rupawan, tapi orang-orang dikampungku selalu mencibir mereka, entahlah apa yang menjadi pertimbangan. Mungkin mereka menganggap dirinya lebih baik, tak tercemar darahnya Londo kafir.

Persetan dengan londo kafir, walaupun darah londo kafir mengalir pada tubuh nya, toh ia adalah manusia yang memiliki martabat yang sama di hadapan Tuhan. Mata batinku mencoba mencari legitimasi perasaanku pada Intan, terlebih kedua orangtuaku tak pernah menganggap orang sebrang seperti pandangan orang-orang kampungku lainnya. Intan adalah gadis dengan sejuta pesona, yang pesonanya mungkin takkan pernah habis, walau kubincangkan setiap hari dan tak pernah lekang oleh waktu.

“Kamu yakin melanjutkan kesana?” dari balik bibir tipisnya, ia membuka kembali pembicaraan setelah sekian lama kami membisu. Membisu, karena ada sesuatu yang teramat berat untuk diungkapkan. Tak membalas, aku hanya mampu mengangguk tanpa mencoba menatapnya. Aku takut, tak mampu berlalu dari keteduhan tatap mata indahnya, atau barangkali larut dalam kesedihannya.

“Aku yakin Tan, walau aku tahu ini adalah pilihan yang sulit. Jauh dari kampung, dan tentunya jauh dari kamu.” Akhirnya kalimat itu terucap juga.

Ups! Aku terkejut manakala senar pancingku mulai ada yang menarik.

“ Besar tuh!” Intan yang ada di sebelahku refleks, turut mengomentari. Perlahan kutarik, dan benar dugaan Intan, seekor Ikan Keting yang gedenya lumayan sudah tersangkut dikailku.

Matahari mulai bersembunyi di ufuk barat ketika kami beranjak dari suatu tempat di tepian sungai kualuh, tempat di mana banyak waktu kuhabiskan bersama Intan. Tepatnya adalah tempat di mana aku berdiri sekarang ini. Waktu itu kami bersama pulang dengan beragam perasaan, ikan yang kami dapatkan tidak lagi menjadi perhatian. Kami larut dalam angan kami sendiri.

Di ujung tangkahan, dengan segala kepolosannya ia berlalu dari hadapanku. Aku yakin ada kepedihan yang ia bawa pulang, tapi aku tak bisa berbuat apa-apa, memeluknya erat tak akan mampu mengobati kesedihan hatinya.

Waktu, susah dipahami, selain ia membuatku dewasa, ia juga membuatku harus berpisah dengan orang yang sangat kusayangi. Intan. Meski aku pergi untuk mengejar cita, tapi tetap saja aku tak mungkin bisa menghilangkan kesedihan ini. Apalagi saat rasa cinta ini mulai merekah.

Kedua orang tuaku menginginkan aku melanjutkan kuliah ke Jogja, syukur kalau bisa tembus UGM kalau tidak swasta juga boleh yang penting jurusannya kehutanan. Maklum rimba telah membesarkanku, sehingga hutan bagi keluargaku adalah segalanya. Sejak kecil aku sudah terbiasa mengukur kayu, yang setahuku setiap seminggu sekali bapakku mengirimnya ke Malaysia lewat tengah malam melalui selat Malaka dengan dikawal beberapa aparat. Aku belum berpikir apa-apa tentang hal tersebut.

Kedua :

Di Jogja aku kuliah di salah satu perguruan tinggi swasta, mengambil kehutanan seperti keinginan kedua orang tuaku. Meski semakin hari aku mulai menyadari bahwa sesunguhnya bukan ilmu seperti ini yang diinginkan kedua orang tuaku mengingat keberadaannya sebagai cukong kayu. Tapi aku memaklumi mereka dengan segala kesederhanaan cara berpikir kampungnya.

Di Jogja aku selalu mengingat Intan, meski aku tak mudah berkomunikasi dengan dia, maklum kampungku Jambur ataupun Sebrang kampungnya Intan belum tersentuh alat komunikasi yang namanya telepon, sehingga kantor pos menjadi sangat berjasa bagi kami. Melalui suratlah kami mencoba membangun hubungan, meski terkadang kejengkelan dan kesedihan turut serta hadir mendengar kabar darinya. Aku turut merasakan kejengkelan manakala Intan bercerita tentang perlakuan orang-orang di kampungku yang semakin hari semakin keterlaluan, tetapi juga sedih karena tidak ada di sisinya pada saat ia membutuhkan kehadiranku.

Terakhir ia bercerita, bahwa ia tak melanjutkan sekolah karena kehidupan ekonomi kedua orang tuanya semakin sulit. Bahkan bukan hanya dirinya, tapi teman-temannya di Seberang juga banyak yang mulai putus sekolah. Roda perekonomian di kampungnya mulai mandeg. Akhirnya dia memutuskan untuk menjadi buruh di perkebunan kelapa sawit di daerahku. Mendengar itu, aku sedih dan bahkan tak mampu membayangkan kesedihannya.

Ia bercerita kalau bondar-bondar tempat orang tuanya mencari ikan mulai mengering, bahkan saat panen ikan setiap habis banjir, kini seringkali harus berebut dengan para pendatang dengan alat setrum mereka. Berulangkali warga seberang bentrok dengan mereka, tapi siapa yang berani dengan aparat? Kabarnya yang menampung ikan-ikan hasil setruman adalah oknum tentara yang tinggal di kampungku. Mereka tak peduli kalau apa yang mereka lakukan hanya demi hasil sesaat, generasi ikan yang mati bukan lagi urusannya, tapi urusan orang Seberang yang dalam sejarah hidupnya, hidup sebagai nelayan sungai. Bah!

Bahkan sore itu ketika surat Intan datang, aku semakin dibuat geram oleh orang-orang di kampungku. Tanpa kompromi mereka perlahan juga mulai membabati pohon dipinggiran sungai Kualuh, bahkan kini ditepian sungai mulai banyak berdiri warung-warung makan, dan terkadang warung-warung tersebut menjadi tempat transaksi seks. Tapi yang pasti dari kejengkelanku adalah tempat dimana aku membangun kenangan bersama Intan turut pula mereka rusak.

Cerita itu adalah cerita terakhir yang Intan tulis untukku, tak ada kabar lain lagi setelah itu. Sebulan, dua bulan tak ada balasan dari sekian banyak surat yang coba mempertanyakan mengapa ia tak membalas suratku.

Sebenarnya aku tak ingin memikirkannya, tetapi entah mengapa semakin aku mencoba menjauhi pikiran itu aku semakin larut dalam cengkeramannya. Yah, aku dipaksa berpikir kebiasaan yang dilakukan orang kampungnya Intan. Tak jarang mereka terpaksa menikahkan anak-anak mereka dengan para pengusaha kaya, alasannya klasik terjerat hutang, atau bahkan rela menggadaikan anak-anaknya ke rumah-rumah prostitusi dengan alasan jeratan kesusahan ekonomi. Bedebah, keluarga Intan adalah keluarga terhormat, tak mungkin secepat itu berubah. Namun tetap saja peringatan hati kecilku itu tak mampu membendung kekuatiranku.

Pulang, tak mungkin! Bulan depan aku harus menghadapi sidang akhir. Sebuah ritual akhir dari semua proses yang kujalani di Jogja, dan barangkali awal dari kehidupan yang pernah kuimpikan, juga keluargaku, dan yah tentu saja Intan.

Aku mulai disiksa dengan dugaan-dugaan, skripsiku yang tinggal bagian akhir beberapa hari nyaris tak tersentuh, aku ingin cepat mengakhiri penderitaan batin ini, tapi aku tak punya pilihan. Pulang setelah selesai kuliah adalah nazarku, sekian tahun aku bertahan dan kini tinggal beberapa hari, justru sepertinya aku tak sanggup lagi. Spirit Intan sanggup mengantarku ke tempat ini, spiritnya pulalah yang membuatku serasa lama menunggu hari-hari akhir itu.

Ketiga

Kedua orang tuaku tak berkomentar ketika aku menanyakan Intan, seperti dipaksakan mereka mencoba tersenyum dan mengalihkan pembicaraan. “ Istirahat dulu, sudah kangen berat ya?” Mereka mencoba menetralisir keadaan.

Aku pulang setelah ujian skripsi dan dalam yudisium dinyatakan lulus, tak sabar jika harus menunggu sampai wisuda. Toh tanggungjawabku untuk menjadi sarjana sudah selesai. Aku tak perlu malu lagi untuk melenggang, dan paling tidak kebanggaan keluargaku cukup sempurna ; anaknya sukses menjadi seorang sarjana. Sebuah prestasi langka dari orang-orang kampungku.

Kaget, adalah hal yang segera terbersit dalam benakku saat kedua orang tuaku mencoba mencegahku ketika aku hendak menemui Intan. Benarkah dugaanku bahwa Intan sudah menikah? Atau memang benar keluarga Intan membarterkannya ke warung-warung yang dalam perjalanan pulang tadi berderet di sepanjang pinggiran sungai, menjadi pelayan atau ah..! Aku tak sanggup melanjutkan dugaan-dugaan itu.

Tujuh tahun telah membuat banyak hal berubah, drastis bahkan teramat drastis. Beberapa tahun yang lalu aku masih dapat merajut kebahagiaan, membangun ilusi masa-masa remaja dengan kehidupan penuh cinta. Saat aku masih muda dengan cinta malu-malu, cinta yang pada akhirnya mengisi satu ruang tersendiri dalam batinku. Sebuah ruang yang memang Tuhan telah persiapkan untuk kuisi dengan hal tersebut. Dan Intanlah yang mengisinya, sementara tempat ini adalah bagian dari saksi dimana kebahagiaan itu kulalui. Yah, sebuah tempat di tepian sungai Kualuh.

“Lima tahun ya Mas ?”

“ Iya, “ aku mengiyakan ketika Anto menegaskan bahwa aku telah meninggalkan Jambur kurang lebih lima tahun, dan selama itu pula aku tak pernah pulang. Orang tuaku melarangku, mereka beralasan ini demi kebaikanku untuk dapat konsentrasi menyelesaikan studi. Sebuah alasan yang sesungguhnya sulit kumengerti.

“Ada banyak hal yang selama ini tak Mas ketahui.” Anto membuka pembicaraan manakala kami mulai asik dengan alam pikiran kami sendiri. Sama sekali aku tak terkejut dengan pernyataan Anto barusan, cuma saja aku ingin lebih cepat mendengarnya, mendengar dari orang yang memang sangat dipercaya oleh orang tuaku ini. Mendengar kisah orang yang sangat kucintai, dan mendengar banyak hal lain lagi yang tak kuketahui selama aku pergi. Ayahku sepertinya tidak siap untuk menceritakannya, sehingga ia meminta Anto untuk menceritakannya padaku, toh selama ini Anto jugalah yang kuanggap paling jujur. Bahkan ia pernah begitu jujur mengatakan bahwa Ayahku telah masuk ke dalam perangkap kejahatan pembalakan kayu dengan menjadi begundal jenderal-jenderal dari Jakarta. Tetapi yang terakhir aku tak begitu peduli, yang menarik perhatianku hanya tentang Intan, dengan beragam kisahnya.

“Kalau Mas di larang pulang, sebenarnya itu bukan sepenuhnya keinginan keluarga Mas.”

“Maksudmu To?” Aku sedikit terkejut dengan pernyataan Anto barusan.

“Mas tahu kan bagaimana pandangan orang-orang kampung kita pada orang-orang Sebrang?”

Aku mengangguk.

“Sejak Mas berhubungan serius dengan Intan, sebenarnya orang tua Mas sangat resah, tetapi syukurlah mereka dapat menyembunyikan semua itu. Karena mereka tidak ingin merusak kebahagiaan putra tunggalnya.”

Terus terang aku terkejut dengan penjelasan barusan, ada rasa haru dan sekaligus bangga pada kedua orangtuaku.

“Mengirim Mas ke Jawa adalah satu-satunya cara yang dapat meringankan beban pikiran mereka, meski berat, saya tahu pasti bahkan sangat berat untuk melepas anak satu-satunya tetapi itu mereka lakukan.” Anto melanjutkan, dengan sedikit berkaca-kaca. Ia larut dalam cerita dan kenangan itu.

Aku mulai menyadari beberapa hal yang tak pernah ada dalam pikiranku, dan mulai dapat merasakan apa yang ditanggung oleh keluargaku. Orang tuaku sepenuhnya menyadari bahwa cinta adalah sesuatu yang merdeka, bisa bersemai dan tumbuh dimana dan kapan saja. Tetapi sebagai bagian dari komunitas hidup, mereka tidak dapat begitu saja melawan hukum sosial di lingkungannya.

Anto menceritakan padaku, bagaimana orangtuaku harus menjawab ketika orang-orang di kampungku menanyakan keseriusan hubunganku dengan Intan sigadis Sebrang. Mereka mencap bahwa itu akan menjadi aib kampung. Meski getir kedua orangtuaku tetap tak ingin mengusik kebahagiaan masa mudaku saat itu, sekali lagi perasaan bangga itu semakin menyelimutiku. Sirna sudah segala kecurigaanku pada mereka selama ini.

“Mengapa mereka tak mengatakannya sejak awal To?”

“Mas tahu kan watak mereka?”

Lagi-lagi aku hanya mengangguk, dan pandanganku menerawang jauh ke depan.

“Lalu kapan bencana itu datang?”

“Mas lihat gubuk itu?” Jawaban Anto justru tak menyinggung pertanyaanku.

“Kenapa?”

“Itu adalah rumah Intan.”

“Hah…!” Kali ini aku benar-benar terkejut. Apa yang kulihat di depan mataku benar-benar mengguncang kesadaranku. Apa yang dimaksud dengan gubuk oleh Anto tadi, sebenarnya bukanlah sebuah gubuk, lebih tepat kalau disebut bekas gubuk. Apalagi jika bangunan reyot yang sudah tak beratap itu disebut rumah, terlebih rumah Intan orang yang sangat kucintai. Sebegitu dahsyatkah bencana itu? Gumamku pasrah.

“Karena ikan tak lagi bisa menjamin hidup mereka, Intan dan keluarganya mencoba membuka kedai makanan dan pindah ke tempat itu. Namun belum genap tiga bulan bencana itu keburu datang. Sebenarnya banjir bandang itu tak apa-apa jika tak ada beberapa gelondong kayu dari hulu yang turut menghancurkan rumah mereka. Intan meninggal akibat hantaman gelondongan kayu itu, dan adiknya hilang, baru ditemukan tiga hari kemudian di kampung hilir.”

Tanpa terasa beberapa buliran bening kini mengalir dari mataku. Pedih sekaligus sesak mendengar apa yang menimpa kekasihku. Lebih pedih lagi karena aku tahu setelah sekian waktu berlalu. Tepian sungai kualuh yang memberi keindahan tetapi tepian kualuh juga menghancurkan hidupku. Sarjana Kehutanan yang kusandang kini tak berarti apa-apa, sejauh mata memandang hutan itu telah menghilang sekaligus menghilangkan tempat dimana akhir dari harapan ini kutambatkan.@

Iklan

Mei 15, 2008 - Posted by | Fiksi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: