Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

PILIHAN KALONG KECIL

‘Tidak ngantuk’ tulisku.

‘Ngantuk? Belum, belum sama sekali, namanya juga Kalong.’ Ia membalasnya.

Malam ini seperti malam-malam sebelumnya aku menghabiskan waktu dengan ber-SMS. ‘Kalong kecil’ itu memang punya ketahanan tinggi, buktinya waktu sudah menunjukkan dini hari ia masih saja membalas pesan-pesan singkat dariku. Padahal tak jarang besoknya kami harus beraktivitas sejak pagi. Tetapi siapa yang peduli jika itu membuat hati kami senang. Diluaran sana banyak eksekutif muda atau orang biasa yang menghabiskan waktu sampai pagi hari untuk sekedar mendapat kesenangan dengan duduk-duduk di club-club, cafe atau ngedugem padahal esoknya mereka harus beraktivitas kembali, tak ada masalah. Tidak hanya itu, mereka juga mengeluarkan banyak uang. Sementara kami? Hanya beberapa ratus ribu rupiah itupun untuk satu bulan, jadi tak ada salahnya kan? Aku mencoba untuk mencari-cari pembenaran. Dasar!

‘Tidak menyangka setelah sekian lama aku anggap hal itu menyedihkan, tetapi malam ini aku bisa menghadapinya dengan rasa bahagia.’ Setelah bunyi bip beberapa kali yang juga mngejutkanku, antara sadar dan tidak kubaca tulisan itu di hp-ku. “ Gila nih anak belum tidur juga,” gumamku lirih. Sementara aku sudah dapat beberapa ronde, lumayan. Komputerku masih menyala, setelah dapat beberapa paragraf sepertinya tadi aku terbius dengan alunan musik inspritual moment yang kuputar. Tanpa sadar sudah hampir setengah jam aku ‘sekarat’ di meja kerjaku. Pantesan pinggangku pegel, posisi tidurku tidak nyaman. Kulihat jam, sudah setengah tiga. “Aooo….,” aku mendesis panjang melepaskan rasa kantuk dan kepenatan.

Syukurlah jika akhirnya kamu bisa memaknai suatu peristiwa dari cara pandang yang lain. Kebahagiaan tidak harus dicari terlalu jauh kan, tinggal mengubah cara berpikir kita, ketemu deh!’ balasku, dengan sedikit berharap dia mengerti maksudku. Tak ada balasan, bahkan ketika kuputuskan untuk mengakhiri tulisanku di komputer. Barangkali dia sudah sampai ke dunia indahnya. Seperti malam-malam biasanya pula kami mengakhiri sms-an ketika salah satu dari kami sudah ‘tak sadarkan diri’. Kembali kulihat jam, setengah empat.

Lama aku tak melihat Kalong Kecil, aku mulai menduga kalau kerajinannya mulai ngadat. Namun ketika hal itu kutanyakan, ia protes berat. Justru dia bilang aku saja yang tidak melihat dia, dia ada dan seperti biasanya dia hadir di tempat kerjanya. Oh…., berarti aku yang salah.

Sebenarnya ruanganku tak jauh dari ruangannya, dan setelah kuhitung ternyata baru dua hari aku tak melihatnya nongol. Itupun karena aku harus mengikuti meeting redaksi beberapa hari ini. Bisa jadi aku yang salah.

‘emang setiap kali dateng mesti ngabsen dulu ke situ!’ Jawaban dari dia belum kuhapus dari hpku. Untuk membuktikannya, akupun segera ngeloyor keruangannya. Benar saja, kulihat Kalong Kecil masih menikmati Chiki kesukaannya. Melihat kedatanganku, ia hanya tersenyum sekilas tanpa mau terusik menikmati makanannya.

“He..! Kamu kemana saja?” Kupasang mimik serius agar dia yakin kalau beberapa hari ini aku benar-benar mencari dia.

“Ada!” Jawabnya sekenanya, sambil matanya terus menatap ke komputernya. “lagian mana ada sih orang selain gue yang mau bersusah payah mengantarkan donat ke meja loe!”

“ Ha…ha, jadi donat itu loe yang kasih.” Kemarin sore memang ada dua gelinding donat di mejaku. Tanpa banyak tanya, keduanya langsung kusantap tanpa mesti kutahu siapa tuan dari donat itu. Kalaupun ada yang mengaku paling tidak aku sudah menghabiskannya, pasti mereka juga maklum. Aku tersenyum dalam hati, seandainya aku tahu donat itu memang untukku pasti aku dapat menikmatinya dengan lebih santai, tumben aja sih.

“Ayo bilang apa?” Hardiknya tanpa menatapku.

“Oke deh, makasih cantik,” Sahutku sambil berlalu dari meja kerjanya.

Kalong kecil, aku suka memanggilnya begitu, lebih akrab meskipun terkadang dia protes. Tapi masa bodo, sebab dia juga lebih sadis dalam memberikan gelar padaku ; mulai dari orang unik, aneh, filsuf, tukang bohong, simales, si stres, tukang berantak dan entah apa lagi, saking banyaknya aku jadi tak ingat semuanya. Panggilan kalong kecil memang pas buat dia, selain nih anak betah banget melek malam, postur tubuhnya juga mungil.

Sebagai editor dan penerjemah freelance di kantorku, kami cukup akrab satu sama lain.

Nama aslinya sih Novembria, lahir pas bulan November yang ceria begitu ia selalu menjelaskan padaku. Mungkin dia benar, habis kalau kulihat di kesehariannya nih anak tidak pernah kulihat sedih. Ketawanya renyah, wajahnya juga selalu terlihat berseri. Keriangannya, jujur saja selalu membuat aku terhibur, selain memang dia manis. He.he, kalau yang ini bukan hanya aku yang mengakuinya. Teman-teman di kantor juga banyak yang bilang begitu.

Sebagai mahasiswa tingkat akhir di fakultas ekonomi jurusan akuntansi UI nih anak memang rada aneh, karena pekerjaan yang ia tekuni tidak nyangkut dengan ilmunya itu. Editor sama penerjemah. Menjadi editor karena sejak SMA dia suka banget ngedit tugas temen-temennya, selain dia juga hobi banget sama yang namanya tulis menulis. “E…jadi keterusan deh! Sedangkan menjadi penerjemah, suratan takdir kali…” Dia pernah mengatakan begitu padaku saat aku ditraktir untuk merayakan gaji pertamanya dua bulan lalu. Tapi emang dia jagoan dalam bahasa Inggris.

Anaknya enak diajak bergaul, menyenangkan gitu deh.,lucu terutama waktu dia lagi serius. Nah, karena mungkin aku dilahirkan untuk iseng, seringkali dia menjadi objek keisenganku. Dari situlah ia mulai memberi 1001 julukan padaku. Ha..ha, maafkan aku ya! Sebagai teman kerja, dan memiliki kesibukan luar biasa maka seringkali komunikasi diantara kami terjadi hanya melalui SMS, terutama saat kami asik bekerja di rumah kami masing-masing. Biasa, kejar date line. Pekerjaan sampai tengah malam menjadi lebih ringan, meski efeknya menjelang pagi baru bisa kelar.

Awalnya aku sempat tak percaya ketika gadis seceria Kalong Kecil memiliki persoalan yang lumayan pelik. Namun sebagai sebuah kenyataan yang sudah dan sedang ia jalani tentu aku juga turut merasakan keprihatinan. Apalagi sejak masuk ke kantorku beberapa bulan yang lalu, ia cukup dekat padaku. Tak jarang ia kuajak untuk meliput selepas pulang kantor, atau saat lagi nganggur. Statusnya sebagai pegawai paruh waktu memang membuat tak sepenuhnya ia terikat di kantor, lebih leluasa.

Sore itu sepertinya Kalong Kecil lagi tidak bergurau, ia serius menceritakan apa yang sedang ia alami. Mulai kisah cintanya sampai keluarganya. Atau suasana saat ini yang membuat ia mengingat semuanya. Karena memang saat itu aku mengajaknya meliput rangkain kegiatan olahraga dan seni yang dilakukan oleh sebuah SMA di Jakarta Pusat. Tentu saja banyak remaja puber yang sedang ber’aktivitas’ di sana, sehingga Kalong Kecil barangkali jadi ingat pada masa remajanya. Entahlah!

“Kalau orang jarang ditelpon, apakah itu bukti kalau kita tidak dipedulikan ya?” Ia membuka pembicaraan, saat aku sedang asik menyaksikan pertandingan basket dan mengambil gambar dari pertandingan tersebut.

“Kok tiba-tiba kamu nanya begitu, kenapa?”

“jawab aja!”

Aku mengangguk sekenanya, perhatianku masih tertuju pada objek kamera yang sedari tadi kuarahkan pada seorang pemain yang menurutku menarik.

“Emang loe slalu ditelpon sama Bonyok loe?”

Aku hanya menggeleng,

“Orang tuaku tinggal di kampung, belum kenal sama yang namanya telpon. Paling banter juga surat, itupun belum tentu tiga bulan sekali. Gue juga sih yang gak pernah kirim surat ke mereka, ….eh, tapi kenapa loe nanya begitu sih? “ Aku semakin penasaran dan kucoba alihkan perhatianku sepenuhnya ke Kalong Kecil.

“Sejak SMA aku sudah di Jakarta, sepertinya hidup sendiri…, dilepas begitu saja.” Tak menatapku Kalong Kecil mengatakannya. Ada yang berat mendesak ruang di dadanya, dari tarikan nafasnya aku tahu, ia ingin melepaskan semua kesesakan yang ia rasakan itu.

“Aku merasakan di sini sunyi, sunyi sekali…, tapi aku bersyukur meski tertatih aku berhasil melaluinya.” Kembali ia melanjutkan ceritanya, namun tak urung membuatku tak mengerti. Pilihan katanya membuatku bingung, dasar, siapasih yang sebenarnya filsuf?

Kulihat Kalong Kecil tersenyum, sepertinya ia yakin kalau aku tak mengerti dengan apa yang ia maksud.

“Bingung kan? Ha…ha…, gue sendiri bingung.” Isengnya mulai deh!

“Ha…ha….,” saling menatap kami pun tertawa bersama.

Akhirnya Kalong Kecil menceritakan juga apa yang ia alami, kali ini dengan bahasa yang tentunya gampang aku mengerti.

Sejak enam tahun lalu ia sudah tidak bersama dengan orang tuanya, mereka berada di kota yang berbeda. Kalong Kecil di Jakarta sementara kedua orang tua, dan seorang adiknya berada di Bangka. Ke Jakarta memang keinginannya, namun sebelum semuanya berubah, sebelum ia menemukan kebahagiaan di tengah keluarganya dan gereja kecilnya. Tetapi setelah semuanya berubah, ingin rasanya ia membatalkan kepergiannya. Terlambat, semua telah dipersiapkan di sana. Tempat tinggal dan sekolah yang untuk hal tersebut familynya di Jakarta sudah cukup banyak mengeluarkan biaya. Tak sampai hati kalau harus mengecewakan mereka. ‘Tak ada salahnya dicoba’ gumamnya lirih saat itu.

Sebagai Gadis kecil yang baru 14 tahun dan duduk di kelas 1 SMA, Jakarta membuatnya dilanda kesepian meski ia tinggal di rumah paman bersama dengan 3 orang saudara lainnya, tetapi tetap saja itu tak mengubah keadaan. Ia merindukan ‘bintangnya’, kaca kamarnya, gonggongan anjing tetangga dan masih banyak lagi. Terutama Mama, Papa dan adiknya semata wayang.

“emang apa yang telah berubah di Bangka ?” Kucoba ajukan pertanyaan agar Kalong kecil memperjelas maksudnya.

“Mama dan papaku, saat aku hendak meninggalkan kotaku justru aku menemukan rasa kasih yang selama ini aku rindukan. Kasih diantara mereka, dan kasih mereka untukku. Sayangnya itu terjadi menjelang aku harus jauh dari mereka. Lagian, kehangatan yang kutemukan di gerejaku jauh lebih baik dari sebelumnya. Mungkin itu terjadi setelah aku mengalami sakit. Dalam satu hal aku dapat bersyukur karena penyakit itu, tetapi lagi-lagi semua itu terjadi menjelang keberangkatanku ke Jakarta.”

Meski tak sepenuhnya mengerti, tetapi aku mencoba memahami apa yang terjadi pada si Kalong kecil ini. Ia menyimpan begitu banyak perasaan, mungkin selama ini perasaan itu hanya menjadi miliknya karena tak mudah baginya untuk dapat menceritakan semua ini. Bahkan bagiku pun ia masih menyimpan berjuta misteri, tetapi memang manusia di ciptakan untuk memiliki kehidupannya sendiri termasuk sesuatu yang hanya menjadi bagian dari rahasia besar pribadinya. Dengan demikian ia tidak akan kehilangan eksistensinya yang sempurna sebagai manusia.

“lalu apa hubungannya dengan pertanyaan lo tadi?” setelah lama kami asyik dengan alur pikiran kami sendiri, kucoba untuk mencari hubungan dengan awal perbincangan kami.

“Setelah di Jakarta, mama yang berjanji menelponku tiap hari tak menepati janjinya, sepertinya mama telah kembali seperti dulu lagi, terlebih papa. Kecuali adikku, mereka baru berbicara setelah aku telpon duluan, aku merasa tak dipedulikan oleh mereka. Meski aku tahu pikiranku ini mungkin saja tak benar, tapi aku harus jujur hal itulah yang kurasakan.” Kulihat sekilas wajah Kalong kecil mulai berkaca-kaca, kusodorkan beberapa lembar tissue untuk sekedar menghapus air mata yang mulai mengalir di kedua pipinya, aku tak yakin aku mampu memberi penghiburan berarti pada apa yang kini ia rasakan. Aku hanya ingin belajar mendengar, meski aku juga tak yakin aku bisa.

“Tapi ada hal lain yang lebih berat dari itu,” tak melanjutkan ucapannya Kalong kecil menatapku tajam.

“lain kali aku akan mengatakannya padamu.” Akhirnya ia menutup cerita yang membuat hatinya gelisah. Meski ingin protes, tetapi aku mengerti jika tak semestinya Kalong kecil melanjutkan ceritanya. Kali ini kami sedang bekerja, dan lagian kami berada di tempat yang tidak memungkinkan untuk mengungkapkan sesuatu yang dapat menimbulkan emosi tertentu.

Kantor mulai sepi, kulihat Kalong kecil sudah menungguku.

“Kita kemana?”

“Terserah, sebagai orang yang ditraktir gue nurut aja,” balasku.

“Enak aja..!”

Kulihat Kalong kecil sewot. Namun justru kulihat ia semakin manis dengan tampang keselnya itu. Tanpa banyak tanya lagi kulihat ia sudah menghentikan bajaj, dan menunjukkan lima jarinya. Aku segera tanggap, dengan lima ribu perak aku tahu kami akan segera menuju kemana. Tempat dimana kami sering nongkrong menghilangkan kejenuhan kantor. Dan di sanalah Kalong kecil berjanji melanjutkan ceritanya tempo hari yang belum selesai.

“Sebenarnya ada seseorang yang mengganggu pikiranku beberapa waktu yang lalu, tetapi kini aku sudah dapat menghadapinya dan menganggapnya sebagai masa lalu.”

Kalong kecil menatapku dan mengatakan hal itu dengan keseriusan penuh. Berangkali ia tak ingin aku terbawa ke dalam candaanku barusan. Baru saja aku menggodanya, kalau belakangan ini ia mulai tak membalas SMSku karena mulai asik PDKT, ia tak setuju namun aku terus mengatakannya.

“Ia hadir saat aku memasuki dunia remaja, awalnya aku hanya mengaguminya sebagai seseorang yang pandai memainkan nada sehingga gereja menjadi semarak karena permainan keyboardnya. Namun kebaikan dan kedewasaannya mampu membuat gadis kecil yang mulai tumbuh sebagai manusia ini merasakan satu getaran yang berbeda. Aku tak berani mengakuinya meski getaran itu terus ada.” Kalong kecil menghentikan kalimatnya, kemudian meraih gelas juz yang sedari tadi sudah berada di depannya.

Aku hanya terdiam menyimak, sesekali aku mengerut mencoba mencari maksud dari kalimat Kalong kecil yang meluncur begitu saja. Jelas sebelumnya ia tak pernah menyinggung hal ini.

“Aku tak yakin, tapi aku harus yakin kalau aku menyukainya, atau mungkin juga aku mencintainya. Aku tak tahu, aku belum pernah mengalami perasaan seperti ini. Meskipun begitu aku berjanji dalam hatiku tak boleh seorang pun tahu, tak terkecuali dia yang telah membawaku ke dalam guncangan yang tak terpahami ini.”

Aku masih tak ingin menyela, meski sesungguhnya aku mulai bingung.

“Ternyata apa yang kurasakan tak sepenuhnya milikku, meski sempat ragu untuk berharap, namun justru semua terjadi seperti mimpi. Ia juga mencintaiku, bahkan terus terang menyatakan apa yang ia rasakan tidak hanya padaku tetapi juga pada keluargaku. Jauh di lubuk hati aku kagum pada keberaniannya, namun justru itu yang membuat perasaan gadis kecil ini terombang ambing.”

Kalong kecil menatapku namun kulihat matanya menerawang jauh, menembus entah sampai dimana. Dalam kalimat terakhirnya tersirat aku mulai merasakan bahwa babak pilu yang ia rasakan mulai akan mengalir. Ia sudah memulai, akupun tak mungkin menghentikannya.

“Lo masih mau mendengarkan gue kan?” seakan tak yakin, dengan bahasa gaulnya ia meminta penegasan sikapku.

Aku mengangguk, “kamu yakin padaku kan?”

Lama ia terdiam, mungkin ia sedang menggali kembali semua kenangan itu atau sedang mengumpulkan kata-kata untuk dapat kembali membangun cerita yang utuh yang dapat aku pahami. Entahlah, namun yang pasti tak kutemui keraguannya atas pernyataanku barusan dari sorot matanya. Selain kepolosan ada kejujuran di sana.

“Mama tahu siapa dia, sikapnya…. Karena kejujurannya pada keluargaku, aku mesti menerima ultimatum untuk jauh dari dia. Aku tak peduli, meski sembunyi aku mencoba untuk menerimanya apa adanya. Aku mencoba tak terpengaruh dengan apa yang diceritakan mamaku tentang dia, toh apa yang diceritakan mama itupun ia ceritakan jujur padaku. Tapi aku bukan gadis bodoh meski usiaku masih remaja, aku tak serta merta memberinya harapan. Walau sesungguhnya aku juga ingin jujur kalau aku bahagia mendampinginya sebagai kekasih, namun berulangkali hati kecilku melarangnya.” Kalong kecil kembali menghela nafas panjang.

“Oh iya, aku mengenalnya pertama kali saat aku sudah tinggal di Jakarta dan waktu itu sedang pulang liburan. Jadi tentu mamaku lebih tahu banyak hal ketimbang aku, tetapi cinta itu kan merdeka. Ia bisa datang kapan saja, dan untuk siapa saja, sebagai anugerah tentu aku tak bisa menolak perasaan itu kan?”

Lagi-lagi aku hanya bisa mengangguk.

“Meski jauh, awalnya kami tetap kontak tanpa sepengetahuan orang tuaku. Ia berjanji menunggu aku dewasa sampai aku siap untuk mengatakan perasaan ini. Karena terus terang selama itu aku tak mengatakan jujur perasaanku. Syukurlah ia mengerti, kedewasaannya semakin membuatku jatuh hati padanya. Tak mesti harus terucap kan?”

Kalong kecil menghela nafas panjang.

“Mungkin aku juga yang salah tidak mengakui perasaan ini sejak awal, jadi semuanya itu terjadi.” Ia melanjutkan, seolah aku sudah mengerti maksudnya.

“Maksudmu?” Ragu, namun kuputuskan untuk bertanya juga.

“Iya meninggalkan aku, tapi lebih tepatnya ia membohongi aku.” Kalimatnya terhenti, ada getir yang mulai ia rasakan, wajah riangnya kelihatan resah.

Aku tak berani mengomentari sedikitpun dari apa yang diungkapkan Kalong kecil barusan. Jujur saja aku hanyut dalam ceritanya, meski lambat tapi yang ia rasakan mulai kupahami. Tak ada hal lain yang dapat kulakukan selain menatapnya lekat dengan penuh kasih, kasih dari rasa empati seorang sahabat.

Cerita Kalong Kecil malam ini mengusik pikiranku, terlebih beberapa SMSku tidak dibalasnya. Bisa saja ia kehabisan pulsa, tapi tidak biasanya seperti itu, setahuku ia tidak pernah telat isi ulang. Saudaranya pernah bilang kalau hp dan SMS itu kaya nyawa dan jiwanya dia, jadi ya gak mungkin aja kalau kali ini ia gak punya pulsa. Atau…..? Ah entahlah, aku tak ingin terbawa ke dalam praduga-pradugaku.

Kubaca ulang tulisannya di komputerku, sebagian besar sudah ia ceritakan siang tadi cuma bagian akhir, ia ingin aku membacanya sendiri. Ia tak ingin terbawa emosi, jadi aku hanya diberinya disket yang berisi cerita lengkap tentang apa yang ia alami.

Selain kedewasaannya, ia juga kukagumi karena kehidupan rohani yang ia tunjukkan. Namun ternyata ia bagai serigala berbulu domba yang menjebak mangsanya dengan perangkapnya itu. Anehnya itu semua tak segera memupuskan rasa banggaku padanya, yang membuatku tak berhenti membelanya di keluargaku. Cintakah itu?

Akhirnya aku harus menyerah, ketika mantan pacarnya terus menterorku…,bukan karena aku merebut dia tetapi ia memberi warning padaku. Orang yang selama ini kukagumi ternyata telah merenggut keperawanan seseorang yang kini kukenal sebagai mantan pacarnya. Kini dia mengingatkanku agar aku tak menjadi korban berikutnya. Aku sedih jika cinta itu harus kupadamkan sebelum aku melihat indah sinarnya. Dan perasaan itu harus layu sebelum kulihat berkembangnya. Namun aku juga harus sadar jika hidup ini realistis. Terlebih jika ternyata jauh di Bangka sana kudengar saat ini dia telah pacaran lagi. Masih layakkah ia kubela di depan keluargaku? Persetan dengan dia, meski kini aku harus hati-hati membuka hati ini.

Aku menarik nafasku panjang, kucermati dan kucoba mengerti pilihan yang diambil oleh Kalong kecil. “Pilihlah yang terbaik untuk hidupmu,” gumamku lirih. @

Iklan

Mei 15, 2008 - Posted by | Fiksi

1 Komentar »

  1. hahahah.. emang cocok jd penulis.. btw.. jangan lupa bayar royalty.. hahahhahaha…
    ceritanya lucu, mengharukan,, bagus..bagus.. ^.^

    Komentar oleh novie | Mei 26, 2009 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: