Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Mengais Harapan di Negeri Seberang

Setelah merazia pengadu nasib illegal di negerinya, kini giliran para penguasa negeri jiran tersebut mewanti-wanti warganya untuk tidak pergi ke seberang, sebuah negeri yang disana penuh dengan ketidak pastian. Ironis memang, karena negeri tersebut adalah negeriku, tempat dimana aku lahir, besar, dan meletakkan rasa kebanggaan. Sebuah negeri yang oleh para sesepuhnya diberi nama Indonesia, meski hingga hari ini asal muasal nama itu masih menjadi perdebatan. Yang pasti aku tidak akan turut memperdebatkan risalah dari nama itu, yang penting negeriku bernama dan orang tahu kalau aku sedang membicarakannya.

Sebuah negeri yang dibangun dengan kegagahan, patriotisme, dan kebesaran jiwa. Tempat banyak orang menambatkan harapan setelah sekian lama terbelenggu oleh beragam keterasingan. Asing dengan diri sendiri, asing dengan orang lain dan asing pada realitas kehidupan. Meski tak jarang, orang menikmati bentuk keterasingan tersebut. Tapi biarlah, toh negeri ini sudah berdiri, meski dalam usianya yang ke 57 (waktu tulisan kubuat) ini keberadaannya masih tertatih menyangga beban yang tak semestinya disangga oleh negeri yang masih muda.

Di situ kebanggaan demi kebanggaan kubangun, harapan demi harapan kucoba ciptakan manakala banyak orang bilang tak ada harapan. Tangis barangkali tak lagi cukup untuk merasakan duka, kata barangkali menjadi terlalu murah. Karena sering dipakai untuk bisa mempersalahkan. Akan tetapi perbuatan kecil dan sederhana akan menjadi bermakna, walaupun dimata sekian banyak orang ia tak bermakna apa-apa. Biarlah, toh itu yang aku bisa. Aku tak mungkin dapat memberi sesuatu yang tak mungkin aku bisa beri, aku hanya akan memberi sesuatu yang memang aku bisa beri. Kalau dianggap tak bernilai, tak apalah, yang penting aku sudah berusaha memberikan yang terbaik.

Kembali pada persoalan negeriku hari ini; sesungguhnya aku ingin marah dan melontarkan umpatan, tapi yang jelas bukan pada negeri tetanggaku. Bukan pula pada mereka yang seenaknya saja membangun keangkuhan atau menjajakan belas kasihan di tanah orang, bukan! Sekali lagi, bukan! Meski aku tahu tak sedikit dari mereka mesti menjalani hukuman cambuk, untuk kesalahan yang tak sepenuhnya mereka lakukan. Lantas bukan berarti pula aku tak berempati pada mereka, walau mungkin saja aku tak lagi ingat pada bagaimana turut merasakan penderitaan orang lain. Kejengkelanku, kedongkolanku ingin kuluapkan pada diriku sendiri. Karena ketika semua ini terjadi aku bukan apa-apa dan bukanlah siapa-siapa? Meski aku tahu berbuat dengan menunggu menjadi apa dan siapa adalah ketololan besar dalam kamusnya para dungu, apalagi kamusnya orang pintar.

Kalau sebuah negeri mencoba bersikap manis dan bersahabat, mau mengerti dan bisa memahami tanpa sebuah akhir. Mungkin bisa menjadi sebuah kearifan yang tolol, tetapi senada dengan itu ia penghambat proses kedewasaan. Ia menjadi sosok ibu manja yang menjadikan lumpuh anak kesayangannya. Dan masih ada puluhan kalimat sejenis yang bisa menggambarkan kondisinya. Barangkali negeri tetanggaku tak ingin menjadi seperti itu. Menjadi sebuah negeri dungu yang dipecundangi sahabat karibnya, dengan dalih kebersamaan . Kalau kalimat ini menjadi tendensius, memang hal inilah yang terlontar.

Menjadi dewasa, berarti tidak melontarkan segala ketidak mampuan pada orang lain. Menjadi dewasa, berarti tidak minta disuapi. Menjadi dewasa berarti mencoba bisa menyelesaikan masalahnya sendiri. Meski aku tak memungkiri, untuk seperti itu ia butuh dukungan. Manakala IMF berkelebat, kegundahan sempat terobati, mungkin ia adalah dewa, yang tidak hanya meninabobokan tapi juga bisa mendewasakan. Ia hadir tidak hanya memberi susu dan madu, namun juga segepok petunjuk bagaimana menjadi sebuah negeri. Ada demokrasi, ada hak asasi, ada kebebasan ekonomi serta yang pasti negeriku harus ngerti bagaimana menjadi sapi, penginnya sih dalam jangka panjang bisa menghasilkan susu sendiri. Dasar! Karena madu dan susu itu malah jadi candu, yang tidak hanya sekedar membuat mabuk, tapi juga ngga bisa bangun.

Uring-uringan jelas tidak menyelesaikan masalah, anehnya justru itu yang dilakukan para punggawanya. Lengkap sudah penderitaan tanah airku, eh maksudku penduduk negeriku. Jalan pintasnya ya minggat, toh lebih baik hujan batu dinegeri orang ketimbang hujan parang dinegeri sendiri. Meski di sana dikejar-kejar polisi, ya resiko. Karena nyatanya mereka lebih ngerti pada kebutuhan hidup kita. Ngerti kalau tenaga itu butuh nasi, nasi dalam ilmu ekonomi butuh duit. Sementara di negeri sendiri yang kabarnya subur makmur gemah ripah loh jinawi, tenaga dianggap hanya butuh tiwul, kalau pengin nasi harus direwangi panasan di siang bolong sambil teriak-teriak. Itu pun dengan catatan aman, lha kalau PHK!? Ya apes!

( Catatan kecil saat mendengar penderitaan para TKI di negeri jiran beberapa waktu yang lalu )

Iklan

Mei 2, 2008 - Posted by | Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: