Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Belajar Tak Menjadi Tuhan

‘Aku sudah berbuat salah, marahkah Tuhan padaku?’ Aku tercenung memikirkan pengakuan dan sekaligus pertanyaan tersebut. Di keheningan pertanyaan itu terus bergelayut, sebuah pertanyaan absurd tetapi membutuhkan jawaban ril sebagai landasan menemukan kebahagiaan religius. Menjawabnya aku mencoba mengurai pertanyaan tersebut ke dalam beberapa pertanyaan lanjutan ; apakah Tuhan pernah marah? Jika pernah untuk apa? Jika tidak mengapa? Dan jika marah kepada siapa dan untuk hal seperti apa? Dan seterusnya, dan seterusnya.

Bukankah Tuhan pernah ‘menunggangbalikkan’ para pedagang di depan bait Allah yang menjadikan tempat tersebut seperti sarang penyamun, juga menegur murid-muridnya dengan ucapan ‘keras’, bukankah itu bukti Tuhan marah? Atau kita mendengar kisah nabi Nuh, juga kisah Sodom Gomora? Bukankah itu juga bukti kalau Tuhan marah? Atau bencana maha dahsyat Tsunami yang baru saja melanda Aceh? Ah, atau semua itu hanya ditafsirkan demikian oleh para teolog? Entahlah, tetapi sepertinya malam ini aku merenungkan hal yang berbeda, meski aku juga tidak tahu apakah yang kupikirkan malam ini benar.

Allah sebagai ‘oknum’ yang berkuasa atas segalanya tentu dapat mengendalikan semua yang ada, atau kata lainnya semua yang ada berada di dalam kendali-Nya termasuk manusia. Jika demikian apa perlunya Ia marah? Ia tahu persis mengapa semuanya demikian, semuanya hanya dapat terjadi atas izin-Nya. Tak ada yang mampu menjengkelkannya, malaikatnya pun tidak. Sebab Ia bertindak semata karena kemauanNya, bukan karena kita. Untuk keAgungan dan Kebesarannya Ia tak butuh manusia untuk mengakuinya, karena eksistensi keAgungan dan Kebesaran itu sudah melekat di dalam diri-Nya. Ia Agung tanpa kita memuja, Ia besar tanpa harus menunggu kita mengakuiNya. Apalagi pembelaan dari manusia untuk-Nya, jelas Ia tidak membutuhkan itu semua. Lalu salahkah manusia yang selalu menyatakan bahwa perbuatan yang kita lakukan dapat menimbulkan kemarahan Tuhan? Entahlah!

Manusia diciptakan unik, karena manusia memiliki sisi spiritual dari proses berpikirnya yang abstrak termasuk dalam belajar menafsirkan Tuhan dengan segala keberadaan-Nya. Namun seringkali justru berlebihan, bahkan manusia seringkali menjadi tuhan itu sendiri. Menghakimi sesamanya, seolah-olah ia adalah wakil Allah yang sah sehingga kata-katanya harus di dengar. Ia lupa jika Allah hadir secara pribadi dan menemukan setiap pribadi melalui pengalaman hidupnya. Aku memahaminya bahwa iman adalah persoalan empiris setiap pribadi dalam menemukan atau ditemukan Tuhan. Lalu untuk apa claim-claim manusia itu? Mungkin itu semua karena manusia membutuhkan tempat atau ruang bagi eksistensinya, karena memang manusia diciptakan membutuhkan sesamanya maka untuk eksistensinya pun ia membutuhkan ruang bagi sebuah pengakuan. Karena memang manusia bukan siempunya eksistensi atas dirinya, jadi sebenarnya claim itu juga sesuatu yang manusiawi. Jadi kupikir jelas bahwa claim-claim para ‘wakil tuhan’ itu justru berasal dari kepentingan dirinya sendiri.. Tentu Anda boleh tidak setuju.

Iklan

April 24, 2008 - Posted by | Aku dan Tuhanku

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: