Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Jujur aku berbohong!

Semula saya sempat tersenyum ketika mendengar kalimat di atas meluncur dari salah seorang rekan di sekolah. Tetapi kemudian kesederhanaan saya berpikir mencoba mencerna kalimat tersebut, mencari sesuatu yang bermakna dibalik ungkapan itu.

Berbohong adalah sebuah kebenaran yang sesungguhnya, manakala kebenaran yang senyatanya tak pernah terungkap atau diketahui oleh sipenerima informasi. Artinya tak ada kebohongan di sana. Sementara kebenaran yang senyatanya tersimpan rapi dalam ingatan sipemberi informasi. Ungkapan lazim untuk itu ialah ; hanya dia dan Tuhan-lah yang tahu.

Pertanyaannya kemudian adalah mengapa ia harus berbohong atau melakukan kebohongan itu? Jika sebenarnya kebenaran akan kebohongan itu justru berdampak bagi dia yang berbohong. Karena berbohong sama artinya dengan membohongi dirinya sendiri, karena hanya dia yang tahu bahwa dirinya berbohong. Namun anehnya banyak pembohong yang merasa berhasil dan bangga jika kebohongannya dipercaya, padahal sekali lagi bagi penerima informasi kebohongan adalah sebuah kebenaran. Jadi ya wajar saja, tak ada sesuatu yang luar biasa di sana untuk dibanggakan atau ditertawakan. Kalau toh ada, ya berarti diri pembohong sendiri karena segala kelucuan di balik rahasia tersembunyi itu hanya ada padanya.

Berbohong kadang menjadi sebuah ‘keharusan’ dari kehidupan manusia yang di katakan oleh Aristoteles sebagai mahluk sosial. Konstruksi sosial sekeliling kita menuntut kita berbuat atas dasar kepatutan-kepatutan normatif atau hukum-hukum positif yang suka atau tidak harus demikian. Jika tidak maka sanksi akan menjadi hal jamak menimpa kita. Persoalannya, konstruksi sosial yang berupa kepatutan normatif atau hukum positif merupakan hasil dinamika berpikir manusia dalam lingkungan komunitas tertentu walhasil segala sesuatunya akan bermakna serba relatif. Tetapi kepatutan normatif dan hukum positif tersebut menjadi baku, mengalahkan kenyataan bahwa realitas kehidupan berubah dan dinamika berpikir terus melaju. Akibatnya pemaknaannya menjadi monoton dan pasti menjemukan. Sementara bertindak diluar kepatutan tersebut apapun alasannya adalah sebuah kesalahan. Sehingga kepatutan normatif atau hukum positif tak jarang harus disiasati agar sanksi dapat dihindari. Berbohong sering menjadi solusi ampuh untuk mengatasi persoalan demikian.

Apa yang sebenarnya ingin dicapai oleh sebuah kebohongan? Saya menduga salah satu dari sekian banyak tujuan kebohongan adalah adanya permakluman atas tindakan ( bisa pada tataran ril atau abstrak ), meski saya yakin masih banyak hal lain yang mendorong seseorang untuk berbohong. Jika permakluman menjadi tujuan, jelas kebohongan hanya ditujukan bagi penciptaan relasi sosial yang selaras, artinya meredam gejolak yang bisa saja terjadi atas tindakan yang tidak senada pada ketentuan normatif atau hukum positif yang digariskan. Tidak peduli apakah gejolak itu ada dalam wilayah pribadi atau kolektif. Sebagai sesuatu yang mampu meredam gejolak, tentu penghakiman atas tindakan itu menjadi sangat sumir. Ada wilayah abu-abu di sana.
Tak ada asap kalau tak ada api, kiranya ungkapan tersebut tepat untuk memahami realitas kebohongan atas dasar kenyataan di atas. Artinya kebohongan dengan tujuan pemakluman seringkali hadir sebagai respon atas ketidak berdayaan pelaku untuk membangun bentuk kemapanan individual di tengah kemapanan kolektif yang serba relatif yang tak jarang juga pelaku-pelakunya gerah. Jika ditelusur lebih jauh tentu sebuah konstruksi normatif dan hukum positif yang melahirkan fenomena kebohongan hanya akan melahirkan sikap hipokrit atau paling pool ABS (asal bapak senang). Nah kalau sudah demikian kita tinggal menungggu waktu untuk kebangkrutan sistem tersebut. Tidak peduli sistem itu di bangun pada tataran dan ruang lingkup seberapa, baik hubungan antar personal atau multipersonal. Semuanya bisa ambruk!!

Kebohongan merupakan realitas yang kerap muncul dari suatu sistem ‘absolut’ yang mengharapkan kenyataan dan impian itu seragam. Artinya kebenaran sudah digambarkan sebelumnya, sebelum semuanya terjadi. Atau jika sesuatunya yang tidak senada diharuskan menjadi seideal-idealnya, tak ada tempat untuk perbedaan yang bisa dimaklumi karena itu dapat menjadi sebuah preseden. Lalu?

Iklan

April 14, 2008 - Posted by | Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: