Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

RASA MALU VS KEMALUAN

Ketika Adam dan Hawa jatuh ke dalam dosa, mereka menyadari bahwa mereka telanjang. Ada rasa malu yang tiba-tiba mereka rasakan, yang sebelumnya tak pernah mereka rasakan. Upaya pun dilakukan untuk menutupi rasa malu itu, tindakan responsif yang dikemudian hari menjadi sebuah prilaku sosial universal, yaitu menutupi organ kemaluannya.

Kemaluan ( penis dan vagina ) menjadi sebuah simbol rasa malu, ia merupakan manifestasi ril dari rasa yang abstrak. Wujud konkret dari pemahaman budaya, dan karena budaya ada semangat zaman, dan lingkungan yang turut mencampuri manusia dalam memperlakukan simbol tersebut. Tergantung bagaimana manusia menginterpretasi dan memanifestasikan rasa malu terhadap simbol phisiknya. Untuk kepentingan itupun manusia masih memilahnya, barangkali semangat berpikir dominasilah yang membuat mereka mengkonstruksikan demikian, laki-laki punya wilayahnya sendiri dan perempuan pun demikian.

Simbol abstrak yang melekat pada phisik tersebut terus menerus mengalami proses pemaknaan, bahkan nilai-nilai normatif yang melekat pada masyarakat, berusaha terus memperdebatkan standar-standar moral (abstrak) dalam memperlakukannya. Apalagi jika sudah menyangkut nilai yang bersifat agama, logis atau tidak manusia berusaha mengikutinya. Sehingga tak jarang, rasa malu menjadi sebuah ikon formal, yang dibarengi oleh seperangkat tatakrama dalam menutupi (baca: memperlakukan) kemaluan yang bersifat phisik. Dalam hitam putih hukum (baca: tatanan moral), pemberlakuannya menjadi : kalau begini boleh, dan kalau begitu menjadi tidak boleh. Jika sudah melakukan tindakan yang boleh tersebut, maka bolehlah seseorang melenggang, bergaul dan berdiri tegak di tengah lingkungannya. Ia tidak perlu malu lagi! Artinya standar moral kesusilaan telah ia penuhi.

Dalam sebuah kolom kecil sebuah koran harian nasional (kompas,Jumat 27 Februari 2004) terdapat sebuah prilaku nyeleneh seorang calon anggota legislatif, setidaknya dikatakan demikian menurut standar normatif. Sebab seorang calon anggota legislatif, yang berarti seorang calon yang mewakili masyarakat pendukungnya, mencoba menarik simpati dengan cara memamerkan organ kemaluannya, atau setidaknya bugil menurut harian tersebut. Semakin menarik manakala diketahui jenis kelamin dari caleg tersebut adalah perempuan. Cuma sayangnya, hal tersebut terjadi di Hongaria dan merupakan caleg Parlemen Eropa.

Prilaku nyeleneh calon anggota Parlemen Eropa bernama Anettka Feher tersebut, pasti menimbulkan berbagai macam pemikiran. Sayangnya media massa tersebut tidak mengulasnya, sehingga khalayak pembacanya tidak bisa mengetahui reaksi masyarakat di sana. Meskipun demikian bukan berarti kita tidak bisa menganalisisnya.

Apapun yang dia lakukan pasti bukanlah sebuah kebiasaan, ini adalah sebuah kejutan. Dengan harapan, ketelanjangannya mampu menyita perhatian publik, setelah itu barulah publik ingin tahu siapa sesungguhnya dia. Mungkin ia beranggapan cara tersebut efektif untuk menjadi jalan masuk kearah propaganda program-programnya, dan lebih efektif dari sekedar gebyar dangdut dalam kampanye di Indonesia. Sebuah alternatif terobosan yang cukup serius, dan membutuhkan pengorbanan.

Menelanjangi diri sendiri secara harafiah yang dilakukan caleg tersebut, merupakan sebuah keberanian menerobos tatanan dengan hal yang tidak lazim, meskipun itu terjadi di negara barat. Artinya ia berani menanggung rasa malu yang abstrak, dengan cara membuka kemaluannya yang konkret. Sehingga manifestasi ril (simbol) dari rasa malu yang abstrak tersebut menjadi tidak lagi menjadi simbol kemaluan bagi dirinya. Walau hanya dilakukan sesaat tapi bukan berarti orang tidak akan menyimpannya untuk sepanjang masa, berkat teknologi fotografi. Artinya sepanjang hidup, simbol kemaluan itu sudah tidak berlaku lagi bagi dirinya. Inilah yang disebut dengan pengorbanan. Dan kalaupun ia berharap mendapatkan simbol, phisik sudah tidak lagi dapat memenuhinya, karena ketelanjangannya tidak lagi menyisakan sesuatu untuk dapat ditutupi. Namun bukan berarti ia tidak lagi punya rasa malu, sebab sejak awal dikatakan bahwa rasa malu adalah sesuatu yang abstrak, sedangkan penis dan vagina hanya merupakan sebuah simbol hasil konstruksi kebudayaan. Artinya caleg tersebut mungkin saja tidak kehilangan rasa malu yang absrak itu.

Jika demikian caleg di Hongaria tersebut meletakkan rasa malu “kemaluan” pada tingkatan rasa, yaitu bukan pada persoalan phisik belaka. Namun justru tidak demikian dengan calon wakil rakyat atau bahkan calon pemimpin di negeri ini. Kemaluan adalah sesuatu yang melekat pada phisik, keberadaannya bukan pada tataran abstrak yang tersimpan di hati nurani, melainkan sebatas hanya pada penampakan konkret (phisik). Simbol dianggap menjadi kebenaran dari rasa itu, sehingga menerabas norma-norma yang abstrak menjadi boleh-boleh saja, asal tidak menunjukkan simbol kemaluan yang berupa vagina dan penis. Walaupun bukan berarti apa yang dilakukan oleh caleg Hongaria tersebut penulis setuju, melainkan dari hal tersebut kita boleh berkaca.

Kenyataan ini sangat jelas terlihat dari mata bathin kita, ada begitu banyak orang yang menjanjikan perubahan, membawa negeri ini lepas dari korupsi sementara dia adalah seorang yang korup. Apalagi kalau kita mendengar kasus-kasus korupsi yang dilakukan oleh DPRD di seluruh Indonesia yang jumlahnya miliaran rupiah, belum lagi kasus ijasah palsu. Mereka yang menjanjikan penegakan hukum, sementara dirinya adalah seorang yang mencoba menyiasati hukum dengan memperbodoh para penegak hukum. Dan ada juga pemimpin yang sudah tidak dipercaya, tetapi tetap saja mengaku bahwa dia adalah pemimpin dan tidak bersedia melepaskan kepemimpinannya, sesungguhnya dia itu hendak memimpin siapa?. Ironis memang, jika maling teriak maling, namun bagaimanapun juga ini adalah sebuah realitas yang kini “telanjang” di depan mata, terlebih disaat sekarang ini. Sayangnya kenyataan yang demikian telanjang tak cukup mampu menimbulkan rasa malu, karena sifatnya yang abstrak barangkali, toh keberadaanya jika dilihat tak seperti penis dan vagina yang dapat terlihat oleh mata kepala.

Jakarta, Minggu 28 Maret 2004

Iklan

April 11, 2008 - Posted by | Opini

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: