Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Manajemen Teror dalam Melahirkan Generasi Gagap

Ketika globalisasi melanda dunia, yang paling merasakan gejolaknya adalah negara-negara berkembang. Selain keberadaannya sebagai penopang negara kapitalis, di sisi yang lain negara diperhadapkan pada realitas masyarakat transisi yang gagap kompleks, termasuk di dalamnya dunia pendidikan. Sebagai bagian dari negara berkembang, Indonesia menanggung beban yang sama.

Perubahan paradigma pengelolaan pendidikan menjadi isu sentral, para birokrat pendidikan dan awam mulai bicara otonomi sebagai antisipasi dan jawaban atas “ancaman” tersebut. Otonomi tidak hanya pada manajemen keuangan tetapi juga pada pengelolaan proses akademik di dalamnya. Kedengarannya maju dan antisipatif, namun di balik itu semua ternyata banyak hal yang lupa dipersiapkan. Walau mungkin tak dianggap prinsip? Tetapi sesungguhnya hal tersebut adalah rohnya dunia pendidikan.

Bicara lembaga pendidikan hanya sebagai lembaga sosial, memang sudah bukan masanya lagi. (Meski pendapat tersebut tak sepenuhnya benar). Namun bicara tentang lembaga pendidikan sebagai lembaga profit, mesti dibarengi dengan pikiran kritis, agar tidak terjebak ke dalam hitung-hitungan angka kuantitas. Persoalannya, sebagai ajang bisnis, lembaga pendidikan adalah sebuah ’pabrik’ dengan out put karakter manusia. Sehingga manajemen yang idealnya diterapkan adalah sistem manajemen komprehensif, yang tidak hanya mengedepankan prinsip-prinsip ekonomi semata. Intinya : sebagai apapun lembaga pendidikan, keberadaannya mestilah dipandang sebagai tempat pemanusiaan manusia.

Proses yang Menyenangkan

Membaca gagasan Paolo Freire tentang guru yang merdeka dan Gordon Dryden dan Jeannette Vos dalam The learning revolution, sepertinya dunia pendidikan (persekolahan) itu manis dan indah. Karena disitulah beragam kreativitas dibangun dalam suasana segar dan menyenangkan, sebuah kebebasan berpikir tanpa tekanan. Dan masih banyak lagi, yang apabila berkaca pada proses pendidikan persekolahan di negeri ini, hal tersebut adalah sebuah mimpi.

Dalam sebuah kesempatan membimbing penulisan essay, penulis menjumpai kenyataan yang sesungguhnya tidak perlu terjadi. Siswa mengalami kesulitan ketika diminta untuk menuliskan realitas politik yang kini sedang terjadi, persoalannya mereka tidak tahu, walau yang benar adalah mereka tidak peduli dengan hal-hal di luar sekolahnya. Mengapa? Karena sekolah ternyata telah mengisolasi dan memenjarakan mereka dari realitas. Akibatnya? Mereka menjadi gagap apabila diminta untuk merespon situasi yang terjadi di sekitar mereka. Itu baru sepenggal mengenai satu aspek dalam proses pembelajaran, dan belum bicara tentang seluruh proses dan bagaimana out putnya nanti.

Cara dunia pendidikan untuk mengasingkan anak didik dari dunianya, cukup sistematis dan terhormat. Sebagai “penjara”; dunia pendidikan (baca: sekolah) menjadi penjara yang mahal, tetapi semua orang tua bercita-cita membawa anaknya ke sana. Sistematis: karena memang sekolah memiliki seperangkat kurikulum yang secara nasional kurang lebih sama. Bahkan ketika pemerintah telah mendengungkan Kurikulum Berbasis Sekolah sekalipun.

Kurikulum memang merupakan acuan dalam proses pembelajaran, dan keberadaannya mutlak. Tetapi pengelolaan kurikulum melalui berbagai perubahan tanpa dibarengi upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia yang terlibat di dalamnya, sama saja dengan mengotak atik judul tanpa bicara perubahan substansi. Anehnya, setiap kali bicara sumber daya manusia, sebagian dari kita segera menuduh guru dan pihak sekolah, tanpa mau melihat bahwa di sana ada birokrat pendidikan dan mereka yang menganggap berkepentingan, turut andil dalam carut marutnya dunia pendidikan kita hari ini. Terlebih, mereka sering bersemangat mengarahkan, ketimbang membiarkan para guru dan pihak sekolah membangun kreativitas.

Mencermati polemik UAN, dan pemakaian buku Sejarah dengan kurikulum 2004 yang dilarang oleh kejaksaan, penulis menilai terdapat persoalan pada otonomi guru. Penulis jadi berpikir bahwa sistem pendidikan kita sekarang adalah sebuah sistem pendidikan dengan manajemen kembali pada pola paternalistik. Sebuah proses pembelajaran yang sama sekali tidak mendewasakan, karena segala sesuatu mesti menunggu petunjuk atau menggunakan satu acuan tafsir, bahkan untuk ilmu social yang sifatnya dinamis sekalipun. Kalaupun toh tidak diminta, para birokrat pendidikan dan yang berkepentingan lainnya memiliki kecenderungan senang mendikte, dan menekan, seolah lebih tahu ketimbang mereka yang berada di lapangan. Ada ketakutan di kalangan mereka kehilangan peran, meski tampak nyata bahwa tugas dan fungsi mereka terkadang mengada-ada. Sehingga lembaga pendidikan di negeri ini seolah telah menjelma menjadi lembaga kepentingan, ketimbang sebuah lembaga pencerdasan dengan wacana akademis.

Adalah ironis apabila sekolah yang semestinya menjadi pelopor perubahan menjadi sebuah lembaga yang paling resistan terhadap perubahan. Bukan karena pengelola sekolah tidak mampu melakukan hal tersebut, tetapi karena terdapat pihak-pihak yang berkepentingan tidak menginginkannya. Akibatnya persoalan-persoalan formalistik lebih mengemuka dan menjadi keharusan ketimbang bicara tentang kedalaman materi dan profil lulusan yang merupakan ideal-ideal sekolah. Belum lagi berbagai tekanan psikologis senantiasa membayangi guru dan pihak sekolah yang bersumber dari para birokrat (guru jadi takut salah). Kalau kenyataannya telah sedemikian, bagaimana sekolah dapat menjadi sebuah tempat yang menyenangkan?

Proses Belajar Memberi Kepercayaan dan Mendewasakan

Dalam proses belajar kesalahan bisa saja terjadi, asalkan semuanya dilakukan untuk menuju pada sesuatu yang benar. Untuk menjadi benar mesti tersedia cukup kesempatan mencoba dan kepercayaan. Sehingga melalui hal tersebut sekolah tidak sekedar menjadi tempat segudang rumus, dan hafalan-hafalan mati, tetapi juga sebuah tempat seseorang menjadi dewasa. Menjadi dewasa berarti juga siswa diberi kesempatan menilai apa yang terjadi di lingkungannya secara objektif. Karena pendidikan modern tidak lagi menempatkan guru sebagai satu-satunya sumber kebenaran. Pendekatan multidimensi mesti dikembangkan. Itu artinya beragam materi ajar mesti dihadirkan sebagai salah satu perwujudan dari pendekatan tersebut tanpa mesti ditunggangi oleh kepentingan apapun terkecuali semata kepentingan akademis. Artinya juga bangsa ini harus berani jujur pada generasi selanjutnya tentang apa yang telah terjadi.

Anehnya gambaran ideal tersebut justru diingkari secara sistematis dan sistemik. Kepercayaan: mestinya diawali dengan memberi kebebasan pada guru mengembangkan materi tanpa tuntutan macam-macam yang mengada-ada, berlanjut pada kebebasan sekolah mengembangkan kebijakan lokal tanpa mesti terlalu banyak diintervensi. Khawatir kualitas semakin merosot karena pihak sekolah dan guru kompetensinya masih dipertanyakan? Kembangkan partisipasi masyarakat sebagai lembaga akreditasi independen. Memang semuanya tersebut butuh waktu, tapi kalau tidak dicoba? Ya kapan kita bisa berubah? @

Iklan

April 11, 2008 - Posted by | Opini

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: