Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Kejenuhan

 

“Aku jenuh!” acapkali menjadi kalimat yang terlontar dari mulut kita manakala sesuatu yang kita kerjakan telah menyita begitu banyak waktu. Dari jam ke jam, hari ke hari, bulan bahkan tahun menjalani rutinitas yang sama. Statis dan monoton. Kata novie salah seorang muridku ; “tak ada yang menarik lagi.” Jika hidup ini terus berlanjut tentu rutinitas monoton itupun akan terus ada. Lantas apa indahnya hidup?

 

Dibesarkan dalam lingkungan budaya Jawa, aku diajari untuk tidak mengeluh, tetapi apa ya lantas kemudian aku mesti berbohong apabila realitas pikiranku memang merasa demikian. Refresing dan suasana baru menurut psikolog dapat menolong, tetapi untuk hal tersebut terkadang kita harus mengeluarkan biaya yang tidak sedikit dan atau waktu yang cukup. Sementara aktivitas keseharian atau budget kita tidak memungkinkan. Haruskah kita tinggal diam, atau kemudian justru menjadi pintar karena situasi demikian? Dalam buku Born to win penulis mengungkapkan apabila kesulitan sering menjadikan manusia kreatif untuk tetap mampu survive, saya mengandaikan kejenuhan adalah sebuah kesulitan. Pilihan ada pada diri kita sendiri, tetapi tak ada salahnya jika kita belajar memaknai apa yang sedang terjadi di dalam diri (pikiran) kita itu. Paling tidak kita semakin mengenal siapa sesungguhnya diri kita, termasuk kebutuhan-kebutuhan dasar di dalamnya.

 

Kejenuhan, aku mencoba memahaminya sebagai sebuah pemberontakan, pemberontakan dari akal budi kita yang dinamis. Tidak puas, atau cukup dengan realitas yang ada, ia butuh sesuatu yang berbeda dari apa yang selama ini dijalani. Artinya akal budi kita terus bekerja, ia membutuhkan ‘ruang-ruang baru’ dalam kehidupan kita, dan yang pasti ia masih ‘hidup’ tidak berhenti pada satu titik. Sisi kemanusiaan kita benar-benar masih berfungsi. Aktifitas yang menekan, tak membuat kita menjadi ‘robot’ tetapi mahluk spiritual yang sisi batinnya selalu aktif mencari sesuatu yang indah untuk dirasakan. Jika demikian, haruskah kita tak mensyukuri kejenuhan?

Iklan

Maret 26, 2008 - Posted by | Pencerahan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: