Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

SUPER HERO : bentuk ketidakberdayaan ?

Sebelum tidur pikiranku menerawang jauh, mencoba menggali sesuatu yang barangkali selama ini terpendam. Bagi manusia hidup tidak ada pilihan kecuali menjalaninya. Bahkan terlalu sering seseorang tak mampu mengendalikan arahnya. Terseok, dan pada gilirannya ia terkapar tanpa mampu bangkit dari kubangan besar yang telah memerangkapnya, atau tempat ia sengaja memerangkapkan diri.

 

Dalam situasi demikian, manusia setidaknya beruntung sebab ia memiliki daya imajinasi. Fantasi hidup yang jauh dari kenyataan setidaknya terbangun jauh di alam imajinasi. Meski sesungguhnya semuanya hanya merupakan sebuah gagasan utopis, tetapi toh hal tersebut mampu menggerakkan raga pada sebuah rasa, gairah. Fantasi tersebut menjadi sangat berarti, paling tidak segala hal yang menghimput kehidupan kita menjadi selesai di taraf itu. Tidak nyata memang tetapi kehadirannya sangat dibutuhkan dalam kehidupan manusia yang serba terbatas.

Dalam keadaan terhimpit manusia sering kali mendamba pada sebuah keadilan, walaupun sesungguhnya keadilan itu sendiri tak nyata. Pengalaman ini aku peroleh manakala aku mengajarkan tentang HAM pada anak-anak dan mereka mempertanyakan tentang keadilan :

Aku membuat sebuah perumpamaan, ada seorang ibu yang memiliki tiga anak yang berbeda karakter, sebagai seorang ibu dia sangat menyeyangi mereka. Satu dari tiga anaknya masih bayi, satunya remaja yang doyan makan dan satunya lagi sama sekali tidak begitu suka makan. Pada saat bepergian sang ibu membawakan oleh-oleh buat anaknya, karena uang yang terbatas ia hanya membeli satu kue, dan karena ia mencoba bersikap adil maka begitu sampai di rumah, kue itupun ia bagi tiga yang masing-masing mendapatkan bagian yang sama. Pertanyaannya kemudian adilkah ibu itu? Kelas menjadi gaduh, dan ada sebagian mengatakan bahwa ibu itu mungkin saja adil, tetapi ada juga yang mengatakan bahwa ibu itu tidak adil. Lalu aku melanjutkannya lagi, bagi si bayi makanan tersebut tidak tersentuh, bagi yang doyan makan dia masih kurang, dan bagi yang tidak begitu doyan, ia menyisakan makanan tersebut dan akhirnya dibuang. Kuulangi pertanyaan yang sama, adilkah ibu itu? Kali ini hampir seisi kelas menjawab; tidak adil! Lalu apakah adil menurut mereka, adil itu jika masing-masing menerima sesuai porsinya, nah justru itulah yang kemudian menjadi masalah dalam keadilan. Jika demikian lalu apa sesungguhnya ukuran dalam keadilan, diri sendiri dan kebutuhan dari setiap orang, lalu kalau begitu jelas tak ada ukurannya. Pertanyaannya kemudian, kalau begitu adakah keadilan itu? Artinya adil juga kalau ada yang menderita dan ada yang bahagia, adil juga dong kalau ada yang miskin dan ada yang kaya dan masih banyak lagi realitas keadilan yang membingungkan itu. Tetapi itulah manusia yang mencoba menuntut keadilan walaupun keadilan itu sendiri tak nyata.

Dunia yang semakin tua dan rapuh, membuat manusia terlahir lengkap dengan segala kebingungan. Agama yang diharapkan mampu menyelesaikan masalah terkadang atau justru sering membawa masalah. Lihat saja sejarah dari setiap agama, pembantaian dan darah tak pernah tidak mewarnai perjalannnya. Salahkan agama? Entahlah ! Tetapi yang jelas agama juga terlahir dari situasi-situasi tersebut, artinya agama sering kali diimani sebagai bentuk keprihatinan Tuhan melihat kehidupan mamnusia yang semakin amburadul, sehingga Ia pun perlu mengutus seorang rasul atau nabi untuk memperingatkan. Artinya agama merupakan kebijaksaan di tengah huru-hara yang pada gilirannya juga melahirkan huru-hara yang baru lagi. Wah..!

 

Tetapi inspirasi agama yang agung adalah adanya pengharapan (solusi) dari semua kenyataan yang berat itu. Sosok penyelesaian masalah dalam kehidupan manusia barangkali juga akan terus menjadi kebutuhan yang abadi, sebab tampaknya dunia tak akan pernah mengenal damai. Ancaman dan teror terus saja lahir, manusia terus di dera ketakutan. Perang, kemiskinan, kultural, perubahan dan masih banyak lagi yang diangggap oleh manusia sebagai ancaman. Sehingga wajar apabila sang mesias diharapkan hadir dan menolong mereka. Zaman terus berubah, sosok mesias pun hadir melalui perkembangan imajinasi mereka, tuhan-tuhan itu mereka hadirkan untuk memenuhi kebutuhan. Sehingga sang mesias pun hadir dengan sangat beragam.

Apa artinya semua ini?

Bagiku realitas ini sangat jelas menggambarkan, kenapa manusia butuh Tuhan, dan Superhero. Pertama ini bentuk keegoisan manusia, pusat dari pengharapan adalah dirinya sendiri dan pangkal penyelesaian persoalannya ia serahkan pada orang lain. Atau pengharapannya adalah gambaran ketidakmampuannya menyelesaikan masalahnya. Tuhan diperalat dalam konteks ini, untuk memuaskan keinginannya walaupun sesungguhnya itu hanya ada dalam dunia imajinasi. Kedua, manusia terlalu malas untuk bertanya pada dirinya sendiri, apakah yang bisa saya lakukan dengan masalah yang ada ini sesuai dengan apa yang sudah saya miliki. Artinya Tuhan ditempatkan sesuai dengan keberadaannya yang sesungguhnya, pemberi anugerah akal budi dan pemberi keleluasaan pada manusia untuk memilih dengan menggunakan kecerdasan tersebut. Nah, kita termasuk ke dalam golongan yang mana?

Iklan

Februari 15, 2008 - Posted by | Renungan

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: