Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Bermula dari Jam

            Semuanya belum berubah, ia masih menantiku seperti hari-hari biasa. Cuma siang ini aku merasakan ia begitu cantik, ah, atau mungkin aku saja yang ngawur, abis dimata banyak orang ia cantik, artinya bukan hanya hari ini. Kemanjaannya dapat kulihat dari caranya memandang, kalau bukan bidadari ia adalah seorang dewi. Tapi kalau hari ini ia mau menantiku, ia adalah bidadari atau dewi bodoh! Dasar!

            “Sampai jam tiga,” seperti biasa ia memberitahuku.

            “Kita mulai darimana?”

            “Terserah,” lalu kulihat ia hanya tersenyum dan menatapku lekat. Alamak!!

            Jam tiga sepertinya hanya sekejap, kulihat ia mulai gelisah. Segelisah hatiku mungkin. Meski barangkali letak kegelisahannya berbeda. Tak lama ia kembali menatap, tersenyum, dan yang pasti ia segera berlalu. Ups, ada sesuatu miliknya yang tertinggal, namun tak mungkin aku berteriak agar ia kembali. Toh yang tertinggal adalah pesonanya, yang membuat aku semakin gila.

 

            Bersamanya aku seperti mengarungi dunia maya, berjuta ilusi terbangun saat aku sedang merindukan kehadirannya. Walau aku tak pernah mencoba untuk sekedar bercerita realitas batin yang kini sedang kusandang. Ada keangkuhan untuk mengakui, ada kejantanan yang tak pernah kupahami, tetapi jauh dari kesombonganku berpikir, ada kekhawatiran dan ketakutan luar biasa. Entahlah!

 

            Jujur pada suara hati, berarti aku kalah. Karena itu berarti aku harus menjalani angan masa depan yang bagai lautan tanpa sebuah tepi. Mengingkari, itu juga berarti aku kalah, karena berarti aku lebih senang bermimpi meski kenyataan ada di depan mata. Lalu, kalau kini aku menjalani, itu berarti aku juga bodoh. Mengenalnya adalah kesialan meski itu adalah sebuah anugerah. Paradoks.

 

            Aku mengenalnya karena ia datang padaku, bertanya tentang beragam fenomena sosial; mulai dari persoalan diferensiasi sampai pada persoalan stratifikasi sebagai akar dari carut marutnya negeri ini. Ia bukan sosok istimewa, awalnya!  Tapi kehadirannya mampu mengundang tanya dalam benakku, kenekatannya menjadikan ia hadir dalam jurnal hidupku. Meski aku lupa kapan hal tersebut terjadi.

 

             Imelda, dari namanya saja pasti terbayang seperti apa orangnya. Ah, lha kok jadi hiperbola begini. Kalau menimbang bobot, bibit lan bebet, di kalangan orang Jawa, jelas dia tidak termasuk orang yang bermasalah. Apalagi kalau hitung-hitungannya pakai standarisasi ‘modern’: cantik dan kaya, waduh! Dia tambah ada di dalamnya, tidak usah pakai dihitung lagi. Tapi kalau dia hari ini berada bersamaku, nah ini baru keajaiban.

 

            Belajar dari fenomena yang selama ini terbangun, atau barangkali lebih tepat kalau dibilang memang dikonstruksikan demikian oleh para penghuni negeri ini. Sepertinya aku sedang bermain-main dengan kesia-siaan. Walau sesungguhnya Tuhan tidak pernah bilang kalau struktur tubuh ini menentukan cara seseorang berpikir, cara kelompok manusia membentuk kebiasaan, tetapi entah kenapa kita lebih senang berpikir keliru seperti itu. Sehingga senang atau tidak, pasti apa yang kurasakan saat ini akan dibenturkan pada konstruksi orang-orang yang lebih pintar dari Tuhan itu. Ya, rasku dengan  bidadariku itu, berbeda, meski hati kami saat ini sedang mengalami hal yang sama. Karenanya kami tak pernah bicara masa depan!

 

            Kajian yang selama ini kupelajari tentang manusia, sepertinya tak berlaku lagi dalam dunia nyata. Itu hanya ilmu, nyatanya bahwa ketika kau terlahir dengan warna kulit kuning, merah atau jingga, demikian pula warna kebiasaanmu. Karena kau tercipta berbeda maka berbeda pula keberadaanmu di tengah pergaulan ini, meski kepalamu mampu menciptakan bintang-bintang baru.

            “Masih belum berani memulai ?”

            Aku hanya bisa terdiam, tak bereaksi, meski nalar ini yakin sudah saatnya aku memberanikan diri.    

            Toh, bukan kamu yang memulai ! Tunggu apa lagi!”

            Keyakinanku pada masa lalu, lagi-lagi tak membuatku menyambut pernyataan sahabatku. Hanya saja kini keningku berkerut, mencari kebenaran dari ungkapan barusan. Mungkin, mungkin saja Imelda berbeda. Ia bukan dari golongan konservatif yang selalu bicara tentang keunggulan-keunggulan egoistis itu. Atau aku mesti berkaca pada situasiku sendiri, apakah aku juga berada di lingkungan yang cukup moderat sehingga mereka bisa menerima keberadaan Imelda ? Lagi-lagi, keningku hanya bisa berkerut.

            “Cinta ini tanpa masa depan,…” seraya menghembuskan nafas, aku sempat bergumam. Gumaman penuh beban.

            “Ha..ha….! Kau belum memulai, tapi seolah-olah kamu sudah mengetahui akhirnya. Belajar menjadi tuhan buat diri sendiri ?! Atau kamu adalah tipe orang yang menikmati kondisi ini.”

 

            Tak begitu dekat memang aku mengenal Glen, tetapi seakan dia memahami persoalan bathin yang kini menderaku. Tampak dari ungkapannya barusan. Pasti bukan sebuah kebetulan ia mengungkapkannya. Mungkin ia mengenalku, jauh dari bagaimana aku mengenalnya. Dalam hidup banyak hal yang tak kupahami dan kusadari, dan kalaupun pada akhirnya kusadari, semuanya telah terlambat. Ya, terlambat ! Kata itu tiba-tiba mengiang di kepalaku. Haruskah aku terlambat menyadari?

 

            Aku tak ingin terlambat, lalu menyesalinya disepanjang sisa hidup. Kukumpulkan keberanian, aku yakin masih ada sisa. Kucoba bangun harapan, harapan yang barangkali jauh dari anganku selama ini. Keyakinan untuk menemukan jawaban; aku tak peduli walau kau Jawa dan aku Cina tetapi aku tetap mencintaimu, dari mulut Imelda. Ah…!!!!

 

 

           

Iklan

Februari 13, 2008 - Posted by | Fiksi

Belum ada komentar.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: