Aeknaetek

Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan

Sulitnya Menulis di Kala Senggang

menulis dengan binder saat di kuliahAku ini blogger angot-angotan, ada saat dimana produktif menghasilkan tulisan, tetapi ada masa jeda panjang tanpa sebuah tulisan pun dalam beberapa bulan. Bukannya dikepala tidak ada yang ingin dituliskan, ada banyak bahkan. Tetapi semua itu kalah dengan keengganan untuk memulai membuka kalimat dari satu kata. Ide, atau sesuatu yang ingin kutulis, akhirnya hanya jadi out line di kertas yang semakin hari semakin usang, karena terlalu lama ada di tas ransel kerjaku. Walhasil, semuanya hanya akan bersarang di tempat sampah. Kalaupun ingin kutuliskan, aku tidak lagi ingat apa yang ada dalam pikiranku saat out line itu kutulis.

Penyebab kenapa jeda itu selalu ada, belum kutemukan. Mungkin karena ketrampilanku menulis hingga hari ini belum beranjak. Dari amatiran, Cuma nulis di blog pribadi, dan belum beranjak menjadi penulis freelance professional seperti angan-anganku sejak lama. Tepatnya sejak ketika aku masih duduk di bangku SMA. Jika kini aku sudah menjelang kepala empat, berarti angan itu hanya berputar di kepala selama dua puluhan tahun lebih. Apa yang kukerjakan ya hingga selama itu? Wajar jika kemudian aku kehilangan motivasi untuk kembali memulai.

Baca lebih lanjut

Januari 8, 2016 Posted by | Uncategorized | Tinggalkan komentar

Tahun Baru Tanpa Resolusi

tanpa resolusi2016 sudah kujalani beberapa hari, aku belum juga menuliskan sesuatu sebagai harapan atau fokusku tahun ini. Beberapa bacaan motivasi dan clip atau acara televise telah kubaca dan tonton, tapi itu belum cukup ‘mendongkrak’ tubuhku untuk duduk di depan lap top untuk menulis. Menulis apa saja yang terkait dengan mimpi-mimpiku di tahun ini.

Barangkali aku akan menjalani tahun ini tanpa resolusi, meski tahun-tahun sebelumnya yang dipenuhi oleh banyak mimpi, tidak lagi kukutehui sejauh mana pencapaianku. Aku hanya tahu, aku masih guru, berangkat pagi-pulang petang, penghasilan kurang. Masih jauh dari apa yang kuimpikan; bebas secara financial. Guru masih pekerjaan utamaku, bukan panggilan hidupku, bukan pilihan. Padahal aku menginginkan menjadi guru adalah pilihan, karena kebebasan financial yang sudah kualami. Hidup dari royalty menulis. Tampaknya itu masih jauh.

Baca lebih lanjut

Januari 4, 2016 Posted by | Pencerahan, Renungan | Tinggalkan komentar

Berani Mengambil Resiko

bisnis-pasti-ada-resikoApakah aku sudah berada di zona nyaman, sehingga enggan untuk beranjak? Atau aku adalah pribadi yang memang tidak berani mengambil resiko? Ini sebagian dari banyak pertanyaan yang mulai menggelayuti pikiranku beberapa hari ini, setelah membaca tulisan Dio Martin di majalah Inspirasi. Padahal berani mengambil resiko, adalah syarat bagi seseorang untuk berhasil.

Semasa di Sonomartani, aku ini seorang pemimpi. Mimpiku barangkali tidak realistis, karena aku membayangkan diriku menjadi seseorang yang jauh dari apa yang bisa digapai oleh diriku secara realistis. Sekolah di SPMA dan menjadi seorang Insinyur pertanian. Untuk menjadi insinyur, aku tidak memiliki akses apapun, kecuali tahu bahwa itu bisa ditempuh dengan cara kuliah di perguruan tinggi, sebatas itu. Sekolah di SPMA yang setingkat dengan SMA pun, tidak banyak informasi untuk itu apalagi PT. Tak habis jari dari satu tangan untuk menghitung orang-orang di sekelilingku yang kukenal melanjutkan ke jenjang SMA. Itu pun mereka harus menempuh jarak 40 KM lebih, yang sulit dijangkau untuk sebuah perjalanan pulang pergi. Tetapi dalam setiap anganku, tak kulihat bayangan kesulitan itu, aku hanya melihat diriku sebagai seorang Insinyur Pertanian.

Baca lebih lanjut

Desember 22, 2015 Posted by | Renungan | | Tinggalkan komentar

Untuk Ibuku

ibuKala mendengar, ia sakit, aku hanya bisa termangu. Menundukkan kepala, memohon belas kasihNya, memberi ibuku kesehatan.   Aku tidak dapat berbuat lebih. Padahal barangkali, dalam sakitnya ada rindunya yang tertahan untukku. Tetapi kini aku adalah bagian dari keluarga yang berbeda, ada tanggungjawab yang kuemban, seperti apa yang telah ia ajarkan padaku. Membahagiakannya dengan memberikan yang terbaik untuk cucu-cucunya. Sehingga aku tidak dapat setiap waktu menemaninya. Bahkan di saat-saat ia membutuhkan aku sekalipun.

Ibu pernah mengajarkan bahwa prioritas tannggungjawab hidup itu bergulir. Kakek membesarkan ibu, ibu membesarkan aku, dan aku membesarkan anak-anakku. Karena apa yang ia yakini itulah, ibu selalu menyembunyikan sakit dan kegelisahannya. Ia tidak ingin sama sekali membebani anak-anaknya. Selain itu ibu juga tahu bagaimana kehidupanku sehari-hari. Jalanku belum sepenuhnya tegak. Sedikit saja beban itu bertambah, bukan tidak mungkin aku ambruk. Meski kelihatannya kokoh.

Ibu, kau sangat mengerti aku anakmu. Karena pengertianmu itu, dalam sakitmu kinipun engkau masih membisu. Seolah tak terjadi sesuatu padamu. Padahal aku juga tahu, ada begitu banyak hal yang engkau tahan. Tetapi engkau tetap melebarkan senyumanmu, untukku dan keluargaku, cucu-cucumu.

Butiran obat itu sebenarnya bukan penyembuh sakitmu, tapi tawa kami, anak dan cucumu. Masih mampukah engkau dengar tawa cucumu? Putri-putriku, kini mereka belajar menyebut namamu dalam doa mereka. Ucapannya memang tidak terlalu benar, tetapi aku yakin Tuhan tahu maksud meraka. Aku juga yakin ibu merasakan getarannya. Hanya itu yang mampu kami kirim dari kejauhan. Samar, namun kami berusaha membungkusnya dalam ketulusan. Itulah kekayaan yang kami punya, semoga dapat membuatmu kembali tegar seperti sedia kala. Agar engkau masih dapat membuat bapakku tersenyum. Cepat sembuh ibu !

November 22, 2014 Posted by | Renungan | Tinggalkan komentar

Mengenal diri Solusi menghadapi Fluktuasi Mood Menulis

mood nulisDokter dapat mengobati penyakit pasien, jika ia tahu akar dari penyakit pasien. Tukang tambal ban juga demikian, ia menembel tepat pada sasaran. Artinya, dengan mengetahui akar masalah, seseorang akan dengan mudah mencari cara untuk menyelesaikan masalah. Namun ini bukan berarti saya focus pada masalah. Ini dilakukan agar kekuatan dan kelebihan dapat teroptimasi untuk mengeliminir kelemahan dan kekuarangan.

Berdasar pemahaman seperti itulah, saya belajar mengurai persoalan-persoalan yang selama ini saya anggap membuat diri saya ‘berjalan ditempat’, terutama terkait dengan mimpi-mimpi saya. Saya bermimpi dapat menerbitkan buku, menjadi trainer di bidang pendidikan, leadership, character atau segala yang ber’bau’ pengembangan sumber daya manusia, dan natinya mengajar adalah sebuah pilihan yang membuat saya tidak terbebani dengan urusan financial. Prinsipnya, menulis dan mengajar menghantarkan saya pada kebebasan financial yang nantinya akan saya gunakan untuk menulis dan mengajar kembali.

Baca lebih lanjut

November 22, 2014 Posted by | Pencerahan | , | Tinggalkan komentar

Refleksi Iman ; Resolusi 2014

doaUsaha sudah dilakukan, hasil  terserah Tuhan. Tugasku, hanya melakukan yang terbaik. Hanya itu. Sederhana dan simple. 2014, adalah tahun yang akan kugunakan segenap energy untuk menulis. Menghasilkan karya, berorientasi pada apa yang masyarakat butuhkan. Atau mengedukasi, hal-hal apa yang sebenarnya mereka butuh, tapi mereka tak menyadarinya. Namun agar empiris, semua harus berdasar pada’ apa yang ada’ padaku.

Mimpiku jelas, merdeka secara financial. Bukan untukku semata, tetapi bagi anakku, istriku, keluargaku, dan orang-orang yang barangkali membutuhkan aku. Aku punya waktu, saat anak dan istriku memerlukan. Punya sedikit rejeki untuk menyenangkan keluarga besarku, meski hanya makan di mall. Atau membangun kebersamaan. Atau mungkin aku bisa membelikan obat, saat orang tuaku sakit. Aku tak perlu mengernyitkan dahi untuk perkara-perkara itu. Bagi orang-orang disekelilingku, aku bisa berbagi kasih. Apa saja yang aku bisa, karena aku punya kesempatan dan waktunya. Itu mimpiku.

Baca lebih lanjut

Desember 27, 2013 Posted by | Renungan | , | Tinggalkan komentar

W a r n a G e n d e r

warnaPulang kerja, untuk menghilangkan rasa lelah, kurebahkan tubuhku di kamar. Kutemukan gelang warna pink milik anakku tergeletak. Tak berpikir apa-apa, kukenakan gelang itu. Tak berapa lama, anak-anakku menyusul. Seperti hari-hari sebelumnya, mengusik ketenanganku. Tak peduli dengan keinginanku menghilangkan penat. Percuma menghardik mereka. Boros energy.

Kembar memperhatikanku serius, tak berapa lama mereka berkomentar. Seperti kaget, juga heran; “papa pakai gelang! Emang papa perempuan?” Aku tersemyum. Kucoba mengerti maksudnya. “Emang kenapa?” tanyaku. “Ini kan gelang warna pink!” tegas putri kembarku yang sebentar lagi berulang tahun kelima. “Emang papa gak boleh pakai warna pink” selidikku. “Gak boleh!” Jawab mereka serentak dan tegas. Mendengar percakapan kami, putri sulungku menghampiri. “Kakak lihat di tempat beli baju; ada warna kuning, purple, biru, tapi untuk cowok gak ada warna pink.” Ia menegaskan pernyataan adik-adikknya sebelumnya.

Baca lebih lanjut

Desember 12, 2013 Posted by | Putriku | , , | Tinggalkan komentar

D r a m a

DramaSkills650Tiap hari aku mendengar dan menyaksikan pertunjukan drama, hanya dalam satu jam ada banyak judul yang dimainkan. Tema-tema tentang keluarga dan sekolah menjadi hal yang banyak dilakonkan. Pemerannya hampir semuanya memeliki watak yang natural, tak dibuat-buat. Atribut dan propertinya tak ribet, karena hampir semua yang ada bisa disulap para pemerannya menjadi property dan atribut yang sesuai dengan jalan cerita.  Suasana pertunjukan sangat atraktif dan interaktif, ada banyak ruang yang dapat mereka jadikan panggung. Semuanya akan terhenti, saat terdengar suara,..berantakan lagi kan, beresin cepat !!!  Istriku.

Dalam berperan anak-anakku dipandu oleh imajinasi, itulah scenario yang membuat jalan cerita mengalir. Ada guru, siswa dan juga mbak-mbak yang mengantar ke sekolah. Dialog, tak terputus meski tanpa naskah baku. Tak ada kekeliruan dalam menuturkan kalimat, karena tak ada yang mendikte. Lakon-lakon itu, membuat anak-anakku menikmati setiap detik melajunya sang waktu. Alam berpikir mereka tak terbelenggu, kecuali oleh hardikan orang-orang tua sepertiku yang kadang-kadang sok tahu.

Baca lebih lanjut

November 25, 2013 Posted by | Kekasihku, Pencerahan, Putriku | | Tinggalkan komentar

Saat Anakku Harus Menunggu

DeynaKamis yang lalu, hari kedua anakku, Deyna masuk sekolah, seminggu libur lebaran. Tidak ada pelajaran, waktu yang ada dipakai untuk acara perlombaan, memperingati Agustusan. Setelah mengantar, aku bertanya pada salah seorang guru, pulangnya nanti sekitar jam berapa? “Jam 11-an, berlaku untuk semua kelas, termasuk untuk kelas 1 dan 2”, beliau menegaskan.  Aku pun mantap meninggalkan Deyna di sekolah, dan berjanji menjemputnya sebelum jam pulang.

Rencananya aku akan ke Toko Material, karena agendaku hari ini rapiin keramik yang pecah-pecah. Sayang tak ada satupun toko material buka, mungkin masih pada di kampong pegawainya. Karena masih punya cukup waktu, sesampainya dirumah kugunakan untuk kemballi menulis. Apalagi istriku menyarankan untuk menjemputnya jam 10-an lewat saja. Sekalian sama-sama, karena ia berniat membawa putri kembarku ke salon, merapikan rambutnya. Akupun setuju.

Baca lebih lanjut

November 1, 2013 Posted by | Kekasihku | | Tinggalkan komentar

Belajar dari Ikan Mas

teknik-memancing-ikan-masGagal dengan budidaya lobster, yang tersisa hanya puluhan ikan mas. Semula ikan-ikan itu hanya kumanfaatkan sebagai pemakan jentik nyamuk di bak pembesaran lobster. Tak mungkin kubuang, apalagi ikan-ikan itu ternyata tumbuh, menyenangkan untuk dilihat. Kuputuskan untuk kupindah ke bak yang lebih besar, bak semen bersama beberapa lobster yang masih hidup. Agar gampang merawatnya, karena semua sudah jadi satu. Tak ada lagi bak-bak plastic yang berjajar dengan ukuran lobter yang berbeda-beda. Gemericik aliran air tak lagi terdengar di masing-masing bak tersebut. Aku telah bangkrut, namun ikan-ikan mas yang ada, menghibur juga untuk terus kupelihara.

 

Baca lebih lanjut

Agustus 22, 2013 Posted by | Renungan | 2 Komentar

Ikuti

Kirimkan setiap pos baru ke Kotak Masuk Anda.