<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	xmlns:georss="http://www.georss.org/georss" xmlns:geo="http://www.w3.org/2003/01/geo/wgs84_pos#" xmlns:media="http://search.yahoo.com/mrss/"
	>

<channel>
	<title>Aeknaetek</title>
	<atom:link href="http://aeknaetek.wordpress.com/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://aeknaetek.wordpress.com</link>
	<description>Selalu Ada Keindahan di Setiap Lorong Kehidupan</description>
	<lastBuildDate>Fri, 13 Jan 2012 06:28:15 +0000</lastBuildDate>
	<language>id</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.com/</generator>
<cloud domain='aeknaetek.wordpress.com' port='80' path='/?rsscloud=notify' registerProcedure='' protocol='http-post' />
<image>
		<url>http://s2.wp.com/i/buttonw-com.png</url>
		<title>Aeknaetek</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com</link>
	</image>
	<atom:link rel="search" type="application/opensearchdescription+xml" href="http://aeknaetek.wordpress.com/osd.xml" title="Aeknaetek" />
	<atom:link rel='hub' href='http://aeknaetek.wordpress.com/?pushpress=hub'/>
		<item>
		<title>Pesona Cinta</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/21/224/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/21/224/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 21 Oct 2011 01:43:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Kekasihku]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[cinta]]></category>
		<category><![CDATA[misteri kehidupan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=224</guid>
		<description><![CDATA[Cinta itu tentang perasaan, bukan logika, ekonomi ataupun matematika. Sebab keberadaannya sulit diterima akal, dihitung untung rugi atau menggambarkan keadaan yang serba pasti, meski hitung-hitunggannya harusnya pasti. Namun yang pasti, memiliki perasaan cinta kita tak akan pernah rugi, walau jadi patah hati dan rasanya mau mati. Pesona Cinta mampu melambungkan kita pada banyak mimpi, namun [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=224&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/love1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-225" title="love1" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/love1.jpg?w=300&#038;h=206" alt="" width="300" height="206" /></a>Cinta itu tentang perasaan, bukan logika, ekonomi ataupun matematika. Sebab keberadaannya sulit diterima akal, dihitung untung rugi atau menggambarkan keadaan yang serba pasti, meski hitung-hitunggannya harusnya pasti. Namun yang pasti, memiliki perasaan cinta kita tak akan pernah rugi, walau jadi patah hati dan rasanya mau mati.</p>
<p>Pesona Cinta mampu melambungkan kita pada banyak mimpi, namun paradoknya membuat kita juga dalam waktu yang bersamaan menjadi memiliki banyak kekuatiran. Serba tidak pasti, sehingga membuat kita berada pada motivasi tertinggi. Pekerjaan berat menjadi ringan, karena factor X yang sangat sulit dimengerti. Jantung berdebar lebih cepat dari biasanya hanya kala mendengar nama seseorang disebutkan, jika dideteksi jelas ini bukan karena darah tinggi. Ada pesona yang tidak biasa, saat tanpa sengaja kita menatapnya. Larut dan ingin terus berlama-lama dalam kubangan rasa yang tak biasa itu.</p>
<p><span id="more-224"></span></p>
<p>Ini misteri, jadi keberadaannya tak akan pernah kehilangan pesona. Tak akan pernah menjadi membosankan, walau jutaan kali dibicarakan. Keberadaannya mendukung bagaimana manusia menciptakan generasi. Siklusnya terus berputar, tiap periode memiliki keindahannya sendiri, dan tak ada yang bisa mengklaim sebagai manusia yang paling berpengalaman.</p>
<p>Cinta menyerang siapa saja, tak kenal waktu, tempat, usia ataupun derajat. Bagai virus yang bisa membangkitkan rasa kehidupan dan sekaligus mematikan. Tak ada tempat untuk berlari dari kejarannya walau sembunyi. Kita hanya mampu menutupi keberadaannya, menekan sekuat mungkin walau tak dapat berbohong pada keberadaannya. Ada ruang dalam diri kita yang tak mungkin diisi oleh apapun, karena ruang itu adalah milik cinta. Ia di puja, walau sering juga dimaki. Diletakkan pada aras yang paling tinggi, namun tak jarang juga diinjak-injak.</p>
<p>Tak mampu menghindar, jalan terbaik adalah menikmatinya. Membiarkan keberadaannya melambungkan kita, dan menukikkan kembali pada lubang terdalam, namun disitulah bermaknanya kehidupan. Jika jet coaster mampu memberikan kita rasa petualangan, demikian dengan cinta. Ia ada untuk memperlengkapi kesempurnaan kita sebagai manusia. Dan keberadaannya menunjukkan bahwa betapa Tuhan mencintai kita.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/224/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/224/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=224&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/21/224/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>1</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/love1.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">love1</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Belajar Menjadi Ayah</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/10/belajar-menjadi-ayah/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/10/belajar-menjadi-ayah/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 10 Oct 2011 08:53:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=218</guid>
		<description><![CDATA[Saat istriku melahirkan, secara legal formal, sosiologis bahkan biologis sekalipun aku resmi menjadi seorang ayah. Babakan baru dalam hidupku. Status  itu melekat, walaupun sesungguhnya aku belum mencapai  standar professional seperti apa yang diidealkan. Itu yang terjadi dalam hidupku. Legalitas tak selalu berbanding lurus dengan profesionalisme, karena ternyata profesionalisme sebagai seorang ayah tak berlaku otomatis. Ada [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=218&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/ayah_anak.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-219" title="ayah_anak" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/ayah_anak.jpg" alt="" width="275" height="220" /></a>Saat istriku melahirkan, secara legal formal, sosiologis bahkan biologis sekalipun aku resmi menjadi seorang ayah. Babakan baru dalam hidupku. Status  itu melekat, walaupun sesungguhnya aku belum mencapai  standar professional seperti apa yang diidealkan. Itu yang terjadi dalam hidupku. Legalitas tak selalu berbanding lurus dengan profesionalisme, karena ternyata profesionalisme sebagai seorang ayah tak berlaku otomatis. Ada proses yang mendahuluinya, tetapi sayangnya proses itu tak mencantumkan masa, kapan lulusnya nya.</p>
<p><span id="more-218"></span></p>
<p>Belum menjadi ayah yang professional dari satu putri, Tuhan sudah mempercayakan padaku dua putri yang lain. Mungkin Dia menghendaki agar kelak ketika menjadi professional tidak tanggung, mengingat investasi yang dikeluarkan cukup besar. Proses pendidikan yang kuikuti tak selalu menyenangkan, bahkan apa yang terlihat semestinya menyenangkan belum tentu demikian kurasakan. Beberapa hal berat   adakalanya menjadi ganjalan bagiku untuk naik kelas, aku mengulang dan terus mengulang, sebab hingga hari ini pun belum ada tanda-tanda jika aku mulai pintar.</p>
<p>Bagaimana bersikap adil bagi anak-anakku, ini kesulitan pertama yang membuatku harus berulang kali remedial, meski bukan urutan pertama yang paling sulit. Sebagai ayah, secara teoritis aku harus bersikap sama pada anak-anakku, tidak membela yang satu dan membanding-bandingkannya dengan yang lainnya. Aku paham benar, dan dialog dengan mereka adalah cara yang tepat. Tetapi anak-anakku ini masih balita, dan batita, bagaimana aku harus berdialog, agar mereka mengerti dengan apa yang kulakukan ? Sebab ada banyak kebijakan yang kuambil, dasar pertimbangannya adalah keadilan dalam ukuran orang-orang dewasa. Kakak tidak boleh menyakiti adik, karena dalam banyak praktik keseharian kakak selalu membuat adik menangis. Bagaimana dengan adik yang juga bisa membuat kakak menangis? Ini satu kasus, masih banyak kasus yang lain, tetapi aku kesulitan bagaimana mendeskripsikannya dalam tulisan ini, intinya bagi anakku sepertinya itu melanggar prinsip-prinsip keadilan.</p>
<p>Menahan amarah pada setiap kesalahan, dan memberi anak-anakku pengertian, ini factor lain dari kesulitanku jadi ayah professional. Sebelum menjadi seorang ayah dan kemudian berproses menjadi professional, aku adalah seorang professional dalam dunia kerja, buruh. Setiap hari aku bangun awal, bahkan berangkat sangat awal, tetapi pulang sedikit agak malam. Gajiku tak terlalu cukup untuk memanjakan diri, apalagi buat beli vitamin anti lelah yang tak berlogo generic, jelas tak mungkin. Alhasil setiap berkumpul dengan anak-anakku, yang ada adalah tenaga sisa dari sekian kalori energy yang telah kulepaskan pada profesionalitas utamaku sebagai buruh. Ada banyak canda yang ingin mereka bagikan, ada banyak hal yang ingin mereka sampaikan dan ingin ayahnya dengarkan. Menanggapi mereka kadang aku hanya mampu mengangguk dan menanggapi simple. Tertawa dan tersenyum garing, padahal aku sedang tak mmenikmati tawa itu. Tetapi ini kebutuhan formalitas ayah agar perkembangan jiwa anak-anakku stabil. Di tengah situasi seperti itu, jangan harap mereka berbuat kesalahan, yang ada kemudian adalah hardikan. Padahal mereka adalah anak-anakku yang sedang belajar mengekspresikan dirinya sebagai anak-anak, salah adalah bagian dari tugasku untuk memberinya pengertian. Tetapi itu tidak kulakukan, marah, simple yang menyelesaikan. Ini membuat nilaiku kembali tak cukup untuk naik kelas. Entah sampai kapan?</p>
<p>Walau banyak hal membuatku terlambat menjadi ayah yang professional, tetapi aku yakin, aku bukan ayah yang gagal. Aku sedang belajar, walau hingga hari ini masih bodoh. Jika orang lain sudah melaju pada tingkat yang lebih tinggi, aku hanya yakin aku juga bisa mencapainya asal aku berani belajar lebih keras dan lebih tekun dari mereka. Anakku sebenarnya adalah guruku yang membuatku bisa menjadi ayah, ayah yang sesungguhnya, bukan sekedar ayah legalistic yang namanya terpampang pada akte kelahiran. Semoga.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/218/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/218/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=218&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/10/10/belajar-menjadi-ayah/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/10/ayah_anak.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">ayah_anak</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>ORASI KEMERDEKAAN</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/22/orasi-kemerdekaan/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/22/orasi-kemerdekaan/#comments</comments>
		<pubDate>Mon, 22 Aug 2011 04:12:53 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=212</guid>
		<description><![CDATA[Merdeka !! Hari ini tonggak sejarah berdirinya negeri ini, kembali kita peringati. Di sebagian dari kita barangkali ada yang merasakan gegap gempitanya, namun tak kalah juga banyaknya yang tak merasakan apa-apa. Peringatannya begitu biasa, rutinitas dan tak lagi menimbulkan makna. 66 tahun, bukanlah waktu yang panjang untuk ukuran Negara, namun tak ada salahnya jika hari [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=212&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Merdeka !!</p>
<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/merdeka.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-216" title="merdeka" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/merdeka.jpg?w=300&#038;h=185" alt="" width="300" height="185" /></a>Hari ini tonggak sejarah berdirinya negeri ini, kembali kita peringati. Di sebagian dari kita barangkali ada yang merasakan gegap gempitanya, namun tak kalah juga banyaknya yang tak merasakan apa-apa. Peringatannya begitu biasa, rutinitas dan tak lagi menimbulkan makna. 66 tahun, bukanlah waktu yang panjang untuk ukuran Negara, namun tak ada salahnya jika hari ini kita kembali merenungkan apa sesungguhnya arti kemerdekaan itu sebelum benar-benar menjadi dan terasa biasa saja bagi kita semua.</p>
<p><span id="more-212"></span></p>
<p>17 Agustus 1945, 66 tahun yang lalu para pendiri negeri ini berani mengambil sikap, memanfaatkan peluang dan momentum yang tepat, untuk menyatakan bahwa mereka adalah orang-orang merdeka di negeri yang bernama Indonesia. Merdeka bermakna menjadi diri sendiri, dengan identitas sendiri dan mengambil posisi sederajat dengan siapapun di muka bumi ini. Para pendiri negeri ini ingin bertanggungjawab pada pelaksanaan pemerintahan, menciptakan masyarakat yang sejahtera, keamanan dan hal-hal lainnya di negeri ini. Modal utama mereka pada saat itu adalah keberanian dan segala aspeknya.</p>
<p>Kemerdekaan bukanlah tujuan, keberadaannya adalah gerbang yang didalamnya banyak tanggungjawab yang harus dituntaskan. Indonesia telah mereka proklamirkan tetapi menjadi Indonesia yang mereka dan kita semua impikan adalah proses yang terus menerus harus dilakukan. Indonesia adalah Negara merdeka yang memiliki identitas khas, yang menunjukkan diri-nya berbeda, yang menjadi modal dalam percaturan dunia internasional. Dengan identitasnya para pendiri negeri ini berharap Indonesia bukanlah negeri pengekor, tetapi benar-benar menjadi dirinya sendiri.</p>
<p>Kekayaan negeri ini telah mengundang para penjajah datang, silih berganti dan tak segan-segan mereka berperang, untuk memperebutkan negeri ini. Belakangan ternyata tak cukup membuat warga Negara di negeri ini memiliki percaya diri. Inferioritas cultural membuat bangsa yang 66 tahun lalu diproklamirkan ini nyaris tak beranjak. Kekayaan budaya dan alam yang dimiliki tak membuat sebagian kita sadar bahwa kita kaya. Mentalitas inlander, membuat sebagian dari kita masih minder menjadi bagian dari negeri ini, dengan lebih suka memamerkan dan percaya bahwa apa yang di bawa orang asing pasti lebih baik. Ini menyedihkan, namun juga adalah peluang bagi kita semua yang ada di sini untuk kembali mengambil sikap berani dan kembali memproklamirkan diri sebagai Indonesia.</p>
<p>Indonesia masih memerlukan orang-orang berani untuk mengambil sikap. Berani berbeda dari apa yang kebanyakan orang pikirkan dan lakukan. Sejauh sikap itu menuju pada upaya menciptakan Indonesia yang kita cita-citakan.</p>
<p>Sebagai pelajar, apa yang bisa kalian lakukan untuk memberikan kontribusi positif bagi negeri ini. Kalian adalah putra-putra terdidik negeri ini, kalian memiliki kesempatan untuk mengembangkan diri secara optimal sesuai dengan talenta yang kalian miliki. Kenali diri kalian dengan benar, sehingga  apa pun  yang kalian kembangkan akan mencerminkan diri kalian seutuhnya. Berani bilang tidak untuk segala sesuatu yang tidak mencerminkan diri kalian. Karena pendiri negeri ini sudah memberikan banyak teladan keberanian bagaimana mengambil sikap untuk menjadi diri sendiri.  Merdeka!!!</p>
<p><em>Ilustrasi gambar diambil dari ; http://planet4ltair.wordpress.com/2010/08/18/65-tahun-indonesia-merdeka/</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/212/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/212/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=212&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/22/orasi-kemerdekaan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/merdeka.jpg?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">merdeka</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>MENJADI INDONESIA</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/09/menjadi-indonesia/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/09/menjadi-indonesia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Aug 2011 02:16:18 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=205</guid>
		<description><![CDATA[Membicarakan Indonesia di masa kini, tentu lebih gampang di bandingkan pada masa 1920-an. Pada masa itu, Indonesia adalah wacana, sebuah konsep yang baru ada di alam imajiner. Imajinasi dari para pemuda, yang sejujurnya masih teramat muda. Namun mereka berani bermimpi, keluar dari usia yang sesungguhnya, berpikir tentang masa depan. Bahkan barangkali jauh dari jangkauan cara [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=205&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/indoku.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-206" title="indoku" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/indoku.jpg" alt="" width="250" height="194" /></a>Membicarakan Indonesia di masa kini, tentu lebih gampang di bandingkan pada masa 1920-an. Pada masa itu, Indonesia adalah wacana, sebuah konsep yang baru ada di alam imajiner. Imajinasi dari para pemuda, yang sejujurnya masih teramat muda. Namun mereka berani bermimpi, keluar dari usia yang sesungguhnya, berpikir tentang masa depan. Bahkan barangkali jauh dari jangkauan cara kebanyakan orang berpikir di zamannya. Benar-benar sebuah langkah berpikir, yang hingga hari ini pun sulit bagi saya untuk memahaminya.</p>
<p><span id="more-205"></span></p>
<p>Tidak hanya bermimpi mereka juga mencoba merekonstruksi Indonesia dan berusaha keras untuk mewujudkannya. Meski mereka bukanlah orang-orang yang memiliki kuasa atas wilayah tertentu di negeri yang kelak mereka impikan jadi Indonesia itu. Secara de facto dan de jure Indonesia yang mereka impikan jadi sebuah negeri merdeka itu adalah negeri-negeri yang struktur kekuasaannya masih berlaku. Bukan negeri tanpa penguasa. Entahlah, ini sebuah keberanian bermimpi atau <em>kenekadan</em>?</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Keberanian mereka tidak terhenti, langkah berani mereka wujudkan dalam sumpah ‘mimpi’ yang menggerakkan mereka pada langkah-langkah strategis selanjutnya di tahun 1928. Tidak hanya itu, mereka pun berikrar untuk menciptakan satu identitas baru, yaitu bahasa Indonesia. Bahasa yang sebagian berakar pada tradisi Melayu, namun tidak serta merta mereka terima tanpa inovasi, mereka menginginkan sesuatu yang berbeda. Jadilah mereka kembali mencipta; bahasa. Tidak hanya kreatif, mereka juga inovatif yang komprehensif. Mencipta negeri, bangsa lengkap dengan identitas kebangsaannya.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Melihat gedung tempat mereka bersumpah, kembali pikiran saya bertanya; ada berapa banyak yang dulu berkumpul di sana? Melihat fisik gedungnya, saya tak yakin bahwa mereka yang hadir menembus angka ribuan, bahkan ratusan pun rasanya sudah cukup berdesakan. Meski dalam catatan sejarah kita tahu siapa-siapa saja yang hadir, tetapi tentu sejarah juga tak mencatat orang-orang yang bukan pemeran utama. Kenapa ini penting bagi saya? Karena saya juga pengin mengerti apakah mereka yang berkumpul sudah merepresentasikan <em>Indonesia</em> pada saat itu. Saya yakin pasti belum, sehingga saya pun berasumsi para <em>jong</em> itu adalah anak-anak muda yang memiliki inisiatif ‘<em>pribadi’</em>, bukan membawa amanah daerahnya yang ditunjukkan dengan keterwakilan sebuah wilayah. Lagi-lagi ini juga sebuah keberanian. Apalagi melihat jumlah, jelas hanya beberapa gelintir dari jumlah keseluruhan penduduk dari negeri yang mereka klaim kelak akan menjadi Indonesia itu.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Kini Indonesia yang beberapa dekade lalu adalah mimpi, telah menjadi kenyataan, dan yang lebih mengejutkan mungkin juga bagi mereka yang pernah memimpikannya, Indonesia adalah negara terbesar ke-empat di dunia. Menjadi negara besar mungkin tidak termasuk dalam perhitungan mereka, namun menjadi negara dengan identitas kultural yang menjadi pengikat warganya dan untuk mencintai negara dan bangsa-nya barangkali adalah keinginan mereka.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Mencermati apa yang terpikirkan hari ini, saya semakin menyadari bahwa Indonesia adalah konstruksi, bukan warisan yang sudah jadi. Mimpi besar itu adalah garis pandu yang seharusnya menggerakkan siapa saja yang menjadi bagian dari negeri ini berjalan dan menjadi. Indonesia adalah cita-cita yang harus terus diusahakan, sampai kapan. Mungkin sampai bumi tak lagi menjadi tempat yang bisa kita tinggali. M E R D E K A !</p>
<p>&nbsp;</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/205/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/205/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=205&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/09/menjadi-indonesia/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/indoku.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">indoku</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>PERISTIWA PENTING</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/04/peristiwa-penting/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/04/peristiwa-penting/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 04 Aug 2011 06:20:59 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=201</guid>
		<description><![CDATA[Tidak semua peristiwa yang kita alami, berkesan, atau memiliki arti dalam perjalanan kehidupan selanjutnya. Apa yang tidak berarti, ter-delete dengan sendirinya dari memori otak kita, sementara yang berarti dengan sendirinya ter-save. Otak kita bisa memilah mana yang harus disimpan dan mana yang harus dibuang. Ini kecerdasan alamiah, yang tak perlu dipelajari dengan metode metode ilmiah [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=201&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/peristiwa-penting.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-202" title="peristiwa penting" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/peristiwa-penting.jpg" alt="" width="180" height="120" /></a>Tidak semua peristiwa yang kita alami, berkesan, atau memiliki arti dalam perjalanan kehidupan selanjutnya. Apa yang tidak berarti, ter-delete dengan sendirinya dari memori otak kita, sementara yang berarti dengan sendirinya ter-save. Otak kita bisa memilah mana yang harus disimpan dan mana yang harus dibuang. Ini kecerdasan alamiah, yang tak perlu dipelajari dengan metode metode ilmiah yang njelimet, dan memusingkan. Otomatisasi ini tak membuat otak kita dipenuhi oleh sampah, dan tentu saja tak perlu membuat kita kehabisan ruang untuk menyimpan ‘file’.</p>
<p><span id="more-201"></span></p>
<p>Kecerdasan alamiah, membuat setiap peristiwa penting memiliki nilai sama; menyenangkan atau menyedihkan, membuat bahagia atau membuat duka, keberadaannya ter-save. Keduanya sama-sama bermakna. Suka dan benci, sama-sama tersimpan rapi. Untungnya kecerdasan alamiah itu tidak berdiri sendiri, ada sekian banyak lagi kecerdasan yang menyertainya. Membuat hidup tidak hanya hitam putih, tetapi berwarna dan tentu saja bermakna.</p>
<p>Apa yang tersimpan adalah data mentah, ada kecerdasan lain yang diperlukan untuk mengolah dan menginterpretasikannya. Bagaimana interpretasi atas data mentah itu, akan menghasilkan keputusan dan sikap kita. Menggambarkan bagaimana wajah kita, dan pada gilirannya akan menunjukkan bagaimana sebenarnya karakter atau kepribadian kita. Bagaimana kita menjalani hidup, dan seterusnya, dan seterusnya.</p>
<p>Memperlakukan data mentah yang tersimpan dalam ruang penyimpanan file di otak kita, membutuhkan ‘pisau’ analisa yang tepat. Nilai-nilai hidup yang selama ini kita yakini, wacana yang selama ini kita konsumsi, dan sekian banyak lagi pilihan ‘pisau’ yang kita pungut dari jalan sepanjang perjalanan hidup kita. Setiap hasil analisa dan kesimpulan yang kita buat, akan selalu mengandung konsekuensi. Terutama jika kita sudah memutuskan pada satu bentuk pilihan. Namun suka tidak suka, kita musti memilih, bahkan ketika pilihan kita pun adalah untuk tidak memilih.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/201/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/201/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=201&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/08/04/peristiwa-penting/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/08/peristiwa-penting.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">peristiwa penting</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Berhenti Sejenak</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/06/16/berhenti-sejenak/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/06/16/berhenti-sejenak/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 16 Jun 2011 03:55:03 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=198</guid>
		<description><![CDATA[Saat semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan, langkah jadi enteng, semangat terpacu dan mimpi yang ada di kepala serasa sudah ada di depan mata. Sayangnya itu tak selalu terjadi, ada saja interupsi yang menghentikan langkah. Optimisme yang selama ini menjadi pandu, ada kalanya menjadi remang-remang. Gairah yang membuat segalanya seakan berjalan mudah, mulai kehilangan pesonanya. [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=198&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/06/interupsi.jpg"><img class="alignleft size-full wp-image-199" title="interupsi" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/06/interupsi.jpg" alt="" width="300" height="164" /></a>Saat semuanya berjalan seperti apa yang direncanakan, langkah jadi enteng, semangat terpacu dan mimpi yang ada di kepala serasa sudah ada di depan mata. Sayangnya itu tak selalu terjadi, ada saja interupsi yang menghentikan langkah. Optimisme yang selama ini menjadi pandu, ada kalanya menjadi remang-remang. Gairah yang membuat segalanya seakan berjalan mudah, mulai kehilangan pesonanya. Berhenti, itu yang biasanya dilakukan.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Memulai kembali bukan perkara mudah, saya membutuhkan waktu cukup panjang untuk menempatkan segala yang sudah saya rencanakan pada treknya. Itu pun tak selalu berjalan mulus, pesimisme menjadi penghambat utama. Atau bahkan saya tak lagi peduli pada apa yang semula saya rencanakan, pindah haluan itu menjadi alternatif solusi agar saya bisa lagi kembali membangun gairah. Tetapi sekali lagi, tak ada jaminan bahwa rencana baru itu tak akan terinterupsi.</p>
<p><span id="more-198"></span></p>
<p>Tahun ini saya merencanakan menyelesaikan naskah novel yang selama ini beberapa kali tertunda. Saya mendesain persiapannya sejak awal, baru berjalan beberapa hari, segalanya lalu berantakan. Tugas keluar kotalah, sakitlah, tiba-tiba ada bagian rumah yang rusak dan harus ada waktu untuk membereskannya dan lagi-dan lagi. Ada banyak hal dalam hidup ini yang tak mampu saya kendalikan, dan saya belum terlatih untuk tetap pada trek jika semua itu terjadi. Saya mulai berpikir, apakah saya akan berhasil?</p>
<p>Keberhasilan membutuhkan konsistensi, sementara interupsi berhasil membuat saya menjadi pribadi yang tidak konsisten. Dari beberapa saran, yang tentunya hasil dari apa yang saya baca dari pengalaman orang lain, saya mesti belajar, mungkin bagi saya belajar sangat keras untuk konsisten alias fokus. Tidak hanya itu saya harus menyadari bahwa interupsi itu akan selamanya ada, bukan menghindarinya namun menyelesaikannya. Bagaimana caranya,…ada saran?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/198/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/198/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=198&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2011/06/16/berhenti-sejenak/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2011/06/interupsi.jpg" medium="image">
			<media:title type="html">interupsi</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>APAKAH KELUARGA MENJADI FOKUS KARIER ANDA?</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/12/02/apakah-keluarga-menjadi-fokus-karier-anda/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/12/02/apakah-keluarga-menjadi-fokus-karier-anda/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 02 Dec 2010 06:25:22 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>
		<category><![CDATA[fokus karier]]></category>
		<category><![CDATA[pendidikan keluarga]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=194</guid>
		<description><![CDATA[Saat membicarakan karier, apa yang Anda pikirkan tentang keluarga? Dimana posisinya, bagaimana perannya? Bagi saya ini penting untuk kembali dibicarakan, sebagai guru di kota besar, saya banyak menemui paradok-paradok dalam dunia kerja. Baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh para siswa yang saya ajar. Dari pengalaman ini saya bahkan berani menyimpulkan bahwa persoalan [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=194&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/12/keluarga.gif"><img class="alignleft size-medium wp-image-195" title="keluarga" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/12/keluarga.gif?w=300&#038;h=300" alt="" width="300" height="300" /></a>Saat membicarakan karier, apa yang Anda pikirkan tentang keluarga? Dimana posisinya, bagaimana perannya? Bagi saya ini penting untuk kembali dibicarakan, sebagai guru di kota besar, saya banyak menemui paradok-paradok dalam dunia kerja. Baik yang saya alami sendiri maupun yang dialami oleh para siswa yang saya ajar. Dari pengalaman ini saya bahkan berani menyimpulkan bahwa persoalan di negeri ini bisa diurai dari lingkup terkecilnya; keluarga.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Di Jakarta, banyak sekali pekerja yang berangkat sebelum matahari terbit dan kembali ke rumah setelah matahari lama terbenam. Rumah yang idealnya menjadi tempat bagi keluarga untuk membangun sosialisasi hanya menjadi tempat untuk tidur, persinggahan sementara. Interaksi keluarga tersambung melalui fasilitas teknologi, dan itupun sebatas mengerti di mana posisi masing-masing, seringkali tak lebih. Tak ada dialog antara anak dan orang tua bahkan kelelahan menjadi pembuka pembicaraan suami dan isteri. Sabtu dan Minggu menjadi waktu yang diagendakan menjadi waktu keluarga, itupun masih dengan catatan tak ada tugas yang harus diselesaikan lagi.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><span id="more-194"></span></p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;"><strong>Paradoks pertama</strong> saya temui pada situasi di atas, pada awalnya seseorang bekerja adalah demi kesejahteraan, sejahtera jasmani maupun rohani. Namun kenyataannya kerja menjadi segala-galanya, bahkan tujuan dari nilai dasar dimana pekerjaan itu digagas diingkari kalau kita tak ingin menyebutnya sebagai dihianati. Bukan kesejahteraan yang lagi mengemuka dalam ritme pekerjaan namun lebih pada seberapa pekerjaan yang sudah Anda selesaikan. Tak ada waktu untuk diri sendiri terlebih untuk orang lain saat semuanya belum sampai target. Tak ada alasan apapun yang dapat dijadikan pembenar jika memang waktu untuk pekerjaan telah dijadwalkan. Anda tak lagi seutuhnya memiliki integritas terhadap diri Anda.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Setiap hari Anda meninggalkan keluarga, bergegas menuju ke tempat dimana pundi-pundi ’<em>kesejahteraan</em>’ tersedia. Sambil berujar kita sering berdalih bahwa ini semua dilakukan demi mereka; keluarga kita. Anak sakit, kalau hanya panas tak bisa dijadikan alasan untuk menghentikan langkah Anda. Meski barangkali panasnya karena ingin kita temenin atau sekedar mengajaknya bicara. Tetapi semua itu lagi-lagi tak kita pedulikan, bahkan kalau mereka mengungkapkan keinginannya itu, mungkin kita tertawakan. <strong>Paradok yang kedua</strong> kembali saya temukan, keluarga menjadi alasan pembenar aktifitas kita agar mereka bahagia. Tetapi kebutuhan kebahagiaan yang paling sederhana pun tak mampu Anda berikan!</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Kemana Anda mempercayakan pendidikan dini putra-putri Anda? Dalam banyak literatur psikologi saya membaca bahwa usia emas adalah masa batita dan balita, itulah saatnya Anda menanamkan nilai-nilai keluarga. Coba kita iseng-iseng menghitung berapa waktu kita untuk mereka, dan siapa yang paling banyak menjadi teman mereka. Anda benar, pengasuhlah yang menempati porsi terbesar ’<em>mendidik’</em> Anak Anda. Apakah mereka sudah cukup bekal untuk memberi penanaman nilai-nilai keluarga pada generasi Anda? Atau barangkali nama lengkap dan nama orangtuanya pun sebenarnya Anda tidak tahu, dan pada orang asing seperti itukah Anda sepenuhnya menaruh kepercayaan pada masa depan Anda? (<em>masa depan anak Anda adalah masa depan Anda juga bukan!</em>). Ini adalah <strong>paradok ketiga</strong> yang saya temukan.</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">&nbsp;</p>
<p class="MsoNormal" style="text-align:justify;">Anda mengerti banyak pengetahuan tentang arti pentingnya keluarga. Namun dimana Anda meletakkan keluarga dalam perkembangan karier Anda? Apakah keluarga menjadi fokus dalam pencapaian Anda? Atau fokus yang selama ini justru Anda khianati?</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/194/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/194/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=194&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/12/02/apakah-keluarga-menjadi-fokus-karier-anda/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/12/keluarga.gif?w=300" medium="image">
			<media:title type="html">keluarga</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Menjadi guru; Sebuah Pilihan ?</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/09/menjadi-guru-sebuah-pilihan/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/09/menjadi-guru-sebuah-pilihan/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Nov 2010 02:02:23 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=188</guid>
		<description><![CDATA[Dulu ketika aku kecil dan baru duduk di bangku SD saat guruku bertanya; “anak-anak cita-cita kalian kelak menjadi apa?” Hampir separuh dari isi kelas menjawab ingin menjadi guru. Apalagi di kalangan siswa cewek, kebanyakan memfavoritkan cita-cita tersebut. &#160; Namun ketika seragam sudah berganti banyak yang kemudian merevisi cita-cita SDnya, bahkan ketika aku sudah duduk di [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=188&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><a href="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/11/teacher-confuse.png"><img class="alignleft size-full wp-image-189" title="teacher-confuse" src="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/11/teacher-confuse.png" alt="" width="200" height="184" /></a></p>
<p>Dulu ketika aku kecil dan baru duduk di bangku SD saat guruku bertanya; “anak-anak cita-cita kalian kelak menjadi apa?” Hampir separuh dari isi kelas menjawab ingin menjadi guru. Apalagi di kalangan siswa cewek, kebanyakan memfavoritkan cita-cita tersebut.</p>
<p>&nbsp;</p>
<p>Namun ketika seragam sudah berganti banyak yang kemudian merevisi cita-cita SDnya, bahkan ketika aku sudah duduk di bangku SMA cita-cita sebagai guru nyaris tak terdengar. Apalagi saat-saat aku sudah duduk di bangku kuliah, bahkan seseorang yang jelas-jelas sudah mengambil jurusan FKIP ataupun IKIP terang-terangan tak ingin menjadi guru. Diperparah lagi krisis identitas itu tidak hanya menyerang para calon guru tetapi juga institusi para calon guru. Lihat saja nyaris semua IKIP mereformasi dirinya menjadi Universitas yang tak melulu melahirkan seorang guru. Muncul pertanyaan, sebenarnya ada apa dengan profesi yang satu ini?</p>
<p>Profesi guru di mata teman-temanku dan juga aku dalam hati kecilku merupakan profesi yang tidak elit. Mulia, jelas kamipun tak bisa menyangkal tetapi sayang ‘murahan’, artinya banyak yang dibayar murah atau bahkan banyak yang melakukannya karena memang tak punya pilihan. Dalam sulitnya mencari pekerjaan, ya sudahlah mengajarpun jadi. Kalau sudah begitu tentu bukan pada tempatnya menanyakan kompetensi.<br />
Jika Anda bertanya dari sekian banyak mahasiswa yang belajar di sekolah para calon guru alias FKIP atau IKIP, berapa persen yang dengan tegas menjawab jurusan tersebut merupakan pilihan pertama? Saya yakin pasti tak banyak, apalagi Anda bertanya nanti Anda mau mengajar di mana, wah pasti jawabannya macam-macam yang lagi-lagi tak menyinggung institusi sekolah. Aneh memang, tetapi nyata.<br />
Bagaimana mungkin profesi yang selalu disanjung mengalami sedemikian krisis, dan selalu dicoba dihindari namun ajaibnya banyak yang terdampar dan berkecimpung di bidang ini. Inilah keajaiban itu!<br />
Saya juga adalah seorang guru dalam pengertian yang sesungguhnya, mengajar mata pelajaran di sebuah sekolah. Menemukan jalan dan kemudian mantap menekuni profesi ini, bukanlah pergumulan sesaat melainkan pergumulan yang cukup panjang dan boleh dibilang melelahkan.<br />
Awalnya aku memang mengalami kebimbangan saat tahu kemana arah pendidikan yang sedang kutempuh itu bermuara. Tercatat sebagai mahasiswa Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan jelas visi dan misi lembaga ini diarahkan bagi terciptanya pengajar-pengajar yang mumpuni di bidangnya. Tetapi di sisi yang lain waktu itu aku menganggap tak ada pilihan lain, entahlah aku yang sengaja menjerembabkan diri atau terjerembab oleh keadaan. Sepertinya keduanya memiliki benang merah.<br />
Tak ingin berlama-lama dalam kebimbangan aku mencari dan terus mencari hal-hal yang bisa kubanggakan dari apa yang kutempuh dan profesiku di kemudian hari itu. Satu demi satu pazzel kebanggaan itu kurangkai, dan hasilnya kini sedang kunikmati. Menjadi guru dan bangga atas profesi itu. Sungguh sebuah proses dengan akhir yang manis.</p>
<p><a href="http://jelasguru.blogspot.com/2009/09/menjadi-guru-pilihan-dalam-kebimbangan.html"> </a></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/188/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/188/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=188&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/09/menjadi-guru-sebuah-pilihan/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>

		<media:content url="http://aeknaetek.files.wordpress.com/2010/11/teacher-confuse.png" medium="image">
			<media:title type="html">teacher-confuse</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>Indonesia berawal dari Mimpi</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/02/indonesia-berawal-dari-mimpi/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/02/indonesia-berawal-dari-mimpi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 02 Nov 2010 08:44:30 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Opini]]></category>
		<category><![CDATA[Pencerahan]]></category>
		<category><![CDATA[Renungan]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=181</guid>
		<description><![CDATA[Pidato Sumpah Pemuda Slamat pagi &#8230;.. Hari ini, merupakan hari bersejarah dalam perjalanan negeri ini menjadi sebuah bangsa. Suatu gagasan besar tentang sebuah peradaban yang bernama Indonesia. Berawal dari keberanian bermimpi anak-anak negeri Jawa, Ambon, Sulawesi, Sumatera dan lainnya akan terbentuknya sebuah bangsa. Bangsa yang mereka sendiripun belum pernah melihat sebelumnya, sebuah bangsa yang menjadi [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=181&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Pidato Sumpah Pemuda</p>
<p>Slamat pagi &#8230;..</p>
<p>Hari ini, merupakan hari bersejarah dalam perjalanan negeri ini menjadi sebuah bangsa. Suatu gagasan besar tentang sebuah peradaban yang bernama Indonesia. Berawal dari keberanian bermimpi anak-anak negeri Jawa, Ambon, Sulawesi, Sumatera dan lainnya akan terbentuknya sebuah bangsa. Bangsa yang mereka sendiripun belum pernah melihat sebelumnya, sebuah bangsa yang menjadi tempat bagi siapapun  yang sepakat menjadi bagiannya, tak peduli apa pun yang menjadi latar belakang budayanya.</p>
<p>Keberanian mimpi mereka tidak berhenti sampai di sana, mereka juga memimpikan entitas budaya yang menjadi symbol keberadaan bangsa tersebut, dan mereka sepakat salah satunya adalah dengan menciptakan bahasa Indonesia. Sebagai symbol budaya baru bahasa ini diciptakan, diserap dari berbagai budaya, dilebur menjadi identitas pemersatu. Bukan hal mudah menciptakan sebuah bahasa baru, terlebih mereka adalah anak-anak muda yang usianya baru menginjak dua puluh tahun. Terlebih ini terjadi di abad 20 yang segalanya sudah relative mapan, namun itu yang terjadi. Mereka tidak bergantung pada warisan.</p>
<p>Keberaniaan mereka bermimpi menjadi inspirasi bagi generasi-generasi berikutnya, Indonesia yang merupakan mimpi menjadi kenyataan pada 17 Agustus 1945. Momentum 28 Oktober 1928 tidak hanya dikenang, namun merupakan roh bagi kelahiran sebuah negeri yang bernama Indonesia. Indonesia bukan hadiah, bukan kebetulan namun hasil upaya serius segala komponen untuk mewujudkan apa yang pernah mereka impikan.</p>
<p>Hari ini mimpi Indonesia itu kembali kita peringati, kita kenang dan kita maknai. Pertanyaannya adalah apakah mimpi besar tentang Indonesia itu juga menjadi bagian dari apa yang kita impikan? Sebagai sebuah peradaban baru bagi beragam bangsa, bermartabat dalam percaturan internasional dengan satu bentuk identitas yang khas, Indonesia. Atau justru kita ingin membuang jauh-jauh mimpi itu, karena kita adalah pengecut yang takut pada mimpi-mimpi mereka, terlalu berat untuk diwujudkan. Bukankah menjadi bagian dari peradaban yang sudah mapan itu lebih gampanng, ketimbang membangun peradaban yang bernama Indonesia yang masih dalam tahap percobaan? Dan kita pun lebih suka menjadi pengekor dari apa yang telah menjadi identitas bangsa lain. Itu adalah pilihan!! Apa yang menjadi pilihan kita hari ini menjadi bagian dari bagaimana sejarah Indonesia kelak.</p>
<p>Hari ini kita adalah bagian dari &#8230;., sekolah yang menjatuhkan pilihan pada upaya melanjutkan dan mewujudkan mimpi tentang Indonesia. Membangun kebanggaan pada identitas Indonesia yang meski dalam banyak hal belum terwujud, namun justru disitulah letak sisi pentingnya. Siapapun kita berpeluang berkontribusi bagi penciptaan nilai-nilai ke Indonesiaan. Diawali dari hal-hal yang memang mungkin dapat kita lakukan, hal itu akan membawa kita pada pengenalan yang lebih mendalam tentang negeri ini. Dan pada gilirannya nanti paripurnalah kecintaan kita pada negeri seribu pulau ini.</p>
<p><em>Tulisan ini adalah teks pidato yang kubuat untuk memperingati Sumpah Pemuda yang lalu.</em></p>
<p><em><br />
</em></p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/181/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/181/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=181&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/11/02/indonesia-berawal-dari-mimpi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>
	</item>
		<item>
		<title>TERORISME</title>
		<link>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/10/22/terorisme/</link>
		<comments>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/10/22/terorisme/#comments</comments>
		<pubDate>Fri, 22 Oct 2010 02:51:19 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Deliawan Julius</dc:creator>
				<category><![CDATA[Uncategorized]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://aeknaetek.wordpress.com/?p=179</guid>
		<description><![CDATA[Hidup di negeri ini sepertinya harus berjuang menaklukkan rasa takut, terror ada di mana-mana. Mulai dari bangun tidur, menjalani aktifitas hingga tidur lagi, hampir semuanya mengandung resiko. Resikonya terlalu nyata, ini bukan phobia yang sifatnya pribadi, namun dari apa yang selama ini memang terjadi. Setidaknya inilah daftar hal-hal yang mengancam itu ; 1. Saat Anda [...]<img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=179&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Hidup di negeri ini sepertinya harus berjuang menaklukkan rasa takut, terror ada di mana-mana. Mulai dari bangun tidur, menjalani aktifitas hingga tidur lagi, hampir semuanya mengandung resiko. Resikonya terlalu nyata, ini bukan phobia yang sifatnya pribadi, namun dari apa yang selama ini memang terjadi. Setidaknya inilah daftar hal-hal yang mengancam itu ;</p>
<p>1.	Saat Anda tidur, apakah Anda cukup yakin kalau listrik di rumah Anda sudah terpasang dengan benar. Apakah petugas listrik sudah melakukan tugasnya dengan baik sehingga tak menyebabkan arus pendek? Nyaris tiap hari kita mendengar berita kebakaran, dan penyebabnya adalah arus pendek.</p>
<p>2.	Bangun tidur hendak sarapan, apakah Anda yakin kompor Anda tak meledak saat dinyalakan untuk mempersiapkan makanan pagi ini? Bom rumah tangga ini kini begitu gampang terjadi, belum ada yang bertanggungjawab dan penyelesaian komprehensif, artinya kita belum aman bukan?</p>
<p>3.	Berangkat kerja, Anda naik apa? Motor ; ini adalah kendaraan pembunuh nomer satu di negeri ini, tak ada jalur khusus untuk Anda, tak ada jaminan pasca kecelakaan Anda di rawat intensif di RS terdekat. Kendaraan  umum; tak ada jaminan supir tidak ugal-ugalan, bus terawat dengan benar atau laik jalan, tetap membahayakan bukan? Jalan kaki ; ini lebih menyakitkan, Anda tak punya tempat nyaman untuk melenggang, jalur Anda telah diserobot pedagang kaki lima, di jalur lain tak ada jaminan Anda tak di seruduk angkot. Nasib Anda benar-benar sial. Mobil pribadi ; Anda memang nyaman, namun tak Ada jaminan jalan layang yang Anda lalui tak bergeser dan rubuh. Kalaupun itu tak terjadi, Anda belum tentu aman saat ada di perempatan, kapak merah bisa saja menakuti Anda karena ingin mencongkel spion, atau pengamen yang menggores mobil kesayangan Anda.</p>
<p>4.	Di tempat kerja, mungkin bukan fisik Anda yang terancam tetapi psikologis. Ada jaminan tidak Anda tak di PHK, Anda terdaftar JAMSOSTEK atau tidak. Jika mungkin itu tak terjadi, bukan berarti Anda nyaman, bagaimana dengan ajakan teman untuk nilep sebagian uang proyek. Anda menolak, bukan berarti Anda tak lantas jadi orang yang dikorbankan.</p>
<p>5.	Pulang kerja, ancaman Anda belum selesai, rumah Anda belum tentu aman. Mungkin saja Anda akan didatangi deb colector yang salah alamat tetapi terlanjur berbuat kasar. Atau Anda tiba-tiba didatangi oleh tim eksekusi dari pengadilan yang mau mengeksekusi rumah Anda, jadilah Anda korban sengketa antara pengembang perumahan Anda dengan ahli waris. Anda tak berperkara, bukan berarti Anda aman dari perkara bukan?</p>
<p>Ini mungkin hanya sebagian kecil dari apa yang bisa saja menimpa Anda? Masih ada banyak daftar lain&#8230;&#8230;silahkan Anda menambahkannya sendiri.</p>
<br />  <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gocomments/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/comments/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godelicious/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/delicious/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gofacebook/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/facebook/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gotwitter/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/twitter/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/gostumble/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/stumble/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/godigg/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/digg/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <a rel="nofollow" href="http://feeds.wordpress.com/1.0/goreddit/aeknaetek.wordpress.com/179/"><img alt="" border="0" src="http://feeds.wordpress.com/1.0/reddit/aeknaetek.wordpress.com/179/" /></a> <img alt="" border="0" src="http://stats.wordpress.com/b.gif?host=aeknaetek.wordpress.com&amp;blog=2842592&amp;post=179&amp;subd=aeknaetek&amp;ref=&amp;feed=1" width="1" height="1" />]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://aeknaetek.wordpress.com/2010/10/22/terorisme/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>0</slash:comments>
	
		<media:content url="http://0.gravatar.com/avatar/24f5ee8c7cbdbbe0ab6ba099c2a29de1?s=96&#38;d=identicon&#38;r=G" medium="image">
			<media:title type="html">Julius</media:title>
		</media:content>
	</item>
	</channel>
</rss>
